Mohon tunggu...
Ester Lianawati
Ester Lianawati Mohon Tunggu... Psikolog

#karena ada serigala betina dalam diri setiap perempuan#

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Pedofilia, Penyebab dan Penanganannya

4 Mei 2020   19:14 Diperbarui: 9 Mei 2020   02:34 350 12 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pedofilia, Penyebab dan Penanganannya
ilustrasi pedofilia. (sumber: KOMPAS/HANDINING)

Dalam tulisan sebelumnya, kita sudah mengenal beberapa jenis penyimpangan seksual. Salah satu penyimpangan seksual yang mungkin paling sering kita dengar adalah pedofilia. 

Sebelum adanya pandemi Covid-19, Prancis sebenarnya sedang dihebohkan oleh praktik pedofilia di kalangan intelektual budaya. Adalah Gabrielle Matzneff, penulis terkenal yang telah mendapatkan sejumlah penghargaan, dua di antaranya bahkan dari Academie française, sedang diselidiki untuk kasus-kasus pedofilia. 

Awalnya adalah Vanessa Springora, salah satu korban Matzneff menuliskan pengalamannya bersama Matzneff dalam bukunya Consentement (Persetujuan).  

Buku ini diterbitkan tahun 2019 lalu. Ia  mempertanyakan apa sebenarnya yang dimaksud dengan persetujuan dalam praktik-praktik pedofilia, ketika korbannya yang notabene adalah anak, belum dapat benar-benar memberikan persetujuan. 

Springora menceritakan bagaimana hubungannya dengan Matzneff saat ia masih berusia 14 tahun (pada awal tahun 1980-an) telah menimbulkan dampak psikologis berat dalam hidupnya. Ia mengalami depresi dan membutuhkan belasan tahun untuk pulih. Buku yang ditulisnya merupakan bagian dari proses pemulihan untuknya. 

Sebenarnya sejak tahun 1960-an, Matzneff dengan terbuka mengakui dan bahkan bangga akan preferensi seksualnya terhadap anak dan remaja. Ia memaparkan di buku-bukunya secara gamblang relasi seksual dan asmaranya dengan korban-korbannya ini.

Arsip-arsip lama, yang dibongkar kembali sejak kasus mencuat, memperlihatkan bagaimana pada tahun-tahun itu, praktik pedofilia Matzneff dianggap biasa, bahkan didukung, jika tidak bisa dibilang “dirayakan”. 

Sebuah video saat Matzneff diwawancara menunjukkan beberapa tokoh intelektual dan selebritas lain tertawa bersama ketika Matzneff bicara tentang kenikmatan bercinta dengan remaja-remaja. Hanya ada satu tokoh yang menentang Matzneff saat itu, tetapi justru diserang oleh tokoh-tokoh lainnya. 

Arsip-arsip lama juga membongkar tokoh-tokoh yang juga melakukan praktik pedofilia pada masa itu ataupun tokoh-tokoh yang mendukung. Artikel lama Françoise Dolto, dokter anak sekaligus psikoanalis ternama juga ikut populer kembali. 

Dalam artikel ini Dolto menyatakan bahwa anak bukan korban dalam kasus-kasus pelecehan/kekerasan seksual, tetapi mitra dari si pelaku. Membaca artikel lama psikoanalis yang sangat terkenal dan dihormati ini, yang namanya dijadikan nama sekolah-sekolah di Prancis, kita jadi kebingungan. Orang-orang pun hanya bisa bilang, ya itu Prancis di masa yang berbeda…  

Kembali kepada pedofilia, di bawah ini saya tuliskan penggalan artikel lama yang sudah pernah dimuat di majalah Intisari edisi April 2010 dengan judul Cegah Pedofilia Beraksi. 

Annie Sprat @unsplash.com
Annie Sprat @unsplash.com
Istilah pedofilia diambil dari bahasa Yunani kuno, dari kata pedos berarti anak, dan philia berarti hasrat, ketertarikan, atau cinta. Tampaknya lebih tepat mengartikan pedofilia sebagai hasrat/ketertarikan, bukan cinta, terhadap anak-anak, mengingat perbuatan pedofil sama sekali tidak mencerminkan cinta.

Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh psikiater Jerman-Austria, Richard von Krafft-Ebing, pada tahun 1896. Namun sejarah pedofilia dimulai jauh sebelum Krafft-Ebing membicarakannya.

Dalam mitologi Yunani dikisahkan mengenai Zeus yang tertarik dengan Ganymede, pangeran kerajaan Troy. Zeus menculik Ganymede, menjadikannya juru minum sekaligus kekasihnya.

Sejarah juga mencatat pada jaman Renaissance, pedofilia muncul dalam banyak karya seni. Michelangelo dan Benvenuto Cellini termasuk yang cukup sering menampilkan percintaan antara laki-laki dewasa dan anak laki-laki dalam patung dan lukisan mereka. Ada dugaan saat itu pedofilia memang jadi tren di kalangan seniman.

Pada awal abad 20, isu pedofilia berpindah dari kalangan seniman ke pendidik. Adalah Gustav Wyneken, guru pertama yang diadili akibat tindakan pedofilia yang ia lakukan terhadap muridnya. Bersama dengan pendidik lain yang juga pedofil, ia mengatasnamakan perbuatannya sebagai wujud pedagogical eros, yakni bahwa cinta erotis pria dewasa dibutuhkan untuk mendewasakan anak laki-laki.

Pandangan ini diambilnya dari kepercayaan masyarakat Melanesia di Pasifik bahwa menerima sperma pria dewasa melalui seks oral akan membentuk anak menjadi dewasa.

Selama berabad-abad, para pedofil tidak terjangkau oleh hukum. Baru ketika sebagian dari mereka membunuh korbannya, atau keluarga korban melaporkannya, kasus-kasus ini mulai menjadi perhatian masyarakat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x