erisman yahya
erisman yahya pegawai negeri

mantan wartawan n hoby menulis

Selanjutnya

Tutup

Sosial

Analisa "Kedai Kopi" tentang Terorisme hingga Pesan Khusus untuk Ustaz Somad

17 Mei 2018   09:31 Diperbarui: 17 Mei 2018   09:39 250 1 0
Analisa "Kedai Kopi" tentang Terorisme hingga Pesan Khusus untuk Ustaz Somad
sumber foto: klikwarta.com

Kebebasan dalam menyampaikan pendapat telah menjadi salah satu berkah reformasi bagi rakyat Indonesia. Apa saja kejadian, apa saja persoalan, dengan bebas dianalisa sehingga muncullah berbagai interpretasi.

Akhir-akhir ini, kita dicekam oleh sejumlah aksi terorisme di tanah air. Terakhir, Rabu, 16 Mei sekitar pukul 09.00 WIB, terjadi kasus penyerangan Mapolda Riau oleh sejumlah orang yang diduga kuat termasuk jaringan teroris. Paling tidak, kasus penyerangan dengan menggunakan mobil Toyota Avanza putih itu menewaskan 4 pelaku dan 1 anggota Polisi atas nama Ipda Auzar. Seorang polisi yang dikenal taat beribadah dan sering menjadi imam sholat. Jika para pelaku itu muslim, apakah ia tega membunuh saudaranya sendiri yang ternyata seorang yang sangat alim? Na'uzubillah...

Kembali ke soal analisa "kedai kopi." Maksudnya tentu saja analisa-analisa yang disampaikan sebagian masyarakat saat santai menyeruput kopi. Analisa-analisa itu tentu masih sangat debatable. Kebenarannya juga mungkin masih jauh panggang dari api. Namun tetap menarik untuk didiskusikan lebih lanjut.

Berikut penulis rekam beberapa analisa "kedai kopi" terkait maraknya aksi terorisme belakangan ini. Pertama, aksi terorisme marak di tanah air karena Indonesia memang sudah menjadi target jaringan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Di Indonesia juga disebut-sebut banyak bermunculan organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan ISIS seperti Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Islamiyah (JI). Beberapa pentolan JAD maupun JI telah banyak yang tertangkap sebagai pelaku aksi terorisme.

Pemerintah Indonesia nampaknya belakangan ini memang agak kewalahan mengantisipasi gerakan-gerakan kelompok ISIS dan jaringan-jaringannya tersebut. Pasalnya, Negara Adidaya Amerika yang dulu mem-back up habis upaya pemberantasan teroris melalui Densus 88 Anti Teror kini disebut-sebut mulai melemah. Tidak maksimalnya bantuan Paman Sam bisa juga akibat kebijakan Pemerintah Indonesia yang kini lebih condong ke Negeri China.

Persoalan semakin rumit karena pimpinan tertinggi Badan Intelijen Negara (BIN) bukan berasal dari kalangan TNI. Ada yang menduga, ada pihak yang kurang "rela" jika BIN dikuasai oleh selain TNI. Akibatnya, potensi terkait aksi-aksi teror yang semestinya sudah terdeteksi jauh-jauh hari, tidak diantisipasi dengan baik. Maka, meledaklah aksi teror dimana-mana.

Kedua, aksi teror yang terjadi di banyak tempat sengaja diciptakan untuk pengalihan isu. Pasalnya, situasi perpolitikan di tanah air mulai menghangat menjelang Pilpres 2019. Tagar seperti #2019 Ganti Presiden, banyak bermunculan. Ditambah dengan geliat ekonomi yang juga tidak begitu menggemberikan.

Ini antara lain ditunjukkan dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus melemah. Bahkan sudah berada di level Rp.14 ribu per dolar AS. Agar isu-isu tersebut hilang, harus diciptakan isu lain yang jauh lebih krusial. Namun pada saatnya nanti penguasa akan tampil sebagai juru selamat. Sehingga kembali mendapat simpati dari rakyat.

Ketiga, analisa ini lebih kepada aksi teror yang terjadi di Riau. Analisa ini juga terasa menarik karena dikaitkan dengan Ustad kondang H Abdul Somad, LC, MA. Sebabnya, kasus penyerangan Mapolda Riau yang terjadi kemarin persis saat Ustad Somad baru saja selesai menyampaikan Tablig Akbar di depan Kantor Gubernur Riau yang berseberangan dengan Kantor Mapolda Riau.

Apalagi baru-baru ini, Ustad Somad juga terhindar dari kasus meledaknya Meriam Lelo Kerajaan Gunung Sahilan. Ustad Somad yang semula dijadwalkan hadir pada acara yang ditaja kerajaan itu ternyata berhalangan. Paling tidak dua orang meninggal dalam kasus tersebut di samping sejumlah warga yang luka-luka.

Ada yang memprediksi, bisa saja aksi teror di Mapolda Riau itu sebagai pesan khusus bagi Ustad Somad untuk segera merapat dengan penguasa. Desas-desus, Ustad Somad secara persuasif terus diajak untuk merapat dengan pemegang kekuasaan. Sebagai ustad papan atas, pengaruh UAS, begitu ia biasa disapa, tentu sangatlah besar. Namun UAS disebut sebagai orang yang tidak terlalu "ngebet" dekat-dekat dengan kekuasaan. Ia lebih senang hanya menjadi milik umat saja.

Tentu masih banyak analisa lain yang berkembang, yang sekali lagi tentu saja masih sangat mungkin diperdebatkan kebenarannya. Tapi bagi penulis dan (insya Allah) seluruh masyarakat Indonesia, negara tidak boleh kalah dengan terorisme. Pemerintahan yang sah di bawah Presiden dan Wapres Jokowi-JK harus tegas setegas-tegasnya dengan kewenangan yang ada melawan dan memberangus terorisme sampai ke akar-akarnya. Seluruh rakyat Indonesia pasti mendukung tindakan tegas Pemerintah terhadap tindakan terorisme. Karena terorisme adalah musuh kita bersama!