Mohon tunggu...
Erick Mubarok
Erick Mubarok Mohon Tunggu... Penulis

Petani yang sedang belajar komunikasi | Penyuka sejarah | Penonton dagelan | Gooner dan Bobotoh

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pesta Ekspor Pertanian Daerah

29 April 2019   12:27 Diperbarui: 29 April 2019   12:29 0 0 0 Mohon Tunggu...

Selama beberapa pekan terakhir banyak beredar informasi tentang maraknya ekspor komoditas pertanian dari berbagai daerah. Ini tentu saja jadi kabar heboh. Kementerian Pertanian (Kementan) mampu dorong daerah jadi sejahtera gara-gara potensi agrarisnya.

Di Mamuju, Sulawesi Barat, telah dilepas ekspor RBD oil palm sebanyak 15 ribu MT. Mau tahu nilai yang diperoleh? Sampai Rp 107,5 miliar! Kalau di Palu, Sulawesi Tengah, baru saja ekspor biji kakao sampai 4.705 ton atau setara Rp 134 miliar. Dahsyat!

Dari Banten, selama tahun 2018 tercatat nilai ekspor pertaniannya dapat menembus Rp 1,26 triliun. Di antaranya berupa sarang burung walet, manggis, mangga, rambutan, tanaman hias dan lainnya. Sedangkan dari ujung Timur Indonesia, selama Januari-Maret 2019 angka ekspor pertaniannya melonjak 2,91 persen dari tahun sebelumnya.

Akhir Maret lalu, Merauke, dengan bangganya mengekspor 12 ton beras ke Papua Nugini. Siapa bilang beras kita terus impor jadinya? Ah, masih banyak deretan prestasi Kementan menyangkut dukungan ke daerah agar mampu menunjukkan kualitas pertaniannya.

Itu semua bisa jadi tolak ukur kalau Kementan punya peta arah membangun basis kesejahteraan ekonomi daerah dengan menggali kekayaan pertaniannya. Bukan cuma diam saja.

Maraknya ekspor pertanian dari daerah menunjukkan bahwa Kementan menyasar pembangunan pertanian yang berkeadilan. Nggak ada pilih kasih, semua petani Indonesia harus makmur.

Kalau ditelaah mendalam, bergeliatnya ekspor pertanian dari daerah bisa buat daya tawar Indonesia di kancah perdagangan internasional. Kita punya banyak bahan komoditas strategis yang dibutuhkan dunia.

Dengan begitu, jangan coba menekan harga di tingkat pasaran dunia. Di situ Indonesia punya jurus ampuh supaya jangan main-main merendahkan harga.

So, Kementan nggak cuma dongkrak peningkatan ekonomi negara. Tapi juga ikut memainkan kekuatan Indonesia soal tingkat harga di perdagangan internasonal.

Bravo Kementan! *