Mohon tunggu...
Erik Susanto Bara
Erik Susanto Bara Mohon Tunggu... tulisan yang mengubah dunia

membaca, menulis dan bertindak nyata adalah langkah menuju perubahan

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Pandemi Harus Berakhir

10 Agustus 2020   12:24 Diperbarui: 10 Agustus 2020   12:44 24 0 0 Mohon Tunggu...

Dunia sedang tidak baik -- baik saja. Saat ini setiap negara di dunia bersatu melawan musuh yang sama, Covid19. 11 Maret 2020 WHO telah menyatakan bahwa  Covid19 telah menjadi pademi yang artinya telah menyebar dengan luas dan jauh dari pusat wabah. Corona virus telah menyebar di lebih dari 180 negara dan telah merenggut lebih dari 700.000 korban jiwa di seluruh dunia per tanggal 9 Agustus 2020.


Pandemi ini tidak hanya menyebabkan korban jiwa. Setidaknya sudah ada 9 negara di dunia yang mengalami resesi dan diyakini akan terus bertambah. IMF kini memprediksi output ekonomi dunia tahun ini akan menyusut 5% atau hampir 2% lebih buruk dari perkiraan yang dirilis pada bulan April.  

Ketidakpastian yang ditimbulkan Covid19 ini menyebabkan masyarakat mulai percaya pada teori konspirasi dan spekulasi. Dimulai dari adanya sekelompok orang yang percaya bahwa Covid19 itu tidak ada dan hanya permainan elite global hingga yang terbaru muncul seorang pria menyatakan diri sebagai professor dan berhasil menemukan obat dari Covid19 bahkan sambungnya obat tersebut telah dipesan oleh Ratu Elizabeth II dari Kerajaan Inggris.  

Hal tersebut merupakan sebagian kecil dari banyaknya kisah yang muncul dan dipercaya masyarakat akibat pandemi ini. Menurut studi psikologi, kecemasan yang tak terkendali menyebabkan orang mudah percaya pada teori konspirasi karena dengan mempercayai teori konspirasi mereka merasa dapat mengendalikan nasib mereka sendiri agar dirinya menjadi lebih aman dan terkendali. Padahal, kepercayaan semu ini sebenarnya membuat orang merasa jauh tidak berdaya daripada sebelumnya.

Kita perlu melihat lebih jauh masalah yang ada, bukan mencari siapa yang salah untuk menyalahkannya tetapi apa yang salah dan memperbaikinya. Dengan mempersiapkan diri dan belajar dari pandemi yang ada sebelumnya kita dapat mengatasi dan meminimalisir segala jejak yang ditinggalkan pandemi kali ini. Pada laman Kompas.com, Kompas merilis artikel berjudul, "Bagaimana 5 pandemi terburuk dunia berakhir? Sejarah Mencatat". Dalam artikel ini tercatat bahwa tiga pandemi diantaranya berhasil diatasi dengan cara menghindari kontak langsung dengan korban yang terinfeksi dan melakukan karantina bagi warga yang berpergian dari luar kota, satu berakhir dengan cara memperbaiki sanitasi dan menjaga kebersihan air minum dan yang terakhir dengan cara vaksin yang walaupun berdasarkan data perlu menunggu hingga 2 abad hingga vaksin itu ditemukan.

Negara -- negara di dunia pun melakukan berbagai tindakan untuk mencegah penyebaran virus ini, seperti Vietnam yang melakukan lockdown dan terbukti berhasil tanpa menelan korban jiwa. Pemerintah Indonesia juga telah mengeluarkan sejumlah aturan yang serupa untuk menghambat pertumbuhan Covid19, seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB), bekerja dari rumah maupun bersekolah dari rumah. Semua itu bertujuan untuk mengurangi kontak antarmanusia yang dapat mempercepat penyebaran Covid19. Terbukti dibeberapa daerah yang menerapkan protokol kesehatan dengan ketat mengalami tren penurunan kasus pasien positif dan angka reproduksi koronanya dibawah 1 yang walaupun setelah adanya relaksasi PSBB angka pasien positif terus bertambah.  

Dari berbagai tindakan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan mengurangi interaksi antarmanusia maka laju penyebaran Covid19 dapat dikendalikan tetapi ini belum cukup. Covid19 masih ada, kita perlu mencari tahu sumbernya dan mengatasinya.

Beberapa waktu yang lalu David Hayman, profesor bidang ekologi penyakit menular di Universitas Massey, Selandia Baru menyatakan, dalam beberapa abad terakhir, hutan tropis di dunia sudah berkurang hingga 50%. Hal ini menyebabkan pengaruh yang sangat besar pada ekosistem yang ada. Satwa yang kehilangan habitatnya akan mencari habitat yang baru dan ini menyebabkan pantogen yang selama ini hanya terkonsentrasi pada satu kawasan dapat berpindah pada kawasan yang lain.  

Selain itu ketika hewan -- hewan yang berada pada bagian atas rantai makanan kehilangan habitatnya maka hewan -- hewan yang berada di bagian bawah pada rantai makanan akan mengalami ledakan populasi. Padahal hewan -- hewan yang berada pada bagian bawah rantai makanan merupakan kelompok hewan yang paling rentan menularkan penyakit pada manusia. Hal ini terungkap pada penelitian yang tercatat dalam jurnal Nature dari pemantauan selama 50 Tahun (1950 - 2000), terdapat tiga kelompok satwa yang menularkan paling banyak penyakit pada manusia. Tiga kelompok itu adalah kelelawar, tikus dan primata.

Hal ini juga terkonfirmasi dari penelitian lain yang tercatat pada laman news.detik.com menyebutkan, "Jumlah penyebaran penyakit menular meningkat lebih dari tiga kali lipat setiap dekade sejak tahun 1980-an. Lebih dari dua pertiga penyakit ini berasal dari hewan, dan sekitar 70% dari jumlah itu berasal dari hewan liar. Penyakit menular yang kita kenal misalnya: Ebola, HIV, flu babi dan flu
burung, adalah penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia.

Hal ini semakin diperparah dengan tingginya tingkat konsumsi satwa liar. Di daerah yang memiliki pasar hewan liar, penempatan hewan sakit dan stres pada kandang yang sama dapat menciptakan penyebaran penyakit dengan masif dari satu spesies ke spesies yang lain. Terlebih jika hewan yang sakit tersebut dikonsumsi oleh manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x