Mohon tunggu...
Endang Saputra
Endang Saputra Mohon Tunggu... RESIGN.

cuma orang biasa.

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi

PLN "Teror" Pelanggannya

21 Mei 2020   13:35 Diperbarui: 21 Mei 2020   14:01 62 3 1 Mohon Tunggu...

Seorang aktivis Kabupaten Karawang bernama Endang Saputra menjadi korban tekanan psikologis dari vendor PLN, di duga akibat surat edaran Bupati Karawang.

Bertolak belakang dengan kebijakan yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo, di tengah pandemi virus corona (Covid-19) perusahaan listrik negara (PLN) unit pelayanan jaringan (UPJ) Karawang Kota malah menggencarkan penagihan rekening listrik kepada para pelanggannya. Satu diantara pelanggan PLN yang merasa mendapatkan tekanan (teror) dari petugas penagih PLN adalah aktivis Kabupaten Karawang bernama Endang Saputra.

Endang menceritakan bagaimana awal mula ia didatangi petugas penagih vendor PLN, komunikasinya dengan sang petugas, termasuk melalui via pesan singkat (SMS) hingga kehadiran petugas pengganti. Berikut adalah kronologis yang disampaikan oleh Endang Saputra.

Pada hari Jumat (15 Mei 2020), Endang didatangi oleh petugas pencatat meter (cater) dan tagihan dari PLN yang telah ia kenal sebelumnya. Sang petugas bernama Heri menyampaikan bahwa Endang telah menunggak pembayaran listrik selama dua bulan (April dan Mei) dan memberikan waktu hingga hari Senin (18 Mei 2020) jam 12 siang. Jika hal itu tidak bisa dipenuhi maka aliran listrik akan di putus dan meter listrik di cabut.

Endang menyampaikan bahwa selama pandemi corona yang berlanjut dengan penerapan PSBB di Kabupaten Karawang, kawan-kawannya sulit untuk ditemui.

Beberapa kawan yang berhasil ia temui dan ia mintai bantuan menyampaikan bahwa mereka pun sedang agak kesulitan, dan uang yang mereka miliki dihemat untuk dijadikan sebagai cadangan dalam menghadapi epidemi corona yang entah hingga kapan berlangsung, dan kapan akan berhenti. "Yang mereka tahu, Presiden Jokowi telah menyampaikan perkiraan epidemi bisa berlangsung hingga akhir tahun 2020," paparnya.

Kondisi seperti itu ia sampaikan kepada Heri, namun Heri bergeming dan tetap menetapkan tenggat waktu hingga hari Senin jam 12 siang atau aliran listrik diputus dan meter listrik di cabut.

Endang menyampaikan bahwa ia akan terus mengusahakan pembayaran tunggakan, namun jika sampai batas waktu yang ditentukan ia tidak berhasil memperoleh uang pembayaran maka ia tidak bisa berbuat apa-apa, dan mempersilahkan PLN untuk memutus aliran serta mencabut meter listrik di rumahnya.

Pada hari Senin (18 Mei 2020) sekira jam 9 pagi Endang mengabarkan kepada Heri (via sms) bahwa ia tidak berada di rumah dan sedang berupaya untuk mencari pinjaman. Pada jam 11.30 Endang bertemu dengan kawannya dan menyampaikan permasalahan yang sedang ia hadapi.

Kawannya menyanggupi untuk membantu, namun ia akan menghadiri rapat dan meminta Endang untuk menunggu. Endang mengabarkan kepada Heri dan Heri menjawab bahwa ia menunggu hingga jam 12 siang.

Ketika jam 12 siang (jam istirahat) kawannya tidak muncul, Endang mulai gelisah karena tenggat waktunya telah habis. Ia menelepon kawannya dan mendapat jawaban diminta untuk menunggu. Sekitar jam 12.25 utusan kawannya datang dan memberikan uang yang diminta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN