Mohon tunggu...
Erusnadi
Erusnadi Mohon Tunggu... Freelancer - Time Wait For No One

"Sepanjang sungai/kali masih coklat atau hitam warnanya maka selama itu pula eksistensi pungli, korupsi dan manipulasi tetap bergairah "

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Bayangan Hanyalah Bayangan

4 Desember 2022   17:11 Diperbarui: 4 Desember 2022   17:15 170
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com


Suara-suara memecah sunyi terdengar datang dari kegelapan malam. 

Menuntun matanya untuk lelah lalu terpejam. 

Suara jangkrik, tonggeret, kodok, bahkan desir angin yang menerobos lubang jendela meninabobokan tubuh renta itu. 

Ia terlelap kemudian. Disusul dalam hitungan detik tampak ada bayangan di sisi tubuh renta itu yang samar-samar terpendar oleh cahaya lilin.

Bayangan itu serupa dirinya, lalu duduk dan memandangnya terpaku. 

Bayangan itu masih menanti hingga waktunya ia pergi menjauh atau kembali pada tubuh renta yang dibuai mimpi.


Bayangan hanyalah bayangan. 

Tubuh renta itu atau siapapun tidak akan pernah tahu kapan bayangan itu kembali dan kemana bayangan itu pergi. 

Bila kembali tubuh akan bergerak dan napas menghela lepas. Namun bila tidak, tubuh akan terbujur kaku untuk waktu tertentu. 

Siapa yang tahu? Bayangan itu pun tidak tahu. 

Kecuali semesta yang akan datang memberi tanda meski tubuh renta itu tidak menyadari. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun