Mohon tunggu...
Enik Rusmiati
Enik Rusmiati Mohon Tunggu... Guru - Guru

Yang membedakan kita hari ini dengan satu tahun yang akan datang adalah buku-buku yang kita baca

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Harapan antara Hujan dan Banjir

21 Oktober 2022   19:53 Diperbarui: 21 Oktober 2022   20:02 845
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilistrasi banjir di Bogor. Sumber: liputan6.com

"Sepertinya kampung kita akan mengalami banjir lagi, bila hujan tidak reda juga," demikian kata salah satu pembeli di warung kopi bu Sum.

"Selama cara hidup kita tidak berubah,  tidak menyayangi dan peduli lingkungan, maka ya harus terima hadiah banjir tiap tahunnya," gumam bu Sumirah sambil mengaduk kopi pahit pesanan salah satu lelaki penjual mainan.

Bagi bu Sumirah, berita banjir merupakan hal yang biasa, karena tiap tahun selalu dialaminya bersama warga kampung Ledokan. Dinamakan Ledokan, memang desa ini letaknya di dataran rendah. Ledok dalam bahasa Jawa legok, ombo. Kampung ledokan ini berada di pinggir sungai. Jadi wajar saja bila tiap hujan deras airnya meluap sampai ke perkampungan.

Tidak ada pilihan lain bagi bu Sumirah dan warga lain. Mau pindah tempat, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan lahan itu merupakan warisan turun temurun dari orangtua mereka.

Dulu bu Sum sangat bangga dengan kampung Ledokan ini. Meski hujan tidak pernah merasa khawatir akan terjadi banjir atau longsor. Bahkan bu Sum biasa bermain hujan di hutan seberang sungai belakang rumah.

Kala itu masih banyak tumbuhan jati yang berjejer rapi di atas sepanjang sungai. Bu Sum dan teman-temanya berenang dengan riang di tengah hujan. Meski hujan deras, tidak pernah khawatir akan terjadi longsor. Karena pohon-pohon besar di sekitar sungai membantu menyerap air hujan dan menahan tanah dari longsor.

Bahkan warga Kampung Ledokan senantiasa menunggu datangnya hujan sebagai suatu yang sangat disyukuri, karena bisa melihat keindahan luapan arus air sungai.

Bila hari-hari biasa, sungai sangat dangkal, bahkan kadang malah tidak ada airnya, warga biasa menanaminya dengan singkong. Datangnya hujan dianggap sebagai anugerah wisata gratis, tanpa harus ke kota.

Bila hujan deras berhari-hari, air sungai meluap. Namun tidak pernah sampai ke atas, hanya sebatas bibir sungai. Warga biasanya berbondong-bondong menyaksikan arus tersebut.

Ada keindahan yang tersembunyi di dalam arus sungai tersebut. Keadaan itu hanya berlangsung dua sampai tiga hari. Setelah itu, bila huja reda, maka air sungai akan surut lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun