Mohon tunggu...
Evi Siregar
Evi Siregar Mohon Tunggu... Dosen - Dosen-peneliti

Bekerja di sebuah universitas negeri di Mexico City.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kisah Inspiratif Pekerja Migran Indonesia, Para Pahlawan Devisa

30 September 2021   06:19 Diperbarui: 1 Oktober 2021   09:25 915
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
PMI berbagi untuk sesama di Indonesia dan di Hong Kong. Foto: Nathalia Widjaja

Mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi untuk bisa memenuhi segala kebutuhan hidup keluarga (dan memberikan penghidupan yang lebih baik kepada mereka) adalah harapan yang selalu ingin dicapai oleh setiap pekerja migran. 

Atas dasar harapan itulah, mereka rela pergi meninggalkan anak-anak mereka, berbulan-bulan, ke satu tempat yang tak pernah mereka ketahui bagaimana masyarakatnya, budayanya, iklimnya, kebijakan pemerintahnya, bahkan tidak pernah tahu dengan siapa mereka akan bekerja. 

Apakah mereka akan mendapat majikan yang baik? Akan adakah orang yang bersedia menolong mereka, jika mereka membutuhkan pertolongan? Bisakah mereka berkomunikasi dengan baik untuk menyampaikan ide dan perasaan mereka?

Tinggal di negeri orang bukanlah suatu hal yang mudah bagi siapapun. Apalagi, jika ditambah dengan beban meninggalkan anak-anak nun jauh di sana. Apakah anak-anak mereka selalu aman? 

Apakah mereka selalu sehat? Apakah mereka lancar bersekolah? Apakah mereka dapat menerima kiriman uang dengan baik untuk memenuhi segala kebutuhan mereka?

Dalam satu dialog interaktif yang diselenggarakan Indonesian Diaspora Network Global tentang kisah inspiratif para pekerja migran Indonesia (PMI), Sri Kunahari, seorang PMI di Singapura, menceritakan pengalamannya.

Sri Kunahari bekerja di Singapura sejak tahun 1997. Pada waktu itu anaknya masih berumur di bawah dua tahun. Keputusan bekerja di Singapura terpaksa diambilnya karena suaminya meninggalkannya, sementara ia sedang hamil tiga bulan. Ia ingin memberikan kehidupan yang terbaik untuk masa depan anaknya.

Dua tahun pertama bekerja di Singapura adalah masa yang sangat sulit bagi Sri. Tidak ada hari libur, tidak boleh memegang hp, serta tidak diberi istirahat dan makan yang cukup. 

Pada tahun 2005 ia memberanikan diri meminta istirahat dan makan yang cukup kepada majikannya. Namun, sebagai jawabannya, kontrak diputus dan pada hari itu juga ia dipulangkan. Dua minggu kemudian, Sri kembali ke Singapura dan bekerja pada keluarga lain.

Sri menjelaskan bahwa menjadi orangtua tunggal dan harus mengasuh serta mendidik anak jarak jauh itu sulit dan penuh tantangan. Komunikasi dengan anak hanya bisa dilakukan melalui hp. Lewat hp itulah, ia juga bisa berkomunikasi dengan guru-guru anaknya.

"Saya beruntung, majikan saya memperbolehkan saya menggunakan hp. Banyak PMI yang tidak diijinkan menggunakan hp, padahal memiliki alat komunikasi untuk bisa menghubungi keluarga yang ditinggalkan adalah hak dasar pekerja migran," ungkap Sri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun