Mohon tunggu...
Erika Gita Safitri
Erika Gita Safitri Mohon Tunggu... Mahasiswa

Ilmu Komunikasi '19 FISIP Untirta

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Mimpi yang Terjadi

20 Juni 2021   18:28 Diperbarui: 20 Juni 2021   18:36 72 5 0 Mohon Tunggu...

Di bangku pengacara pada sebuah ruangan di Pengadilan Negeri, tampak sosok wanita sedang duduk anggun sembari fokus membaca lembaran-lembaran catatan dihadapannya. Memakai jilbab hitam, kemeja putih rapih khas pengacara dan rok hitam serta heels hitam yang membuat tampilannya sangat elegan. Pada meja didepan kursi yang didudukinya, terdapat papan nama yang bertuliskan "Nadiya Al-Ichsan., S.H". Ya, itulah nama wanita tersebut.

"Terkadang saya masih tak menyangka bahwa kini dibelakang nama saya telah dibubuhi dengan gelar S.H atau sarjana hukum. Saya juga sering merasa seolah bermimpi saat duduk di kursi persidangan sebagai seorang pengacara". Ujar Nadiya.

Baginya, kehidupan yang ia jalani sekarang adalah apa yang ia anggap mustahil terjadi beberapa tahun silam. Nadiya kecil yang dahulu sangat senang menonton tayangan berita untuk melihat liputan persidangan, kini hampir setiap hari ia harus menghadiri persidangan yang nyata.

Lahir dari keluarga sederhana yang memiliki tingkat religiusitas tinggi, ia dididik menjadi wanita yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama islam. Ayahnya berprofesi sebagai guru pada salah satu Madrasah Aliyah (SMA) dan merupakan sosok yang sangat tegas juga agamis. Ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga lulusan pondok pesantren. Karena itulah Nadiya tumbuh menjadi wanita muslimah yang memegang teguh nilai serta aturan agama.

Sejak sekolah dasar, ia sudah berpakaian rapi berkerudung apabila Ia keluar rumah. Lulus sekolah dasar, ia disekolahkan di Madrasah Tsanawiyah (SMP) dan tinggal di asrama pondok pesantren. Setelah tiga tahun, ia melanjutkan sekolahnya ke Madrasah Aliyah (SMA) dengan tetap mengenyam pendidikan sembari belajar agama di pondok pesantren. 

Selain atas kehendak dari orang tua, ia juga memang setuju disekolahkan di sekolah berbasis agama islam tersebut. Nadiya mengaku sangat bersyukur bisa mengemban ilmu pengetahuan umum sekaligus ilmu agama yang akan menjadikan hidupnya terarah dan memiliki pedoman.

Namun, terlepas dari hal tersebut, sejak duduk di bangku sekolah dasar Nadiya memiliki impian untuk menjadi seorang pengacara. Impian tersebut datang tiba-tiba di benak Nadiya saat secara tak sengaja ia sedang menonton televisi, lalu terdapat tayangan berita yang sedang meliput persidangan. 

Meskipun saat itu ia tidak mengerti apa yang ia tonton tersebut, namun ia langsung tertarik dengan figure seseorang yang berpakaian rapih serta berbicara dengan gagah di layar kaca yang ia tonton. Ya, ternyata fokusnya tertuju pada seorang pengacara. Sejak saat itu, ia selalu ikut kedua orang tuanya menonton berita hanya untuk melihat liputan persidangan seperti yang sebelumnya menarik perhatiannya.

Saat ia duduk dibangku Madrasah Aliyah (SMA), minatnya untuk menggeluti bidang advokat semakin tinggi. Namun, impiannya ini tak pernah sampai ia sampaikan kepada kedua orang tuanya. Ia takut akan membuat kedua orang yang paling berharga dihidupnya itu kecewa, karena kedua orang tuanya sedari dulu sangat berharap anaknya kelak akan menjadi guru mengikuti jejak ayahnya. Impian menjadi seorang pengacara pun ia simpan sendiri rapat-rapat.

Kendati begitu, diam-diam ia getol untuk mempelajari hal-hal yang menyangkut dunia advokat lewat media internet ataupun membaca buku-buku di perpustakaan. Entah mengapa, kesukaannya terhadap profesi itu tidaklah mudah untuk dipatahkan. Namun ia juga tak memungkiri bahwa tidaklah mudah juga untuk mendapat restu kedua orang tuanya agar ia diperbolehkan mengejar cita-citanya tersebut. Terlebih, latar belakang pendidikannya jua tak mendukung untuk ia melanjutkan studi di perguruan tinggi dengan jurusan yang advokat. Nadiya ikhlas melepas mimpinya tersebut.

Singkat cerita, ia mengikuti SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Nasional) dan memilih UIN Sultan Maulana Hasanudin dengan jurusan Pendidikan Agama Islam, dan Hukum Tata Negara. Ia berfikir bahwa kalaupun ia lolos, pilihan pertama pasti yang akan otomatis terpilih. Namun ternyata ia salah, ia lolos dengan pilihan jurusan kedua, jurusan impiannya. Nadiya senang, namun takut dan cemasnya lebih besar dari perasaan senangya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN