Mohon tunggu...
Ester Lianawati
Ester Lianawati Mohon Tunggu... Psikolog

Mencintai psikologi dan feminisme, menemukan diri dengan menulis dan berefleksi :)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

KDRT, Konflik atau Kekerasan?

19 Oktober 2018   22:19 Diperbarui: 19 Oktober 2018   22:45 0 5 4 Mohon Tunggu...
KDRT, Konflik atau Kekerasan?
Diambil dari www.infopresse.com

Kesigapan polisi dalam melayani pengaduan korban dan peningkatan jumlah kasus yang ditindaklanjuti merupakan kemajuan yang perlu dicatat dalam penanganan kasus-kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). 

Di sisi lain, rekonsiliasi korban dan pelaku masih menjadi pilihan utama penegak hukum. Korban masih rentan untuk balik diposisikan sebagai pelaku. Kecuali untuk kekerasan berat, pelaku masih cenderung lepas dari hukuman. 

Empat belas tahun sudah sejak Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) disahkan, mengapa masalah-masalah yang sama belum teratasi?

Serge Moscovici, bapak psikologi sosial Eropa mengusulkan untuk melihat persoalan-persoalan dalam masyarakat dengan menggunakan kerangka representasi sosial. Representasi sosial dapat diartikan sebagai imaji mental, gambaran dan kepercayaan-kepercayaan yang telah terinternalisasi dalam masyarakat. 

Menurut beliau, tiap individu dalam suatu masyarakat akan mengacu kepada representasi sosial yang sudah ada ketika berhadapan dengan ide yang masih asing sebelum akhirnya representasi baru akan lahir dalam masyarakat tersebut.  

Dalam proses pembentukan sebuah representasi baru, masyarakat akan mengacu kepada representasi-representasi lama yang sudah mengakar. Itu pula yang kita lakukan, kita memaknai KDRT dengan mengacu kepada konsep lama, khususnya dengan konflik rumah tangga, sebagai konsep terdekat dengan KDRT.

KDRT adalah konflik dalam rumah tangga dengan penggunaan kekerasan di dalamnya. Demikian kurang lebih pemaknaan masyarakat kita terhadap KDRT. Tampak bahwa KDRT tetap dimaknai sebagai konflik rumah tangga meski diberikan penekanan adanya unsur kekerasan di dalamnya. Di sini kita dapati representasi yang bersifat kait-mengkait (interlocked) antara KDRT, konsep baru, dengan konflik rumah tangga, konsep lama. Kita meletakkan konsep baru dalam kerangka konsep lama.

Representasi ini pada kelompok penegak hukum diperkuat oleh cukup banyaknya pengaduan yang masuk yang memang "hanya" berupa konflik-konflik rumah tangga. Menjadi pertanyaan, mengapa banyak yang melaporkan diri sebagai korban kekerasan sementara yang dialami  sekedar  konflik rumah tangga ?

Tercampur aduk

Tampaknya representasi yang kita miliki mengenai KDRT tidak hanya bersifat kait-mengkait melainkan juga tercampur aduk dengan konflik rumah tangga. Tidak hanya memandang KDRT sebagai konflik, kita juga menganggap konflik dalam rumah tangga sebagai kekerasan ketika ia menimbulkan penderitaan fisik atau psikis.

Ada dua masalah akibat pemahaman ini. Pertama, konflik dapat saja berakhir buruk dengan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai kekerasan fisik. Misalnya pertengkaran hebat yang terhenti dengan sebuah tamparan akibat hilangnya penguasaan diri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4