Mohon tunggu...
Ester Lianawati
Ester Lianawati Mohon Tunggu... Psikolog

#karena ada serigala betina dalam diri setiap perempuan#

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Identitas yang Terkoyak

12 Mei 2020   05:27 Diperbarui: 13 Mei 2020   16:13 29 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Identitas yang Terkoyak
Ilustrasi : ITA MARTADINATA HARYONO (acrylic on 50x60cm canvas, 2016), aktivis HAM, korban pemerkosaan pada saat kerusuhan Mei 1998 dan tewas secara misterius pada Oktober 1998. Diambil dari Twitter Dewi Candraningrum@dcandraningrum.

Saya masih bisa memutar kembali peristiwa itu di benak saya. Suasana sepi mencekam di gang rumah saya. Tidak ada celoteh anak-anak yang biasa bermain di dekat rumah. Tidak ada suara langkah kaki tetangga yang biasa melewati depan rumah saya. Semua bersembunyi di dalam rumah masing-masing. 

Rasa takut mencekam saya, mendengar apa yang terjadi di luar sana. Berita demi berita yang kami dengar entah dari televisi atau radio atau teman yang menelepon semakin menambah kecemasan kami. Glodok terbakar, toko-toko orang Cina dijarah, dan yang semakin menggelisahkan saya: gadis-gadis Cina diperkosa. 

Saya masih bisa mendengar nafas berat ayah saya saat beliau mencoba untuk menenangkan kami, istri dan anak-anaknya. Raut wajah pucat ibu saya yang tampak jelas meski begitu putih bening kulitnya. Saya hanya diam, sebuah kesadaran menyentak saya saat itu: saya orang Cina.

Kami baru pindah ke perkampungan Cina di belakang Glodok dua tahun sebelum peristiwa berdarah Mei 1998 terjadi. Sebelumnya keluarga kami hidup berbaur di sebuah perkampungan yang masyarakatnya terdiri dari berbagai suku. Tidak ada yang mengingatkan kami tentang ke-cina-an kami. Sejak kecil saya bersahabat dengan teman-teman yang bukan Cina, demikian pula ayah dan ibu saya. 

Meski saya mengetahui bahwa saya berdarah Cina namun tidak pernah hal itu dipersoalkan. Akibatnya, identitas sebagai orang Cina, tidak saya rasakan menjadi bagian dari diri saya, dan tidak pernah menjadi suatu pembeda yang membangkitkan ketidaknyamanan. Sampai hari itu, sebuah peristiwa membawa pemahaman baru yang menggelisahkan saya. Identitas diri yang telah terbentuk tiba-tiba goyah. 

Hari itu untuk pertama kalinya saya punya kesadaran penuh: saya adalah gadis keturunan Cina. Sebuah identitas yang tidak hanya membuat saya merasa berbeda, merasa tidak nyaman, tapi juga membuat keselamatan saya terancam.

Tiba-tiba dalam keheningan yang mencekam itu, ayah saya terpikir untuk menuliskan di pintu rumah kami, "Rumah ini milik Muslim atau pribumi" seperti disarankan seorang sahabatnya. Namun kami berpikir tidak ada gunanya, toh kami tinggal di sebuah perkampungan Cina. Lagipula bukan keputusan mudah untuk menuliskannya meski dalam kondisi mendesak seperti itu. 

Itu bukan sekedar tulisan tanpa makna, tapi menyangkut masalah iman dan identitas, sungguh suatu pergumulan yang tidak mudah dalam suasana menekan seperti itu. Hari itu, bukan hanya kecemasan akan situasi menyeramkan yang melingkupi kami. Melainkan juga konflik batin mengenai iman dan identitas kebangsaan kami.

Mungkin kami masih bisa bernafas lega ketika hari-hari menegangkan itu berlalu, dan kami tidak menjadi korban. Rumah kami yang terletak jauh di dalam pasar tradisional, membebaskan kami dari keganasan massa. Namun saya harus merelakan kehilangan beberapa teman yang pindah ke luar negeri, tepatnya ke negara-negara yang mayoritas penduduknya berdarah Cina. 

Saya harus mendengarkan kisah-kisah teman yang keluarganya bangkrut karena toko dan atau rumahnya terbakar atau habis dijarah. Tidak sedikit pula di antara mereka yang mengalami stres berat, depresi, skizofrenia, bunuh diri, atau meninggal karena sakit-sakitan akibat stres. Meski tidak ada teman yang menjadi korban pemerkosaan, namun saya tahu banyak, bahkan terlalu banyak, gadis keturunan Cina yang mengalaminya. Dampaknya luar biasa mengubah hidup mereka dan keluarga, apalagi mereka yang sampai mengandung akibat pemerkosaan itu.

Perlahan, saya mulai menjalani hidup seperti biasa. Begitu pula dengan teman-teman lainnya. Perlahan mereka mulai bangkit, menata hidup ke depan, berusaha untuk tidak lagi melihat ke belakang. Namun kami sama-sama tahu, ada luka yang sulit sembuh, yang tidak hanya dirasakan oleh mereka yang menjadi korban, tapi juga yang tidak menjadi korban. Ada identitas yang terkoyak. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x