Bola

Sang Juara di Hati

13 November 2017   12:42 Diperbarui: 13 November 2017   12:53 1339 3 0
Sang Juara di Hati
sumber foto: bolasport.com

Bagi yang suka sepakbola (lokal) pasti mengikuti perkembangan Liga Indonesia yang digelar PSSI bersama Gojek dan Traveloka. Menjelang berakhirnya musim kompetisi, Komdis PSSI mengeluarkan sanksi kepada Mitra Kukar soal Sissoko dengan memberi tiga poin tambahan kepada Bhayangkara FC.

Keputusan itu mengubah klasemen, sehingga Bhayangkara FC menjadi juara musim ini dan Bali United menjadi runner up meski sama-sama kumpulkan 68 poin. Bali United yang sebelumnya digadang-gadang penggemarnya akan menjadi juara, harus  menelan kecewa yang amat sangat. Mereka menganggap kegagalan ini karena keputusan Komdis.

Di laga terakhir, Bhayangkara FC kalah 1-2 ketika berhadapan dengan Persija dan Bali United menang 3-0 atas Persegres Gresik United pada pertandingan tadi malam. Kegagalan Bali United meraih juara meski poin sama, karena kalah head to head ketika melawan Bhayangkara di kandang mereka sendiri.

Kecewa ? iya. Patah Hati ? Iya.  Siapa yang patah hati ?

Pertama ; para supporter. Ya, Supporter ! Kedua, baru tim Bali United (yang juga dikenal sebagai Serdadu Tridatu). Kenapa Supporter ?

Di sepakbola, supporter bagaikan pemain ke-12 dalam tim. Dia punya energi besar  (dan doa) untuk terlibat dalam permainan itu dan mengalahkan lawan. Jika anda sedang di Bali pasti merasakan rasa kecewa para supporter Bali United dalam beberapa hari ini. Mereka mengenakan kaos hitam dan tertulis Amor Ring Acintya PSSI. Bagaimanapun emosi terlibat ketika kesebelasan terbaik mereka, tersingkir .

Ingatan saya terlempar di suatu masa. Sekitar 20 tahun lalu saya pernah tinggal di Bali agak lama. Di masa itu Gelora Dewata adalah tim kebanggaan masyarakat pulau Dewata. Saya punya seorang atasan yang fanatik pada Gelora Dewata. Jika kesebelasan kesayangannya kalah, dia bisa datang ke kantor dengan muka merah; antara marah dan sedih. Ngomel-ngomel sendiri menumpahkan kekesalan;  tak bisa diajak ngobrol.   Kalau sudah begitu, rekan-rekannya tak akan berani mengganggu. Senggol bacokdeh. Membiarkan dia sendiri dengan kesedihan, selama beberapa saat.

"Jangan ganggu si A" seorang teman berkata.

"Gelora Dewata, pasti " saya

"Iya. Kirim naskah malaman saja, kalau sudah reda sedihnya, " teman.

Tapi jika Gelora Dewata menang, dia akan hadir di kantor dengan berseri-seri, menyapa setiap kami yang lewat dengan ramah. (Dalam perjalanan, Gelora Dewata menjelma menjadi Deltras dan bermain untuk Sidoarjo). Saya ingat peristiwa itu dengan baik sampai sekarang. Selalu senyum jika terkenang. Saya masih ingat ketika tim itu berlatih, ratusan penggemarnya setia menyaksikan di pinggir lapangan. Suatu kecintaan dan kebanggaan tanpa batas.

Jadi, saya bisa mengerti kenapa para supporter  "patah hati" jika tim kebanggaannya kalah. Karena kemenangan adalah kebanggaan; sepakbola adalah jiwa;  klub kesayangan bersemayam di hatinya.  Di beberapa daerah, kesedihan karena klub kesayangan kalah menjelma jadi kemarahan dan merusak fasilitas publik.

Kita bisa lihat sebagian orang Jakarta takut keluar kantor atau rumah jika Persija dan Persib main di Jakarta. Atau Bonek Surabaya menyerbu Bandung dan marah jika kesebelasannya kalah. Supporter punya energi besar. Tapi untunglah, di Bali tidak ada budaya marah yang destruktif; meski tim ini juga sempat alami peristiwa tak enak ketika di Makassar. Sedih sih sedih tapi mereka tertib dan tetap bangga pada kesebelasannya itu.

Saya yang  sekarang hidup berjarak dari Bali menilai, bahwa Bali United sangat rapi dan profesional dibanding tim lain.  Mungkin jaman menuntut itu. Yabes Tanuri berhasil mensinergikan produk (klub) dan marketing. Prestasi klub dijaga karena otomatis akan meningkatkan valueproduk, di sisi marketing, dia membangun brand image yang kuat.

Materi pemain Bali United cukup baik. Managemen tim tertata rapi. Mereka memaintenance supporter dengan baik, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dewasa.  Beberapa pemain melakukan visitasi ke sekolah-sekolah, melakukan dialog dengan supporter di beberapa tempat untuk mengikat batin. Mereka punya anthemyang dinyanyikan di selebrasi dan beberapa kesempatan. Juga memiliki sosial media dan channel digital sampai aplikasi. Bahkan mereka punya air minum kemasan dengan merek sama dengan nama tim, yang disiapkan oleh sponsor. Sebagai klub profesional, ini semua penting.  

Pelatih klub ini adalah Widodo Cahyono Putro, pemain legendaris yang dulu lama memperkuat Petrokimia Gresik. Seorang pemain cemerlang. Di masanya ada nama Rocky Putiray, Aji Santoso, dan Joko Susilo (ih betapa tuanya saya ya !) Ketika memperkuat Petro, Widodo pernah membawa klubnya jadi "juara tanpa mahkota" saat melawan Persib Bandung di era 95-an. Dan kini, dia berada di situasi yang nyaris sama; Bali United hanya di peringkat kedua ; juara tanpa mahkota.

Dengan besar hati, dia mengungkapkan penghargaan pada Bhayangkara FC yang jadi juara musim ini. Dia menyatakan tetap bangga dengan tim yang dilatihnya, seperti ribuan suporter yang juga bangga terhadap Serdadu Tridatu. "Bagi kami, permainan terbaik adalah permainan yang bisa memenangkan pertandingan dengan hati," kata Widodo.

Kemenangan 3-0 atas Persegres  tak akan ubah apapun. Melihat antusiasme sekitar 25 ribu supporter berpakaian hitam-hitam --sebagai tanda protes damai soal keputusan PSSI- memadati Stadion Kapten Wayan Dipta di Gianyar Minggu malam, seakan menyadarkan kita, siapa pemenang musim ini sebenar-benarnya; yang bertahta di hati jutaan pencinta sepak bola di Bali ; sang juara di hati.

"mba, si A marah dengan muka merah kalau Bali United kalah?"

"Masihlah, "

"Aduh,"

Pasti dia ngomel-ngomel soal PSSI deh.

Jakarta, Minggu malam, 21.00 WIB  #TerkenangSepakbolaBali