Mohon tunggu...
Eny Veronika
Eny Veronika Mohon Tunggu... Guru - Health, Social, Culture

A free spirit, trying to discover every single components on the planet earth. Addicted to art, culture, and a classic Turkish bread named Poğaça.

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Pilihan

Saya, Penduduk Tetap yang Tak Diundang Pesta!

17 April 2019   18:53 Diperbarui: 17 April 2019   20:09 174
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

17 April 2019. Hari ini disebut-sebut sebagai "Pesta Demokrasi" bagi rakyat Indonesia.

Pesta ini seharusnya diramaikan oleh seluruh rakyat Indonesia yang sudah mendapatkan hak untuk bersuara. Mereka yang sudah ber-hak seharusnya mendapatkan formulir undangan C6 untuk merayakan pesta, dan bagi rakyat yang sedang tidak berada di tempat aslinya dapat mengajukan formulir undangan A6 untuk tetap bisa memeriahkan pesta.

Saya seorang wanita berusia 23 tahun. Sejak lahir saya sudah tinggal di tempat ini (salah satu daerah di kota Bekasi) dan belum pernah sekalipun mengajukan perpindahan, atau melaksanakan pemilu di kota lain atau menikah atau apapun itu yang dapat menyebabkan sebuah alasan bagi panitia untuk tidak mengundang saya dalam pesta demokrasi tahun ini.

Saya sudah mendengar keterlambatan undangan dari beberapa media informasi. Hingga H-2 pesta, saya mulai mempertanyakan undangan yang tak kunjung datang. Orang tua saya bilang bahwa undangannya ada di pak RT, memang begitu tahun-tahun sebelumnya, kami biasanya mendapatkan undangan lengkap yang sudah ada di pak RT.

H-1 saya bekerja dari pagi sampai malam. Tidak sempat untuk memastikan apakah saya diundang atau tidak. Saya sampai di rumah sudah sangat malam ketika mendapati bahwa dua dari tujuh orang di rumah saya tidak diundang, dan saya salah satunya.

"Bawa e-KTP saja ke TPS besok, bisa langsung kok." Begitu pesan pak RT kepada tante saya, yang menerima saat pak RT mengantar undangan C6 ke rumah. Ya, saya juga sudah baca mengenai ini di beberapa platform berita online.

Pagi pukul 07.30 WIB, di hari H pesta, saya dapat informasi dari tante saya yang baru saja kembali dari TPS bahwa bagi 'pemilih tambahan' yaitu yang tidak mendapatkan undangan C6 baru bisa memilih pukul 12.00 WIB.

Pukul 11.40 WIB saya sudah standby di TPS 110, posisinya tepat di belakang rumah -- depan rumah bapak RT kami -- yang sudah saya tinggali selama 23 tahun itu. TPS yang menjadi tempat penampungan suara keluarga saya di pesta demokrasi sebelum-sebelumnya.

Pukul 12.00 WIB saya memberikan KTP saya sesuai instruksi panitia. Saya menunggu sambil mengamati urutan panggilan pemilih tambahan yang tidak bisa saya pahami. Mungkin mereka lelah sehingga tidak ingat mana yang daftar duluan. 

Sempat kesal karena ke-tidak-telitian dan ke-tidak-profesionalan panitia. Tapi, ya sudahlah. Pak RT yang berhasil membaca raut muka kekesalan saya dan orang-orang yang sudah dulu datang tapi masih dibarisan penunggu sudah berulang kali mengingatkan panitia untuk mendahulukan yang datang lebih dulu. Jadi, ya sudahlah.

Saya berusaha bersabar hingga pukul 12.35 WIB panitia menyatakan bahwa surat suara habis. Jadi, kami, yang sudah lama menunggu di TPS tersebut, diminta untuk ke TPS lain -- yang memang jaraknya tidak terlalu jauh.

Kekesalan saya sudah di ujung kepala. Rasanya mau mengacak-acak TPS tersebut melihat kami yang wajahnya memang familiar penduduk asli daerah TPS ini, malah kehabisan surat suara. Lucu. Tapi membuat keributan di TPS tentu tidak akan memberikan saya hak suara disana, jadi saya memilih untuk bergegas ke TPS yang disarankan. TPS 134.

Jam 12.45 WIB TPS 134 meminta fotokopi KK dan e-KTP. Ini tidak sejalan dengan yang diinstruksikan TPS sebelumnya, yang hanya mensyaratkan e-KTP saja. Maka saya menyiapkan dokumen yang diminta (untungnya memang sudah saya bawa, tinggal fotokopi saja) dan berhasil mendaftar pukul 12.55 WIB.

Beberapa orang yang bernasib sama dengan saya (kehabisan surat suara -- pindah ke TPS 134) diminta pergi untuk mengambil dokumen yang disyaratkan dan oleh salah satu bawaslu dijanjikan bisa masuk setelah kembali. Namun, ketika kembali lagi dengan dokumen yang disyaratkan, dia tidak diizinkan masuk. Bukan hanya itu, tante saya yang dengan baik-baik berusaha menjelaskan apa yang terjadi malah dijawab dengan bahasa yang menurut saya kurang beretika.

Bukan hanya kami, saya juga melihat beberapa peserta pesta yang beradu mulut dengan panitia di TPS 110, 134, dan beberapa TPS lainnya.

TPS 134 ini berkelimpahan surat suara. Ketika saya di bilik, mereka mengikat-ikat sisa surat suara.

Yang ada di kepala saya bukan langsung memikirkan oknum-oknum yang mungkin bisa menyalahgunakan sisa surat suara.

Yang ada di kepala saya hanyalah kekecewaan.

Betapa kecewanya saya dengan Pesta yang bukan kali pertama diselenggarakan ini masih terbelit dalam sistem yang tidak jelas. Pesta yang seharusnya dirayakan dengan meriah, tidak mampu menjamu para tamunya.

Paham betul, kekecewaan saya tidak berarti.

Karena itu, saya hanya berharap, para penjamu pesta turut merayakannya dengan tulus, jujur, dan adil. Dan kelak, di pesta selanjutnya, ada perbaikan yang berarti.

Selamat hari raya demokrasi!

Regards,

Penduduk Tetap yang Tak Diundang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun