Mohon tunggu...
Said Mustafa Husin
Said Mustafa Husin Mohon Tunggu... Wiraswasta

Freelance, pemerhati kebijakan dan wacana sosial, penulis profil tokoh dan daerah, environmental activists.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Graffiti di Balik Aksi Penembakan Muslim di Mesjid Al Noor Selandia Baru

16 Maret 2019   12:14 Diperbarui: 17 Maret 2019   10:08 0 2 0 Mohon Tunggu...
Graffiti di Balik Aksi Penembakan Muslim di Mesjid Al Noor Selandia Baru
Sejumlah saksi mata menceritakan pengalaman menegangkan mereka ketika menyaksikan langsung penembakan di salah satu masjid di Selandia Baru, pada Jumat (15/3). (CNN Indonesia/AP Photo/Mark Baker)

Aksi sadis dan brutal yang dilakukan seorang lelaki berusia 28 tahun, Brenton Tarrant, terhadap ratusan jemaah Mesjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (25/3/2019), benar-benar membuat dunia berduka. Jemaah yang akan menjalankan ibadah sholat Jumat itu bergeletakan tewas di atas genangan darah. Terakhir dilaporkan 49 korban tewas dan puluhan korban luka.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern sangat mengutuk aksi ini. Polisi pun menelusuri rekam jejak Brenton Tarrant. Sejumlah simbol dan graffiti yang tertulis di senjatanya jadi rujukan untuk memburu motivasi pembunuhan ini. Bahkan jejak digital Brenton Tarrant di media sosial juga ikut ditelusuri. Konon dalam foto-foto dari akun twitter Brenton Tarrant yang kini dihapus, ada graffiti bertuliskan  "Wina 1683".

Grafiti bertuliskan "Wina 1683" inilah yang diterjemahkan sebagai simbol supremasi kulit putih. Graffiti "Wina 1683" merujuk pada pertempuran dalam perang Wina -- Ottoman yang berkecamuk September 1683. Saat itu, Kekaisaran Ottoman yang berjaya di kawasan itu telah mengepung Wina ibu kota Austria selama dua bulan. Kemenangan diyakini akan jatuh ke tangan Kekaisaran Ottoman.

Dalam tekanan Ottoman yang begitu menakutkan, Wina yang mulai terkulai tak berdaya tinggal menunggu waktu untuk menyerah. Ketika itulah datang balabantuan dari Polandia.  Raja Persemakmuran Polandia -- Lituania, Jan III Sobieski memboyong 30.000 balatentara yang terlatih baik. Mereka datang untuk membantu pasukan Wina dibawah pimpinan Charles IV atau Duke of Laurrent yang berkekuatan 100.000 tentara.

Pasukan Wina dari Dinasti Habsburg bergabung dengan kekuatan pasukan terlatih dari Polandia. Mereka mulai menyerang pasukan Ottoman dibawah pimpinan Wazir Kara Mustafa Pasha. Diserang lawan, tentara Ottoman yang belum pernah kalah langsung memberikan perlawananan. Pertempuran Wina -- Ottoman berlangsung cukup lama, namun puncak pertempuran ini tercatat 12 September 1683.

Di ujung pertempuran, Ottoman yang berkekuatan 140.000 tentara akhirnya terdesak mundur dan kalah. Pertempuran ini menandai titik balik konflik panjang yang berlangsung selama 300 tahun antara Kekaisaran Ottoman dan kerajan-kerajaan Eropa Tengah. Kekaisaran Ottoman yang sangat disegani karena kekuatan tentaranya menyerah dalam perang Wina.

Sepanjang 16 tahun setelah pertempuran ini, para kaum Habsburg dari Austria dan sekutu mereka bergerak merebut dan mendominasi wilayah selatan Hongaria dan Transsilvania yang selama ini di bawah jajahan Kekaisaran Ottoman. Pengaruh Ottoman semakin kecil dan semakin meredup, sampai pada tahun 1923 hilang sama sekali.

Barangkali kisah sejarah ini yang merasuk dalam pikiran Brenton Tarrant sehingga dari foto-fotonya di akun twitter ada graffiti bertuliskan "Wina 1683". Brenton seakan mengobsesikan dirinya sebagai kekuatan yang akan membela "Wina" yang lemah dan terdesak. Kalaulah benar demikian, lantas siapa "Wina" di dalam obsesi Brenton Tarrant.

Simbol lain ditemukan juga di senjata Brenton Tarrant. Senjata yang digunakan untuk memuntahkan peluru ke tubuh kaum muslim di Mesjid Al Noor , Selandia Baru itu, bertuliskan "Ebba Akerlund". Nama Ebba Akerlund juga muncul dalam manifesto berjudul "The Great Replacement" yang ditulis Brenton sebelum melancarkan aksinya. Ia beralasan ingin membalas dendam atas kematian Ebba Akerlund.

Mengutip BBC News, Simbol "Ebba Akerlund" merujuk pada nama seorang gadis keci berusia 11 tahun yang menjadi korban dalam peristiwa berdarah di Stockholm tahun 2017 lalu. Ebba Akerlund meninggal dunia setelah Rakhmat Akilov, seorang pria Uzbekistan berusia 39 tahun menabraknya dengan truk dalam sebuah aksi penyanderaan.

Kala itu, Arkilov juga mengarahkan truk itu ke dalam kerumunan pasar.  Diantara korban yang tewas Ebba Akerlund adalah korban termuda. Tapi yang sangat menggugah, ayahnya sempat memasang iklan hilangnya Arkelund di internet, kemudian baru diketahui kalau gadis kecil ini tewas dalam sebuah aksi terror.

Saat kejadian, Akerlund tengah berjalan dari rumahnya ke sekolah, lantas sebuah truk menabraknya dengan tiba-tiba. Kendaraan yang melaju tak terkendali itu dibajak oleh pelaku teror, Rakhmat Akilov, yang berlatar belakang imigran ilegal. Arkelund tewas dalam mimpi indah karena beberapa hari lagi gadis kecil ini akan merayakan ulang tahunnya. Itulah yang membuat hampir seluruh gadis kecil sebayanya di Swedia menangis. Swedia pun ditenggelamkan duka. 

Tapi benarkah aksi terror yang membunuh muslim di Selandia Baru itu karena ingin membalas kematian gadis kecil ini. Menyikapi aksi penembakan muslim yang dilakukan Brenton Tarrant di mesjid Al Noor di Christchurch, ibu Ebba Arkelund, Jeanete  Akerlund kepada stasiun televise Swedia, SVT menyesalkan nama anaknya dilibatkan dalam aksi kekerasan ini. 

"Ebba menyebarkan cinta dan perhatian, bukan kebencian. Saya merasakan sakitnya keluarga yang terkena dampak ini. Saya mengutuk segala bentuk kekerasan," kata ibu Arkelund mengutuk aksi penembakan  itu.