Mohon tunggu...
Ericho Nanda
Ericho Nanda Mohon Tunggu... Wiraswasta - Seorang Indonesia tinggal di Melbourne

Peminat Musik dan Pariwisata

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Benarkah Pemetik Tomat Digaji 60 Juta? Ini Pengalaman Saya

12 Januari 2018   20:10 Diperbarui: 21 Januari 2018   09:20 3531
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mesin dikemudikan oleh satu orang driver, di atas mesin juga ada petugas yang bertugas untuk menyortir tomat. Tomat yang terlalu matang atau busuk dibuang, sementara yang bagus diteruskan ke dalam penampungan tomat di dalam mesin. 

Aktivitas ini terus kami lakukan hingga penampungan penuh. Jika penampungan sudah terisi penuh, maka saatnya untuk memindahkan muatan tomat ke dalam bin dan dibawa ke shed untuk packing serta didistribusikan ke konsumen. Sementara big machine memindahkan muatan, pekerja bisa beristirahat sejenak untuk sekedar mengendurkan otot sebelum kembali mengisi muatan mesin.

Sejujurnya, memetik menggunakan mesin tidaklah terlalu capek secara fisik, malah berasa naik odong-odong, atau naik wahana di dunia fantasi. Namun tantangannya, ketika pohon tomat terlalu lebat dan buahnya banyak banget, pemetik harus secepat mungkin membuka semak-semak dan menjangkau tomat sebanyak mungkin, karena kerjaan ini dibayar dengan sistem kontrak. Jika tidak cekatan, pendapatan kita akan minim!

Ada perasaan puas ketika kami bisa menjangkau semua tomat yang terlihat tapi ada kalanya pas lagi asik-asiknya metik, gak taunya tomat busuk yang dipetik. Jam 11 tiba, berarti waktunya makan siang, coca-cola dingin dan bekel makan siang siap disikat! Memang paling enak minum soft drink dingin pas matahari lagi tinggi-tingginya.

Duh, waktu makan siang abis, waktunya kembali ke kenyataan bahwa kami harus memetik ketika matahari tepat di atas kepala dan serius memaparkan panasnya. Tiba-tiba terdengar alunan musik dangdut dari bangku sebelah, dan yang nyetel bukan orang Indonesia. Wow, ini di Aussie apa di Pantura dah?! Kadang kala memang ada yang membawa bluetooth speaker dan menyalakan musik agar tidak terlalu sumpek ketika kerja.

Tak teras (padahal berasa banget), matahari sudah turun, waktunya pulang. Perkerjaan di farm memang terbilang berat, terutama bagi mereka yang belum pernah bekerja fisik sebelumnya. Terakhir, biasanya musim panen berakhir dalam waktu lebih kurang 3 bulan.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Menurut saya, bekerja di sini bukan semata mencari uang atau sebagai syarat 2nd year visa, melainkan pertukaran kebudayaan (cross culture). Memang, tiap orang yang datang ke sini memiliki motivasi yang berbeda-beda, ada yang murni cari uang, ada yang cari hari untuk visa, ada yang seru-seruan, dsb. Menariknya, orang-orang yang datang ke sini memiki latar belakang, kebangsaan, dan budaya yang berbeda beda. 

Meski didominasi oleh orang Indonesia, ada juga yang berasal dari Malaysia, Korea, Jepang, China, Chile, Swedia, Jerman, Itali, Inggris, Prancis dan juga penduduk asli Australia.

Dibayar dengan sistem "borongan" (contract)

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Artinya semakin banyak tomat yang dipetik, semakin banyak uang yang diperoleh. Kami harus bekerja sama untuk ngumpulin tomat secepat dan sebanyak mungkin. Namun yang namanya kerja tim pasti ada saja yang malas, ada yang cuek, ada yang bossy, ada yang aneh-aneh, kan kasian yang kerjanya rajin dan metiknya cepat, soalnya hasil tomat yang diperoleh ditakar dengan menggunakan bin dikali $44/bin dibagi jumlah pekerja. Iya dibagi rata, baik yang rajin maupun malas.

Singkatnya, dalam satu hari tiap orang bisa mengantongi rata-rata $80 - $180 atau $700-$900 seminggu atau $3600 dalam sebulan. Kalo dollar Australia dipukul rata Rp 10.000 per $1 maka para pemetik bisa mendapatkan Rp 36.000.000/ bulan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun