Erick Mubarok
Erick Mubarok

Ghost writer | Penyuka sejarah | Penonton dagelan | Gooner dan Bobotoh

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Meski Rupiah Lemah, BUMN tak akan Bangkrut Garap Proyek Bisnisnya

13 September 2018   13:32 Diperbarui: 13 September 2018   13:34 832 0 0

Jakarta - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai memiliki peranan strategis untuk kembali menstabilkan rupiah dari gejolak naiknya kurs dolar Amerika Serikat. BUMN memiliki nilai lebih sebagai industri komersial negara, misalnya dari proyek bisnis infrastruktur.

Banyaknya proyek bisnis yang kini digarap BUMN juga masih dalam kategori aman secara pendanaan saat nilai rupiah melemah dibandingkan dolar Amerika Serikat. Risiko kerugian atau gagal bayar pinjaman amat mustahil terjadi, seperti dalam pengerjaan infrastruktur, oleh BUMN.

Hal tersebut dikemukakan pengamat ekonomi Christian Wibisono, di Jakarta, Rabu (12/9/2018). Menurut Christian Wibisono, proyek infrastruktur bertujuan untuk kemanfaatan publik sehingga diyakini BUMN telah memiliki jaminan hitungan keuntungan ketika telah beroperasi.

"Tercapainya titik keseimbangan nilai tukar rupiah dapat dilihat melalui peningkatan ekspor dan mengurangi jumlah impor sehingga dapat menarik jumlah investor melalui proyek bisnis infrastruktur," ujar Christian Wibisono.

Christian Wibisono menjelaskan, BUMN telah mempunyai dasar internal rate of return (IRR) untuk menjamin keuangan yang tidak berisiko dalam proyek bisnisnya. Bahkan, semua pelaku bisnis juga mengacu pada IRR ketika mengerjakan suatu proyek.

Christian Wibisono mengungkapkan, melalui perhitungan IRR yang tepat maka BUMN menentukan stabilisasi rupiah sebab memiliki indikator tingkat efisiensi dari investasi proyek bisnisnya.

"Siapapun itu kalau dia membangun ya memang harus untung, entah itu BUMN atau swasta. Ukuran kinerja dari BUMN adalah IRR. Di Singapura semua pembangunan infrastruktur dikelola oleh BUMN tapi efisien dan berkontribusi pada efisiensi nasional," ucap Christian Wibisono.

Pentingnya keterlibatan BUMN dalam pendanaan dan pengerjaan misalnya proyek pembangunan infrastruktur, menurut Christian Wibisono, sebab Indonesia bukan negara yang tak membutuhkan peranan entitas kelompok lainnya.

"Semua pembangunan harus diarahkan untuk mencapai tingkat produktivitas dan efisiensi yang berdaya saing global," ujar Christian Wibisono.

Christianto Wibisono mengimbau agar BUMN semakin meningkatkan lagi secara berkelanjutan pengelolaan koorporasi yang profesional dan efisien. Sehingga BUMN tidak lagi terjerat dalam inefisiensi birokrasi.

Situasi melemahnya nilai rupiah dibandingkan mata uang dolar Amerika Serikat dikhawatirkan berdampak kerugian pada BUMN, bahkan berpotensi gagal bayar pendanaan proyek infrastruktur hingga mengalami bangkrut.

Beberapa kalangan menilai, manajemen BUMN belum mempunyai sistem likuiditas keuangan yang baik dalam menghadapi situasi melemahnya rupiah.