Mohon tunggu...
Endro S Efendi
Endro S Efendi Mohon Tunggu... Penulis & Trainer Teknologi Pikiran

Intens mendalami hipnoterapi berbasis teknologi pikiran untuk membantu kualitas hidup manusia pada aspek mental, emosi, dan spiritual. Sehari-hari, aktif sebagai penulis dan hipnoterapis klinis, juga sebagai pembicara publik. Aktif menulis artikel di blog pribadi www.endrosefendi.com Juga aktif membuat konten video di https://www.youtube.com/user/endroeffendi

Selanjutnya

Tutup

Thrkompasiana Pilihan

Merajut Ramadan dengan Hati dan Pikiran Nyaman

26 Mei 2019   02:00 Diperbarui: 26 Mei 2019   02:08 0 1 0 Mohon Tunggu...
Merajut Ramadan dengan Hati dan Pikiran Nyaman
detik.com

Ramadan 2019 ini, khusus bagi umat muslim di Indonesia, ada tambahan bonus khusus. Bonus apa itu? Bonus pahala berlimpah bagi yang mampu mengendalikan emosi dan perasaan yang nyaman. Pilpres yang berlangsung 17 April 2019 ujungnya menyeruak sampai Ramadan. Mau tidak mau, masih memicu pro-kontra.

Yang menang dituding melakukan kecurangan. Yang kalah, dianggap tidak legowo dan membuat kericuhan. Tak ada titik temu, semua mau menang. Padahal, ujian dan cobaan saat Ramadan ya ketika mampu menghadapi gejolak politik itu. Masihkah mampu berpikir jernih dan netral? Nyatanya memang tidak mudah.  

Sekarang, coba jawab pertanyaan ini. Setujukah Anda bahwa tidak semua orang baik? Ada juga orang jahat dan orang yang suka membuat kerusuhan dan keonaran. Atau pertanyaannya saya ganti. Setujukah Anda, tidak semua pendukung Prabowo menyenangkan? Termasuk, setujukah Anda, tidak semua pendukung Jokowi cinta NKRI?   

Apa jawaban Anda? Kalau ada yang menjawab setuju dengan pernyataan di atas, inilah yang perlu diperbaiki. Sahabat, hidup ini ibarat melihat cermin. Apa pun yang dilihat, apa pun yang tergambar di depan itulah diri kita. Maka semua sikap dan respons atas semua kejadian yang ada, sejatinya akan memperlihatkan siapa diri kita.

Semua yang ada di dunia ini dikendalikan oleh energi. Bahkan otak dan jantung yang terus bekerja, menghasilkan energi yang luar biasa, yang mampu menarik segala sesuatu seperti yang diharapkan. Begitulah Allah menciptakan organ tubuhnya lengkap dengan sumber energinya yang luar biasa.

Agar hal-hal positif selalu hadir ke dalam diri, maka mulai sekarang pancarkanlah semua energi positif dan hanya yang positif saja. Kembali pada pertanyaan di atas, seharusnya tidak setuju atas semua pernyataan itu.

Mari kita ulas satu demi satu. Setujukah Anda bahwa tidak semua orang baik? Ada juga orang jahat dan orang yang suka membuat kerusuhan dan keonaran. 

Jika saya yang ditanya, maka jawabannya tidak setuju. Karena menurut saya, semua orang baik. Tidak ada satu pun yang tidak baik. Lalu bagaimana dengan mereka yang membuat kerusuhan dan keonaran? Nah, mereka adalah orang baik, hanya kebetulan levelnya nol. Atau bahkan tingkat kebaikannya sama sekali belum ada.

Ah itu sih sama saja! Beda dong. Prinsip dasarnya semua orang baik. Hanya memang ada levelnya. Ada level nol, ada juga level 10 maksimal. Namun di dalam pikiran tetap melihat semua orang baik. Sehingga tidak berburuk sangka. Energinya jelas sangat berbeda.

Jika setuju dengan pernyataan di atas, maka sudah sepatutnya kita setuju bahwa semua pendukung Prabowo menyenangkan. Begitu juga semua pendukung Jokowi cinta NKRI. Hanya mungkin levelnya berbeda-beda. Pokoknya, semua baik dan menyenangkan.

Di momen Ramadan ini, sudah saatnya memasang levek terbaik. Jadilah diri dengan level maksimal, tertinggi. Semua orang baik, maka jadilah orang terbaik di antara yang baik. Kalau sudah seperti ini, maka setiap orang hanya fokus pada perbaikan diri sendiri.

Terus bagaimana agar tidak berseteru? Simpel. Pakai saja kalimat ini, "saya selalu salah, orang lain mungkin benar." Ini kalimat ajaib yang selalu saya gunakan. Dijamin tidak akan pernah berseteru dan berselisih. Kalimat itulah sumber kerukunan.

Sebaliknya, sumber perpecahan dan perkelahian adalah, setiap orang merasa benar, dan menganggap orang lain salah. Maka sampai kapan pun, negeri ini akan sulit damai jika masih fokus pada menyalahkan orang lain, bukan memperbaiki diri sendiri.\

Bagaimana menurut sahabat?