Mohon tunggu...
Eno Rusnadi
Eno Rusnadi Mohon Tunggu... Time wait for no one

Anyone wait for me

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerita Sejuta Langkah

18 September 2019   10:25 Diperbarui: 24 September 2019   13:38 0 2 0 Mohon Tunggu...
Cerita Sejuta Langkah
dsc-0057-jpg-5d89b9ee097f36627140a2f2.jpg

Di tahun 1980-an, dunia remaja ketika itu rata-rata amat bersahaja. Usia sekitar 14- 15 tahun lebih banyak dihabiskan waktunya untuk kegiatan seni, maupun olah raga. Kendati masih ada juga yang coba-coba untuk berhimpun dengan rekan sebaya yang tergolong nakal, untuk sekadar mencicipi sedikit minuman keras atau obat terlarang lainnya.

Hal semacam ini tidak bisa dihindarkan, sebab pergaulan sangat menentukan eksitensi mereka di dalam kelompoknya. Apalagi  masa remaja itu dihabiskan di kota besar semacam Jakarta. Soal ini banyak ahli menyebut demikian.

Ada juga di usia itu, mungkin setingkat sekolah menengah pertama, saling jatuh hati dengan lawan jenisnya. Entah teman di sekolah, maupun tetangga dekat. Yang penting, dia itu lelaki atau perempuan, dan bukan banci!

Nah, soal asmara ini yang kadang begitu excited di mata mereka. Curi pandang satu sama lain, deg-degan bila berjumpa, atau saling tukar sesuatu yang dirasa bakal menjadi kenangan. Keadaan demikian menjadi sesuatu yang lazim di masa itu, dan sangat bersahaja.

Namun begitu, tidak semua usia remaja melakukan hal bersahaja seperti itu. Malah ada juga yang justru jauh dari itu, dari sisi pergaulan maupun cara bersikap ketika sedang berhubungan dengan orang lain, jauh di atas usianya. Terutama terhadap kaum wanita.

Sebut saja Endri. Bagaimana mungkin ketika di sekolah ia bisa menutupi pergaulannya yang sebenarnya.  Ia bisa berkumpul, bercanda, bahkan saling menggoda di antara teman sekolah perempuannya. Sebatas menggoda dan tidak lebih dari itu.

Ia juga punya penampilan berbeda ketika biru putih dikenakan, yakni sepatu yang selalu pantopel hitam, berkaos kaki putih. Ini langka digunakan anak-anak di masa itu. Kebanyakan memakai sepatu kets.

Namanya anak-anak remaja tentu bukan hal istimewa jika ada yang berpenampilan semacam Endri. Rasanya tidak ada yang perlu dibuat heboh, kecuali kehebohan itu ada ketika ada yang ulang tahun. Dan, Endri bisa membuat suasana heboh di sekolah itu.

Segala macam cara dibuatnya untuk semua teman ikut bergembira. Salah satu yang ia acapkali lakukan menyiramkan tiga sendok bubur nasi ke arah kepalanya. Sembari sudah menyiapkan kue ulang tahun istimewa yang ia bawa dari rumahnya. Bagus, menarik dan tentu lezat.

Kue yang tertata sangat indah di mata teman itu, entah laki maupun perempuan,yang tengah berulang tahun, terasa mewah ketika itu. Rasanya siapapun akan terharu bila Endri melakukannya. Ia begitu sayang dan peduli dengan teman sekolah.

Apalagi bila teman itu dirasa kehidupannya kurang mencukupi secara ekonomi. Ia tak sungkan untuk sekedar membantu di hari jadinya untuk kebahagiaan mereka. Sebagai anak dari keluarga yang tajir tentu bukan soal jika ia keluarkan uang untuk itu dari orang tuanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7