Mohon tunggu...
erisman yahya
erisman yahya Mohon Tunggu... Administrasi - Menulislah, maka kamu ada...

Masyarakat biasa...proletar

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jelang Pilkada, Ini Panduan Praktis Memilih Pemimpin

14 Februari 2018   18:16 Diperbarui: 14 Februari 2018   20:23 1011
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung telah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk memilih pemimpin yang terbaik. Sayangnya, seringkali hasil Pilkada tidak sesuai harapan. Jauh panggang dari api. Emas yang diharapkan loyang yang didapat.

Sebabnya jelas, masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya acap kali terpengaruh oleh praktik sogok-menyogok (money politics/politik uang). Hanya karena uang lima puluh ribu, misalnya, ia rela menggadaikan suaranya.

Atau karena alasan lain yang sifatnya irrasional (tidak masuk akal alias di luar logika). Misalnya, percaya bahwa sang calon adalah titisan dewa atau punya hubungan dengan seorang raja yang sakti nan mandraguna. Bahkan, ada pula yang percaya bahwa sang calon adalah waliullah (utusan Allah) sehingga wajib dipilih. Setelah dipilih, ternyata eh ternyata, bagai musang berbulu domba. Ia kembali ke wujud aslinya, sebagai penipu rakyat!

Memang kita maklum, orang Indonesia kadang masih percaya dengan hal-hal yang berbau mistis. Bahkan kabarnya, tidak sedikit pejabat yang lebih percaya kepada dukun ketimbang Tuhan yang menciptakan alam semesta.

Yang lebih ngenes lagi, ada yang memilih hanya karena faktor tampang (ganteng atau cantik). Pertimbangannya sangat-sangat dangkal. Hanya melihat kesingnya saja. Emangnya mau pacaran apa? Hadeeeh...Ampun dah...! Padahal setelah terpilih, habislah uang rakyat untuk menopang gaya hidupnya yang mewah dan glamor. Mobil dinasnya mewah semua. Rumah dinasnya seperti istana. Istri dan gundik dimana-mana. Sementara rakyat klepak-klepak keleleran, kelaparan, tak ada yang perhatikan. Nasebmu rekkkk..!

Tapi inikan sudah era teknologi. Seharusnya kita sudah bisa melakukan transformasi. Hati nurani tidak bisa lagi dibeli dengan uang. Stop money politics! Sebagai bangsa, kita juga sudah harus mampu berfikir secara jernih dan rasional.

Itu sebabnya, melalui tulisan ini, tanpa bermaksud menggurui, penulis ingin berbagi tentang bagaimana seharusnya memilih seorang pemimpin. Khususnya lagi bagi umat Islam yang mayoritas di negeri ini.

Pertama, pelajari dengan baik track record (latar belakang) sang calon. Carilah sebanyak-sebanyaknya informasi tentang sang calon. Sepak terjangnya selama ini menggambarkan bagaimana ia sesungguhnya. Jangan tertipu karena penampilan sesaat yang terlihat hebat. Jangan karena tiba-tiba misalnya, suka sedekah, membantu orang atau rajin ke mesjid menjelang Pilkada, kita langsung membuat kesimpulan bahwa sang calon terkait sungguh luar biasa. Orang-orang seperti ini biasanya munafiq.

Kedua, cari informasi yang akurat, apakah selama ini sang calon adalah pribadi yang taat kepada Allah SWT atau tidak. Apakah sang calon rajin sholat berjamaah ke mesjid atau tidak. Jika sang calon lebih mementingkan urusan duniawi ketimbang menolong agama Allah, maka pertimbangkan untuk memilih calon yang lain.

Ketiga, pelajari dengan baik program kerja prioritas yang ditawarkan kepada masyarakat. Kadang ada calon yang punya program kerja tidak masuk akal, tapi ditelan bulat-bulat oleh masyarakat. Mau aja dikibuli.

Keempat, sebaiknya sebelum datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) sempatkan melakukan sholat Istikharah. Insya Allah, setelah kita menunaikan sholat Istikharah, Allah akan mencondongkan hati kita untuk memilih calon yang terbaik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun