Mohon tunggu...
Endro S Efendi
Endro S Efendi Mohon Tunggu... Penulis & Trainer Teknologi Pikiran

Intens mendalami hipnoterapi berbasis teknologi pikiran untuk membantu kualitas hidup manusia pada aspek mental, emosi, dan spiritual. Sehari-hari, aktif sebagai penulis dan hipnoterapis klinis, juga sebagai pembicara publik. Aktif menulis artikel di blog pribadi www.endrosefendi.com Juga aktif membuat konten video di https://www.youtube.com/user/endroeffendi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ada 35 Anak Mati Sia-sia, KPAI ke Mana?

10 September 2019   20:28 Diperbarui: 10 September 2019   20:33 0 10 2 Mohon Tunggu...
Ada 35 Anak Mati Sia-sia, KPAI ke Mana?
Proses pencarian anak yang tenggelam di lubang bekas tambang batu bara di Kaltim. Tribunnews.

Meski tidak menjadi anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), melalui ilmu mind technology yang saya tekuni selama ini, cukup intens memberikan pendampingan pada anak-anak di Kaltim. Dari mulai memberikan motivasi, membantu anak-anak melepaskan hambatan mental, hingga membantu para orang tua mengatasi berbagai persoalan yang terjadi pada anaknya. Termasuk membantu mengatasi trauma pada anak.

Trauma karena orang tuanya bercerai, hingga trauma karena orang tuanya melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan anak korban pelecehan seksual, korban sodomi, hingga anak-anak yang sudah terpapar lesbian, gay, biseks dan transgender (LGBT).

Pendek kata, begitu banyak kasus yang perlu penanganan serius dan menjadi pekerjaan rumah bersama antara pemerintah dan berbagai pihak. Atas dasar itulah, sampai detik ini, saya masih tidak habis pikir, kenapa KPAI yang nyata-nyata digaji dengan uang rakyat justru menghentikan impian anak-anak yang ingin berprestasi sebagai atlet bulu tangkis. Sementara, tak sedikit para orang tua termasuk anak-anak yang benar-benar menggantungkan impian mengharumkan nama bangsa ini melalui prestasi olahraga.

Masih lekat di ingatan saya, ketika ada orang tua yang membawa anaknya agar menjalani proses terapi. Anak yang masih usia sekolah dasar ini punya potensi besar menjadi atlet bulu tangkis profesional. Persoalannya, setiap kali bertanding dan ditonton kedua orang tuanya, permainan si anak auto jelek. Setiap kali melihat orang tuanya hadir, pasti langsung kalah. Kedua orang tuanya mau tidak mau harus sembunyi ketika menonton anaknya bermain, agar menang.

Dengan proses hipnoterapi berbasis teknologi pikiran, si anak akhirnya berhasil dicabut akar masalahnya. Ternyata ada masa lalu anak yang cukup mengganggu, sehingga rasa kurang percaya dirinya terganggu, terutama ketika dilihat kedua orang tuanya. Akar masalahnya adalah, ketika si anak usia 5 tahun, diajak jalan-jalan ke mal. Saat itulah, pipinya dicolek oleh salah satu pramuniaga yang berpakaian seksi. Kejadian itulah yang membuat anak ini selalu gugup dan kehilangan rasa percaya diri. Setelah proses terapi selesai, si anak merasa semakin percaya diri. Tiga bulan setelah terapi, saya mendapat kabar si anak akhirnya lolos audisi umum, dan hingga kini sudah menjadi atlet binaan PB Djarum.  

Dari contoh kasus di atas sudah jelas bahwa persoalan anak tidak sekadar bagaimana mendongkrak prestasinya. Ada banyak persoalan di balik upaya meningkatkan prestasi anak yang juga perlu perhatian serius. Dari mulai mental, fisik, hingga psikologis anak. Adakah KPAI sudah menyentuh aspek ini? Kenapa KPAI melihat dengan kaca mata kuda sehingga tidak bisa membedakan mana PT Djarum dan mana PB Djarum? Bagaimana dengan perusahaan rokok Sampoerna yang juga memiliki Sampoerna Foundation dalam memberikan beasiswa? Atau bagaimana jika perusahaan perbankan yang memberikan beasiswa? Jangan-jangan disoal pula, karena dianggap haram. Sebab perbankan dituding pakai uang riba

Melihat kenyataan di atas, sangat sulit menepis anggapan bahwa apa yang dilakukan KPAI seolah ada titipan dari pihak lain. Atau jangan-jangan ada persaingan bisnis di balik upaya menggembosi keberadaan Djarum.

Kalau Djarum dipersulit, apa KPAI mampu menggantikan tugas meningkatkan prestasi olahraga itu? Saya akan bantu menjawab, tidak akan sanggup. Kenapa? Nyatanya, banyak kasus lain yang diabaikan begitu saja oleh KPAI. Mau contoh? Yuk buka data di Kaltim. Sudah ada 35 anak Kaltim yang tewas di lubang bekas tambang batu bara di provinsi ini. Apa yang sudah dilakukan KPAI? Atau jangan-jangan memang tidak pernah tahu atau bahkan pura-pura tidak tahu?

Apa yang kira-kira akan dilakukan oleh KPAI atas banyaknya anak yang tewas di lubang tambang batu bara itu? Mau meniru jawaban dari Gubernur Kaltim Isran Noor yang menganggap itu sebagai takdir atau nasib? Kalau itu juga jawabannya, lalu untuk apa dibentuk KPAI dengan anggaran yang tidak sedikit.

Kalau pun misalnya apa yang ditudingkan oleh KPAI benar, bukankah komisi itu sudah lama terbentuk? Apa jangan-jangan ada udang di balik peyek sehingga baru kali ini disoal. Atau malah ingin menunjukkan bahwa kualitas anggota KPAI yang periode sebelumnya tidak bagus?

Semua hanya anggota KPAI yang tahu. Namun yang jelas, masyarakat di Tanah Air saat ini sudah sangat kritis. Ingat publik +62 saat ini sudah pandai memilah mana data fakta mana yang mengada-ada. Banyaknya berita dusta yang banjir selama ini, justru menjadikan publik semakin dewasa dan semakin julid yang positif.

Bagaimana menurut sahabat?