Mohon tunggu...
Ester Lianawati
Ester Lianawati Mohon Tunggu... Psikolog

#karena ada serigala betina dalam diri setiap perempuan#

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Memeluk Luka-luka Masa Lalu

3 Mei 2020   17:04 Diperbarui: 4 Mei 2020   19:55 224 8 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memeluk Luka-luka Masa Lalu
Dokumentasi pribadi

Di antara sejumlah pasangan yang sedang dalam konflik yang saya temui, sebagian di antaranya memiliki persoalan yang lebih "dalam" dari yang semula mereka duga. Lebih "dalam" karena ternyata saat berkonsultasi itulah, baru terungkap bahwa entah istri entah suami  menyimpan masa lalu yang kelam. Selama ini mereka sembunyikan, berusaha mereka tekan dan lupakan. 

Mereka pernah menjadi korban pelecehan dan atau kekerasan seksual pada masa kanak-kanak, dalam durasi bulanan hingga tahunan. Pelaku adalah orang-orang terdekat atau yang dikenal baik keluarga: ayah, paman, sepupu, kakak, sahabat orangtua. 

Awalnya suami/istri datang dengan keluhan bahwa pasangan cenderung berorientasi pada diri sendiri. Mereka kurang perhatian, cenderung mementingkan diri sendiri, dan kurang ada kelembutan meski tidak melakukan tindakan agresif secara fisik. 

Mereka juga menggambarkan pasangan sebagai kurang peka, kurang peduli pada kebutuhan dan perasaan pasangan. Bahkan meskipun pasangan sudah berbicara atau bercerita tentang apa yang ia alami, rasakan, dan butuhkan. 

Sikap yang juga dominan adalah sangat mudah tersinggung. Sikap ini digambarkan pasangannya sebagai perpaduan antara narsisme dan paranoid dengan ciri-ciri sbb: merasa dirinya yang paling benar, orang lain selalu dituduh menyerangnya, hendak menyakitinya atau sengaja membuatnya kesal. 

Suami/istri yang menemui saya menyebutnya sebagai bentuk narsisme. Belakangan saya memahami bahwa itu adalah bentuk palsu dari cinta diri. Ia hanya memproteksi diri, bukan mencintai diri. 

Penghayatan anak akan pelecehan/kekerasan yang terjadi
Anak, dalam keterbatasannya, tidak dapat memahami sepenuhnya apa yang terjadi pada diri mereka ketika pelaku menyentuh tubuhnya. Sementara itu, perasaan mereka sendiri bercampur aduk. 

Di satu sisi mereka merasa tidak nyaman dan merasa bahwa tidak sepatutnya pelaku bertindak demikian. Mereka ingin pelaku menghentikan perbuatannya, namun tidak dapat berkata-kata dalam kebingungan mereka untuk mencerna apa yang tengah terjadi.

Di sisi lain, dalam kekerasan seksual yang dilakukan secara eksploitatif-manipulatif tetapi tidak bernuansa brutal, korban (anak) merasakan kenikmatan pada wilayah tubuh tertentu yang disentuh.

Freud telah mengingatkan kita bahwa manusia memiliki zona erotis yang sudah berkembang sejak bayi sekalipun. 

Ambivalensi berbagai perasaan ini akan menambah kebingungan pada diri anak. Kebingungan-kebingungan ini kelak akan memengaruhi pemaknaan anak akan tubuh dan seksualitasnya (lebih lanjut dapat dibaca pula seksualisasi traumatis dari Finkelhor dan Brown, 1985).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x