Mohon tunggu...
ERICK JEHAMAN
ERICK JEHAMAN Mohon Tunggu... Mahasiswa - belajar menjalani hidup.

Mahasiswa Filsafat

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Dimensi Ekoteologi Budaya "Barong Wae" Orang Manggarai

3 Februari 2022   08:04 Diperbarui: 3 Februari 2022   12:16 1186
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

foto dari: https://3.bp.blogspot.com/-bCZIgG9v-_0/W-AO4OyWKTI/AAAAAAAAMDs/uHJ0C8S8kH83YHH_FnUXRR6MMPRa_JCIACLcBGAs/s1600/Screenshot_2018-11-05-17-29-58-78.png

Tulisan ini merupakan sebuah pendekatan Antropologi Budaya. Antropologi mempelajari manusia dengan segala aspeknya berperan langsung dalam memecahkan masalah-masalah manusia yang berkaitan dengan pembangunan; meneliti, mencari dan menemukan kebutuhan masyarakat (Raymundus I Made Sudhiarsa: 2017) .  Dalam kuliah Antropologi Budaya 2 sendiri salah satu perhatian utamanya adalah mengembangkan daya sensitivitas terhadap adanya daya-daya perusak dalam budaya dan memajukan tanggung jawab manusia dalam sebagai subjek budaya dan memajukan kontribusi khas antropologi kristiani dalam kontruksi budaya yang humanis. Raymundus I Made Sudhiarsa: 2017) \

Budaya Barong Wae

Barong Wae (Petrus Janggur: 2010) merupakan salah satu ritus penting dalam budaya penti orang Manggarai. Budaya penti sendiri merupakan sebuah perayaan syukur orang Manggarai kepada leluhur dan Sang pemberi hidup yang adalah Wujud Tertinggi (Mori Kerang ata jari agu dedek). Selain itu, upaca Penti juga menandakan Celung Cekeng Wali Ntaung (pergantian tahun dan musim). Perayaan penti ini dirayakan dalam situasi formal dan dengan penuh suasana kegembiraan dan sukacita. 

Perayaan ini bertitik tolak dari kesadaran orang Manggarai akan keberadaan Mori Kraeng yang selalu memberikan pelindungan, berkat bagi usaha dan kesehatan kepada mereka. Mereka menyadari bahwa keberalangsungan hidup mereka terjadi berkat penyelenggaraan Mori Kraeng, yang menjadi penguasa awang eta tana wa (langit dan bumi), termasuk hidup mereka. Kesadaran akan hal inilah mendorong orang Manggarai untuk menyampaikan ucapan syukur kepada Mori Kraeng. Secara impilisit perayaan penti juga mengindikasikan adanya kesadaran orang Manggarai untuk tetap membangun relasi dengan Mori Kraeng. Selain membangun relasi dengan Mori Kraeng, dalam budaya Penti orang Manggarai juga berupaya menjaga hubungan (membangun relasi) dengan alam. Konsep relasi dengan alam sendiri tidak terlepas dari konsep relasi dengan pencipta (Mori Kraeng). Mori Kraeng adalah pencipta segala sesuatu yang dalam awang eta tana wa (langit dan bumi).

Barong Wae adalah upacara yang dilakukan di mata air, di mana warga kampung menimba air untuk minum. Tujuan dari Barong Wae ini adalah mau mengajak roh-roh penjaga air tersebut. Sehingga dalam tradisi di Manggarai sering terdengar dengan sebuah ungkapan,"mboas wae woang, kembus wae teku". Ungkapan ini merupakan harapan dari warga kampung, agar volume airnya tetap seperti biasa atau tidak mengalami surut. Inilah sebabnya mereka melakukan upacara di air minum. Mereka percaya bahwa di mata air itu pasti ada penjaganya, sehingga dalam upacara penti penjaga air itu harus diudang untuk bersama-sama merayakan pesta penti tersebut.

Disisi lain upacara Barong Wae bertujuan untuk menjaga keharmonisan relasi antara manusia dengan alam. Mereka percaya bahwa air merupakan sumber dari kehidupan segala makhluk hidup. Karena itu, agar airnya tidak surut, perlu diadakan upacara di mata air tersebut. Upacara di mata ini, bukan hanya untuk mengundang roh-roh penjaga air, tetapi juga disampaikan sykur kepada Tuhan yang telah menciptakan mata air untuk kehidupan bagi seluruh warga kampung. Hewan kurban dalam upcara Barong Wae ini adalah ayam dan telur.

Upacara Barong Wae ini sebenarnya tidak terlepas dari cerita dedek awing agu tana (kisah penciptaan Langit dan Bumi) dalam masyarakat Manggarai.  Cerita ini menyiratkan relasi antara Mori Kraeng, manusia dan alam (Pius Pandor: 2015). Untuk menjaga relasi tersebut dalam diadakan acara Barong Wae yakni menyampaikan kepada roh leluhur yangmenjaga mata air desa, bahwa masyarakat akan melaksanakan upacara penti dan mengundang mereka untuk hadir, undangan ini juga merupakan bentuk ungkapan syukur atas jasa mereka dalam menjaga mata air (Sigebertus Candrakiawan Nuka: 2020).

Dimensi Ekoteologis dalam Budaya Barong Wae: Sebuah Peluang Berteologi

Istilah ekoteologi berasal dari dua istilah, yakni ekologi dan teologi. Istilah ekologi pertama kali dimunculkan oleh Ernst Haeckel, seorang murid Darwin pada tahun 1866, yang menunjuk pada keseluruhan organisme atau pola hubungan antara organisme dan lingkungannya (Robert. P. Borrong: 2004). Istilah ekologi sendiri berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu oikos dan logos. Istilah ini mula-mula diperkenalkan oleh Ernst Haeckel pada tahun 1869. Ekologi berasal dari kata Yunani oikos, yang berarti rumah dan logos, yang berarti ilmu/pengetahuan. Jadi, ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik (interaksi) antara organisme dengan alam sekitar atau lingkungannya (Djohar Maknun : 2017).

Sedangkan teologi secara etimologis berasal dari dua kata berbahasa Yunani yakni "theos" (Allah) dan "logos" (diskursus). Teologi merupakan diskursus tentang Allah. Pengertian etimologis ini sesuai dengan bagaimana teologi dimengerti sebelum ia dimengerti kemudian sebagai ilmu iman, yaitu bahwa ia merupakan diskursus tentang Allah (Xaverius  Chandra). Teologi dapat dilihat sebagai diskursus tentang Allah maupun ilmu iman meski keduanya sebenarnya tidak berbeda dan berhubungan erat. Hanya saja, di sini kekayaan makna dari teologi mau ditunjukkan dengan meletakkan keduanya dalam bahasan tersendiri. Teologi sebagai diskursus akan Allah berangkat dari Allah, sedangkan teologi sebagai ilmu iman berangkat dari iman (Xaverius  Chandra).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun