Mohon tunggu...
Ervina Diana
Ervina Diana Mohon Tunggu... Psikolog - Psikolog Klinis di RS. Duren Sawit dan Ibunda.id

Literasi untuk berbagi

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Cinta Tanpa Syarat

19 Juli 2021   14:08 Diperbarui: 23 Juli 2021   05:50 173 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cinta Tanpa Syarat
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Suatu malam saya membaca sebuah artikel tentang bagaimana kekuatan cinta mampu memberikan energi besar pada seseorang ketika ia merasa dicintai. Kekuatan yang membuatnya menjadi individu yang utuh, berharga dan berdaya guna. Penulis menuturkan tentang betapa pentingnya aspek cinta dalam interaksi antara dua pihak. Awalnya saya pikir tidak ada hal yang baru disini sampai saya menelusuri lebih jauh uraiannya, saya menemukan kalimat tentang "Cinta Tanpa Syarat". Ternyata penulis ingin membawa pembacanya pada satu kesimpulan bahwa mencintai seseorang tanpa syarat menjadi 'syarat mutlak' yang harus dimiliki agar sukses berperan sebagai pecinta sejati.

Ya, kalimat tersebut membuat saya merenung dalam-dalam tentang apa arti cinta tanpa syarat. Cinta yang dimaknai tanpa tuntutan, harapan serta batasan-batasan yang diciptakan oleh Sang Pencinta. Seperti dalam ungkapan "Aku akan mencintaimu jika kamu melakukan apa yang aku mau, memberi apa yang aku harapkan atau menyetujui pendapatku". Sehingga cinta yang demikian sungguh jauh dari penerimaan yang tulus, totalitas serta apa adanya karena adanya kriteria tertentu yang harus dipenuhi bila ingin menjadi objek yang dicintai. Cinta yang tulus bisa menjadi sebuah visi kemanusiaan yang indah apabila terselip dalam interaksi antar sesama. Rasanya hamparan bumi akan selalu menyajikan musim semi bila keluarga dan orang-orang terdekat kita selalu menebarkan cinta model seperti ini. Maka semoga ini bukan sekedar wacana tapi just do it, tindak lanjuti dengan mencoba, tutur Eileen Caddy, seorang pegiat komunitas spiritual (Innerself.com, 2021).   

Pada pembicaraan ke depan saya akan coba membahas fenomena kekinian tentang cinta orang tua terhadap anaknya. Kita, para orang tua tentu saja mengklaim bahwa kitalah yang paling mampu memberikan cinta yang sempurna untuk anak-anak kita. Nampaknya tidak perlu lagi diulas betapa panjang dan beratnya perjuangan orang tua dalam membesarkan anak-anaknya. Tapi pernahkah terbetik dalam benak kita bahwa sebagian dari kita, para orang tua melewati saat-saat bersama anak dengan cinta yang justru bersyarat?

Saya membayangkan bila cinta dengan penerimaan apa adanya secara purna ada dalam kehidupan kita, maka kita tidak akan malu bila anak kita tidak memiliki prestasi apapun dan sebaliknya tidak akan alergi mendengar keberhasilan anak tetangga. Atau pada gilirannya nanti tidak merasa risih membicarakan tentang pekerjaan sang menantu bila anak perempuan kita dilamar oleh laki-laki yang pekerjaannya tidak prestise. Intinya sederet contoh-contoh tadi menjadi acuan penilaian bagi diri pribadi tentang sukses atau tidaknya kita sebagai orang tua yang akan bermuara ke perasaan tidak berharga bila tidak mampu melejitkan anak menjadi mumpuni atau memiliki kehidupan terpandang kelak.

 Ah ternyata sulit juga ya untuk bisa begitu...memang tidak bisa diingkari bahwa sebagai makhluk sosial manusia terikat dengan budaya untuk selalu ingin dilihat baik oleh lingkungannya. Harapan sosial yang seringkali membuat kita tidak bisa tampil apa adanya, dan anak kemudian menjadi salah satu atribut orang tua untuk mewujudkan obsesi tersebut.

