Ester Lianawati
Ester Lianawati Psikolog

Mencintai psikologi dan feminisme, menemukan diri dengan menulis dan berefleksi :)

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Mengenali Kondisi Ego, Langkah Pertama Menuju Hubungan yang Sehat

14 Oktober 2018   22:42 Diperbarui: 15 Oktober 2018   10:55 1753 11 3
Mengenali Kondisi Ego, Langkah Pertama Menuju Hubungan yang Sehat
ilustrasi: pixabay.com

Adakah di antara Anda yang pernah ingin meminta maaf kepada pasangan saat bertengkar namun yang keluar malah kembali kata-kata menyakitkan yang justru memperburuk keadaan? Atau di antara Anda, ada yang merasa terlalu banyak berkorban dalam hubungan Anda dengan pasangan? 

Anda lelah dan merasa tidak sanggup lagi mengatasi kekecewaan yang sudah bertumpuk? Atau Anda putus asa menghadapi anak Anda di usianya yang sudah seperempat abad tetapi masih saja Anda yang merapikan kamarnya, memunguti pakaian kotornya yang berserakan, dan membangunkannya di pagi hari agar tidak terlambat bekerja?

Atau mungkin di antara Anda ada yang merasa kecewa, marah dan tidak mengerti ketika anak dan menantu mengeluhkan sikap Anda yang terlalu ikut campur dalam rumah tangga mereka; dalam cara mereka mendidik anak-anak? Sementara itu Anda merasa hanya ingin berbaik hati; melakukannya untuk kebaikan anak, cucu atau menantu Anda?

Atau Anda sering berkonflik dengan teman atau rekan kerja?  Mereka mendapati Anda berlebihan dalam menjelaskan sesuatu yang tidak penting sementara maksud hati Anda hanya ingin berbagi informasi? Anda menerima banyak ketidakadilan entah dari atasan, dari teman kerja, semacam Anda menyelesaikan tugas-tugas yang sebenarnya tidak menjadi bagian pekerjaan Anda? Tetapi Anda tidak mampu menolak? 

Atau mungkin tidak satu pun dari hal di atas tetapi Anda pernah merasa jengkel dalam interaksi Anda dengan pasangan, orang tua, anak, teman atau atasan dll karena satu dan lain hal?

Menjalani sebuah hubungan, memahami orang lain, bahkan orang yang terdekat sekalipun memang tidak mudah. Kadang kita menyakiti pasangan, kadang kita membebani anak dan orang tua kita. 

Mungkin kita tidak bermaksud demikian, meski bisa jadi juga kita melakukannya dengan kesadaran. Kadang kita ingin berubah tetapi skenario yang sama sepertinya selalu berulang. 

Kadang kita melakukannya dengan maksud baik, sehingga kita justru tidak mengerti mengapa tindakan kita alih-alih menyenangkan orang lain malah justru mengganggu atau menjengkelkan mereka. Kadang justru kita yang menjadi "korban", kita yang disakiti, kita yang harus bersabar, melakukan kompromi, dan satu saat merasa bahwa kita sudah melakukannya terlalu banyak.

Kondisi Ego

Adalah Eric Berne, psikiater kelahiran Kanada, yang mengembangkan teori analisis transaksional (transactional analysis) untuk kemudian ia gunakan sebagai metode terapi. 

Terapis yang menerapkan metode ini akan membantu kliennya untuk mengenali kondisi egonya dalam berinteraksi dengan orang lain. Satuan interaksi kondisi ego antara dua pihak ini ia namakan sebagai transaksi. Transaksi-transaksi yang tidak tepat akibat penggunaan kondisi ego yang tidak sesuai dengan situasi dapat membawa kedua pihak pada hubungan yang tidak sehat.

Menurut Berne, tiap individu memiliki tiga kondisi ego (ego state) yang menggambarkan keberfungsian dari keadaan dirinya. Kondisi ego ini adalah Anak (Child), Orang tua (Parent), dan Dewasa (Adult).

Kondisi ego Anak dapat dibedakan antara Anak Adaptif, Anak Alami atau Spontan, dan Profesor Cilik. Anak Adaptif adalah kondisi ego kita ketika dihadapkan pada keinginan atau kebutuhan orang lain, yang dapat ditampilkan dengan menyesuaikan diri, patuh atau menurut, atau sebaliknya membantah atau melawan. Ketika kita mengatakan baiklah tanpa bertanya lebih lanjut, ketika kita mematuhi rambu lalu lintas, kita dalam kondisi ego Anak Adaptif Patuh. 

Kita menampilkan kondisi ego Anak Adaptif Pemberontak ketika kita menentang, menyatakan tidak setuju. Anak Alami atau Spontan (selanjutnya akan saya tulis sebagai Anak Spontan) adalah kondisi ego penuh spontanitas, seperti mengatakan saya senang minum kopi susu, saya tidak suka film drama. 

Kita juga dalam kondisi ego Anak Spontan ketika menangis, merajuk, tersenyum senang, tertawa terbahak-bahak, takut, cemas. Kondisi ego Profesor Cilik menampilkan aspek intuisi, keingintahuan, rasa penasaran, keinginan mencoba. Contohnya ketika kita berani mengambil risiko, "Yuk kita coba saja."

Ego kita dalam kondisi Orang tua jika kita menampilkan karakteristik orang tua yang mengasuh (nurturing, akan kita namakan Orang tua Pengasuh) ataupun mengatur, memberi norma atau batasan (disebut juga Orang tua Normatif atau Orang tua Pengontrol).

Sifat mengasuh muncul dalam memuji, menenangkan, membimbing, membantu, merawat, memberi semangat. Contohnya, "Ya sudah yang sabar ya. Atau, "Jangan khawatir, semua ada jalan keluarnya." "Kamu bisa mengandalkan saya." 

Seorang istri atau suami yang menyiapkan wedang jahe untuk pasangannya yang sedang terkena flu juga menampilkan kondisi ego Orang tua Pengasuh. Orang tua Pengasuh cenderung memikirkan kepentingan atau kebutuhan orang lain.

Sifat mengatur dapat berupa tidak menyetujui suatu perilaku, menemukan kesalahan orang lain, ataupun berprasangka. Dapat pula dengan memberikan norma, aturan maupun batas. "Lihat kiri kanan jika menyeberang jalan, jangan bicara kalau sedang makan, jangan tidur terlalu malam, jangan main dengan si A." "Kamu harus begini, harus begitu." "Kamu tidak boleh begini, tidak boleh begitu." 

Ini adalah kalimat-kalimat khas dari Orang tua Normatif. Dapat pula tampil sebagai Orang tua Pengeritik, contohnya, "Kamu kalau jalan pakai mata dong.", "Kamu ini bodoh sekali, begitu saja tidak bisa."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3