Mohon tunggu...
Eno Rusnadi
Eno Rusnadi Mohon Tunggu... Time wait for no one

Anyone wait for me

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Aku Sendiri Sekarang di Kaki Bukit Burangrang

10 Oktober 2019   15:31 Diperbarui: 11 Oktober 2019   08:42 0 1 0 Mohon Tunggu...
Aku Sendiri Sekarang di Kaki Bukit Burangrang
dsc-0717-jpg-5d9fdcdd0d8230235a3b27c2.jpg

Angin lembah berhembus dengan lembut dari bukit Burangrang di pagi ini. Mentari juga sudah menyala, menembus hutan pinus di sekitarnya. Udara sejuk, dan hangat sangat terasa. Ranting kecil terlihat berjatuhan. Daun-daunnya juga berserakan. Suara gemericik air dari sungai yang menabrak, dan jatuh di bebatuan juga terdengar indah. Semua seperti hidup.

Apalagi ditingkahi bunyi suara burung yang hinggap di pucuk pinus sana melengkapi datangnya pagi. Semua itu seakan mengabarkan sesuatu bahwa di sini ada kehidupan yang alami. Ada orchestra alam yang tiada satu pun bisa menyerupai. Bahkan oleh komposer sekelas Johann Sebastian Bach sekalipun. Sekali-kali tidak.

Aku rasakan itu semua di sini sekarang. Sendiri. Di pondok kecil di kaki bukit Burangrang.

***

Jam masih menunjukkan pukul tujuh 15 menit ketika itu. Di hari libur seperti sekarang, aku biasa habiskan waktu bersama Umi, berdua. Jauh dari keriuhan kota Bandung yang sumpek di saat liburan semacam ini. Ekspansi turis lokal yang datang, dan jumlah kendaraan yang menganeksasi jalan bak menusuk jantung ibukota tanah parahiyangan ini. Padat sekali. Dan, kami mengalah, serta beruntung juga masih bisa menikmati pondok kecil warisan dari buyut kami.

Aku selalu memaksa Umi untuk mau datang ke tempat ini. Jika tidak, Umi tak akan pernah sempat. Sebab ia sangat sibuk. Tiada hari yang dilewatinya kecuali dengan anak-anak mahasiswa, bahkan yang pasca sarjana untuk mendampingi skripsi, atau tesis mereka. Jam mengajarnya padat, belum lagi rencana program penelitian kesehatan masyarakat yang tengah disusunnya, sangat menyita waktunya.

Aku kerap mengingatkan Umi untuk banyak istirahat. Tapi selalu ditepisnya. Ia selalu beralasan, dan bilang hidup itu harus lebih dari sekadarnya. Hidup itu harus dimaknai sebagai titian untuk bekal kelak di kemudian hari tatkala kita mati. Titian itu cara kita sebagai manusia mengisinya dengan kegiatan yang punya manfaat, baik untuk pribadi maupun orang lain.

Hidup tidak cuma untuk makan, minum, tidur, kerja, dan seterusnya berputar menggerus usia. Tidak. Hidup tidak dipandang demikian, tapi pandanglah hidup dengan cara kita mematut diri di depan cermin, dan bertanya, sudah berapa banyak kebaikan yang telah ditanam?

Selalu Umi katakan itu. Dan, biasanya aku peluk dia sesudahnya, bangga.

Aku beruntung, jadi anak perempuan tunggal. Sekaligus punya ibu, mama, ambu, yang aku panggil Umi ini yang senantiasa mengerti akan segala keluhan yang aku curahkan padanya. Ia seperti tahu arah ketika aku tersesat. Ia memberiku energy untuk bisa mandiri kelak, dengan memandang wajah dunia di atas bahuku sendiri. Tak ada keluhanku yang tidak bisa diatasinya. Umi mengairi rasa hausku akan nasehat dengan tutur lembut penuh kasih sayang.

Setelah abah tiada. Kedekatan kami kian lekat. Aku juga selalu menyiapkan waktu untuk Umi, bahkan lebih, meski pekerjaan kantor juga menghabiskan waktuku. Kami acapkali bertemu di sela waktu istirahat jam kantor untuk makan siang bersama, berbincang, meneruskan segala ungkapan yang belum tuntas, entah itu di waktu malam, atau pagi sebelum kami beranjak pergi ke tempat giat masing-masing. Untungnya lokasi kampus di mana Umi mengajar tidak terlalu jauh dengan tempatku bekerja. Jadi kami bisa selalu bertemu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x