Mohon tunggu...
Erna Manurung
Erna Manurung Mohon Tunggu... Penulis - Sedang bermukim di kampung halaman (Serang, Banten)

Senang menulis hal Ikhwal masalah-masalah kesehatan jiwa, sesekali jalan-jalan di sekitar rumah lalu melaporkannya ...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Cerita-Panjang] Kala Usia Senja Tiba #4

15 Juni 2021   08:00 Diperbarui: 15 Juni 2021   08:31 103 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
[Cerita-Panjang] Kala Usia Senja Tiba  #4
id.depositphotos.com

"As, kamu lihat Pak Djoko pagi ini? Biasanya beliau sudah nongkrong di sini selesai sarapan," tanya Lestari. Pagi itu ia menyambangi meja besar dimana Astry sedang menyortir berkas-berkas laporan. Yang ditanya cuma menggeleng.

Lestari merasa ada yang kurang kali ini. Biasanya, setiap kali masuk ruangan semi aula ini, Pak Djoko dan minimal satu orang dari geng-nya sudah duduk-duduk. Entah itu mengobrol, entah itu memelototi televisi, atau membaca koran dan jurnal. Lestari sudah punya stok sapaan cukup banyak untuk menghangatkan suasana pagi di asrama. Terutama di ruang besar di mana para bapak selalu ngumpul di sini--semi aula atau beranda depan-- pagi sesudah sarapan dan sore sebelum makan malam.

Ritme hidup seperti ini bagi orang muda seperti Astry atau bahkan dirinya yang masuk kategori perempuan dewasa madya, mungkin membosankan. Tapi belum tentu bagi para bapak & ibu atau Oma dan Opa itu. Pagi, pukul 6 mereka berolah raga ringan, jam 7 sarapan. Kalau ada kegiatan bersama akan dimulai pukul 09.00 atau 09.30. Kegiatan apapun tidak akan terlalu lama mengingat daya tahan lansia yang sudah lemah. Satu sampai satu setengah jam saja. Lalu satu jam sebelum makan siang, mereka beristirahat di unit/kamar masing-masing.

Pukul 12.30 makan siang, selebihnya tidur dan menjelang sore akan saling berkunjung ke unit teman, atau melanjutkan diskusi kemarin di beranda. Pukul 19.00 jadwalnya makan malam, selebihnya silahkan isi sendiri dengan aktivitas yang disukai.

Pak Djoko pagi ini absen mengisi waktu luang di beranda. Tentu saja ada yang kurang bagi Lestari. Biasanya Pak Djoko akan bersemangat mengikuti berita televisi, terutama berita-berita korupsi. Mungkin beliau kesepian karena dua teman baiknya sudah dijemput keluarganya kemarin malam. Lestari mendampingi ibu Yani saat keluarga besar Pak Situmeang minta izin untuk membawa Oppung mereka kembali ke rumah. Setelah berbasa-basi sesaat, mereka kemudian pergi. Diiringi tatapan sedih Pak Djoko yang bergabung saat-saat akhir ketika Pak Situmeang berpamitan.

Tatapan sedih Pak Djoko menimbulkan tanya dalam benak Lestari. Seperti itukah rasanya melewati hari tua? Apalagi ketika ha-hal yang dulu kita miliki, satu per-satu pergi. Entah itu teman sebaya, karir, bahkan anak-anak yang beranjak dewasa. Bapak-bapak yang susah move on dari masa-masa indah saat menjabat atau saat menjadi orang yang dibutuhkan di kantor masing-masing. 

Tapi Lestari bersyukur, karena Om Pit mengisi fase post power syndromenya dengan menyibukkan diri bersama para tetangga. Lestari sungguh tidak percaya kalau ada orang yang tidak mengalami post power syndrome ketika memasuki masa pensiun, sebaik apapun persiapan mereka. Semua pasti mengalaminya, suka atau tidak suka.

Dipikir-pikir, barangkali asrama ini bisa jadi tempat yang pas untuk memfasilitasi para Oma dan Opa yang tengah menghadapi fase transisi masa pensiun. Ibu Yani pernah mewanti-wanti, katanya, kita mesti memahami dunia para lansia. Kalau mereka kerap bercerita masa-masa jaya atau masa lalunya, dengarkan saja. Memang itulah tahapan mereka. Kitapun akan berada di sana kelak. Lestari tidak butuh waktu lama untuk setuju.

***

Sudah pukul satu siang, tapi Lestari belum melihat Pak Djoko di ruang makan. Kemana ya beliau?

Ia mendatangi dapur. "Bu Nin, lihat Pak Djoko tidak?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x