Saya jadi teringat sebuah pengalaman nyata yang saya alami sendiri. Sebagai seorang Psikolog yang berpraktek di sebuah rumah sakit jiwa, saya banyak melewati hari-hari saya di ruang konseling bersama para pasien dengan segala cerita dan masalah mereka. Suatu hari saya terpana ketika bertemu dengan seorang ibu muda yang memiliki 2 anak perempuan kembar yang keduanya tuna rungu. Hal yang umum terjadi bagi para penderita cacat tuna rungu banyak dari mereka akan mengalami keterbelakangan mental. Keterbatasan mereka dalam menyerap informasi menyebabkan kecerdasan mereka terhambat berkembang secara normal. Ibu tersebut datang dengan permintaan agar kedua anaknya diukur intelegensinya untuk laporan evaluasi ke Sekolah Luar Biasa tempat kedua anaknya mengenyam pendidikan saat itu. Yang menarik darinya adalah ketegarannya menjalani hidup dengan 2 anak cacat, sementara ia sendiri memiliki keterbatasan dana. Ibu yang fasih dengan bahasa isyarat saat berbicara dengan kedua anaknya itu bercerita panjang lebar tentang hari-hari dan perjuangannya menemani anak-anaknya tersebut.

"Mereka adalah anugerah Tuhan", Ia berkata sambil tersenyum. Saya menangkap ia menjalani itu bukan tanpa beban sama sekali, tapi penerimaan yang dalam akan segala keterbatasan anak-anaknya membuat ia tampak tidak terbebani.

Di hari yang lain saya bertemu dengan seorang gadis muda yang cantik dan pintar. Ia datang ke ruang konseling saya dengan wajah sendu. Air matanya sudah jatuh ketika ia baru saja duduk bahkan belum mulai bercerita apapun. Saya ingat sepanjang ia bercerita air matanya terus menetes. Gadis itu, sebut saja AN (bukan nama sebenarnya) mulai memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah mahasisiwi fakultas kedokteran di salah satu universitas ternama. Ia berasal dari keluarga berada dengan latar belakang pendidikan orang tuanya yang tinggi. Selama ini orang tuanya begitu ambisius dengan keberhasilan studi anaknya untuk menjadi dokter dan iapun mencoba menginternalisasi keinginan itu menjadi mimpinya. Sampai suatu saat ia merasa sangat lelah dengan obsesinya dan memutuskan untuk meninggalkan kuliahnya.

Saya sempat merasa heran dengan keputusannya karena ia sendiri berkata bahwa sesungguhnya ia merasa mampu untuk menyelesaikan kuliahnya. Satu-satunya alasan adalah karena ia merasa amat lelah, terbebani dan ini semua menyebabkan ia depresi.

Anyway saya tidak ingin memperpanjang lebih jauh isu kenapa ia memutuskan berhenti dari studinya sebab tidak berkorelasi banyak dengan tema tulisan ini karena itu ijinkan saya untuk kembali ke tema utama kita.

AN kemudian bercerita lagi bahwa selama ini orang tuanya tidak tahu kalau ia sudah drop out dari kampusnya karena kebetulan ia kuliah di luar kota sehingga tidak sulit bagi dia untuk menutupi hal itu. Untuk kebohongan inilah AN tetap berada di kota tempat ia kuliah, menerima secara rutin kiriman uang kost, biaya kuliah, transport, biaya makan dll. Dia tidak pernah berani bicara apa adanya karena tidak sanggup berhadapan dengan kemarahan orang tuanya, terutama ibunya yang menurutnya super keras. Hingga pada tahun seharusnya AN lulus ia tidak mampu mengelak lagi untuk bicara jujur. Tapi perasaan bersalah yang sangat serta bayangan ibunya yang begitu obsesif dan keras membuat AN tetap tidak berani bicara apa adanya. Ia depresi karena merasa gagal dalam hidupnya dan merasa bersalah pada keluarganya. Tahun-tahun terakhir dari hidupnya dijalani dengan kesendirian dimana ia memutuskan untuk tinggal di pinggiran kota yang jauh dari lokasi kampusnya. Iapun menarik diri dari semua teman-teman yang dikenalnya seolah ia menghilang begitu saja. Kemelut ini yang menyebabkan ia datang dan terjadi pertemuan antara saya dan dirinya yang kemudian juga berlanjut dengan ibunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x