Mohon tunggu...
Eny Veronika
Eny Veronika Mohon Tunggu... Health, Social, Culture

A free spirit, trying to discover every single components on the planet earth. Addicted to art, culture, and a classic Turkish bread named Poğaça.

Selanjutnya

Tutup

Digital Pilihan

YouTube, Madu atau Racun Sosial?

8 Desember 2019   11:43 Diperbarui: 8 Desember 2019   12:22 93 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
YouTube, Madu atau Racun Sosial?
gambar olahan pribadi

Penuh manfaat bagaikan madu namun berbahaya bagaikan racun.

Popularitas Youtube sudah tidak diragukan lagi. Aplikasi youtube di android yang dirilis sejak 20 Oktober 2010 ini sudah diunduh lebih dari 5 Milyar pengguna di dunia. Dikutip dari Kominfo.go.id, berdasarkan Hasil Survei Nasional Penetrasi Pengguna Internet 2018, Youtube merupakan platform media sosial urutan ketiga dengan angka 15,1% setelah facebook dan twitter.

Sedangkan berdasarkan hasil riset Wearesocial Hotsuite yang dirilis Januari 2019 pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Untuk pilihan media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah Youtube, yaitu sebesar 88% dari pengguna media sosial. Youtube mulai beroperasi sejak tahun 2005, lalu dibeli google satu tahun kemudian.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, 92% pengguna Indonesia menyatakan Youtube adalah tujuan pertama mereka ketika mencari konten video. Karena menurut pendapat umum, Youtube memudahkan mereka dalam mencari konten yang menarik dengan topik yang beragam. Google mengatakan bahwa 57% pengguna YouTube mencari konten hiburan, serta 86% juga menyatakan terbiasa mengunjungi situs tersebut untuk mempelajari informasi baru.

Pada tanggal 20 November hingga 2 Desember 2019, mahasiswa ekstensi FKM UI 2019 melakukan penelitian tentang Fenomena Penggunaan Youtube pada Mahasiswa Ekstensi FKM UI 2019. Setelah dilakukan observasi terlebih dahulu, hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa ekstensi FKM UI 2019 cenderung menggunakan sosial media, salah satunya Youtube, ketika ada waktu senggang dan bahkan menjadi media pembelajaran.

Berdasarkan hasil penelitian, empat dari enam narasumber mengakses Youtube untuk hiburan dan semuanya sepakat menggunakan Youtube untuk belajar dan menambah wawasan.

Menurut pengakuan dari lima narasumber saat ditanya berapa lama waktu untuk mengakses Youtube yaitu lebih dari 1 jam/hari dan yang lain mengaksesnya setiap dua hari sekali. Adapun biaya yang dihabiskan untuk mengakses youtube, keenam responden berada dalam kisaran Rp 50.000-150.000/bulan.

Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui teknik wawancara ini mengemukakan pendapat narasumber tentang dampak yang dirasakan setelah lama menjadi pengguna aktif Youtube. Lima dari enam narasumber mengaku mengikuti kegiatan seperti dalam video, keenam narasumber mengaku bertambah wawasannya, dan keenam narasumber sepakat mendapatkan hiburan saat waktu senggang.

Selain itu, tiga dari enam narasumber bersikap toleran pada teman/kolega yang main HP saat sedang berkumpul, dua dari enam narasumber mengaku sering membuka HP saat sedang berkumpul, dan empat dari enam narasumber mengaku tidak suka dengan orang yang sibuk main HP saat sedang berkumpul. Narasumber setuju bahwa mereka cenderung mengikuti gaya hidup influencer yang sering mereka tonton.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa dibalik jutaan manfaat yang dapat diperoleh melalui YouTube. Narasumber yang mengikuti channel kecantikan setuju bahwa YouTube membuatnya lebih konsumtif. Begitu juga dengan banyaknya konten yang mempertontonkan budaya anak muda yang sangat berbeda  dengan budaya di Indonesia. Membuat YouTube menjadi seperti pedang bermata dua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x