Mohon tunggu...
Endro S Efendi
Endro S Efendi Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Trainer Teknologi Pikiran

Praktisi hipnoterapis klinis berbasis teknologi pikiran. Membantu klien pada aspek mental, emosi, dan pikiran. Aktif sebagai penulis, konten kreator, juga pembicara publik hingga tour leader Umroh Bareng Yuk. Blog pribadi www.endrosefendi.com. Youtube: @endrosefendi Instagram: @endrosefendi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Hidup Lebih Bahagia? Saatnya Jaga "Terumbu Karang"

16 Februari 2019   15:10 Diperbarui: 16 Februari 2019   15:38 204
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dalam setiap kesempatan, di mana pun berada, saya selalu berusaha untuk menjaga 'terumbu karang'. Beberapa teman memang sempat bertanya, apa itu 'terumbu karang'? Bagi mereka yang sudah belajar Rahasia Magnet Rezeki, tentu sudah paham apa yang saya maksudkan. Tapi bagi yang belum, maka tentu agak membingungkan. Maka, melalui tulisan ini, saya akan mencoba mengulas apa terumbu karang yang saya maksudkan.

Sahabat semua yang semoga selalu dimuliakan dan dimanjakan Allah. Monyet tidak pernah merusak pohon pisang. Begitu pula ikan tak akan mungkin merusak terumbu karang. Kenapa? Karena itulah sumber makanannya. Di situlah sumber rezekinya berada.

Lantas, di manakah Allah menitipkan rezekinya untuk manusia? Ternyata, rezeki kita ada pada senyum orang lain. Pantaslah jika ada ungkapan, senyum adalah sedekah. Maka, ketika membuat orang lain tersenyum, itulah rezeki kita. Saat Anda tersenyum pun, maka sejatinya sedang memberikan rezeki untuk orang lain. Jadi, orang lain itu ibarat terumbu karang bagi kita. Jaga keberadaan mereka agar selalu baik, selalu indah, selalu tersenyum dan selalu nyaman. Hindari membuat orang lain marah, jengkel, kecewa, dendam, sakit hati, dan sejenisnya. Sebab itulah yang akan merusak 'terumbu karang' kita.

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Sang Maha Pencipta menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Semua serba berbeda. Pada kenyataannya semua adalah satu, yakni sama-sama manusia. Semua juga sama-sama terhubung satu sama lain. Bahkan, semua juga dari satu keturunan yang sama yakni Nabi Adam.

Dengan demikian, bukankah benar jika dikatakan semua orang sejatinya terhubung satu sama lain. Yang membuatnya tidak terhubung adalah ego alias rasa ingin benar sendiri, atau rasa ingin menang sendiri. 

Satu suku merasa lebih baik bahkan paling baik dibanding suku lain. Si A merasa sangat baik bahkan sangat maha baik dibanding yang lain. Maka inilah penyebab awal yang menjadikan kondisi hubungan antarsesama menjadi kurang nyaman.

Semua orang adalah baik? Apakah setuju dengan pernyataan ini? Boleh jadi ada yang kurang setuju dengan pernyataan tersebut. Namun bagaimana kalau kalimat tersebut dilanjutkan. Semua orang adalah baik, namun dengan level berbeda-beda. Ada yang levelnya maksimal di angka 10, ada juga di angka nol. Jadi mulai sekarang, semua orang baik, hanya kebetulan ada yang levelnya masih nol.

Anda pun bisa mengukur, kebaikan Anda berada di level berapa? Sebab terkadang, level kebaikan bisa juga naik turun. Maka tak ada salahnya menjaga agar kebaikan tetap di level maksimal dan terbaik. Salah satunya menjaga agar level tetap baik adalah dengan menjaga 'terumbu karang' agar tetap baik. 

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Sejak memahami ini pula, saya semakin gemar menggunakan angkutan umum. Misalnya ketika berpergian dari Samarinda ke Berau, atau sebaliknya, sengaja memilih angkutan darat. Selama perjalanan belasan jam itu, saya berkesempatan mengenal 'saudara' yang baru berjumpa. Bisa saling tukar cerita. Bisa mengambil hikmah atas setiap kisah dan perjalanan hidupnya. Yang paling utama, bisa menjaga 'terumbu karang' agar semakin banyak menyediakan sumber rezeki.

Begitu pula saat beberapa waktu lalu berkunjung ke Nganjuk, Jawa Timur. Dari Surabaya, saya sengaja menggunakan angkutan bus umum. Padahal, kakak di Surabaya sudah menawarkan untuk meminjamkan mobilnya. Di bus umum ini pula saya bisa nostalgia masa lalu, sembari bisa berkenalan lagi dengan orang baru.

Saat dari Bandara APT Pranoto Samarinda menuju dalam kota, saya juga menggunakan bus Damri. Setali tiga uang ketika dari Bandara Cengkareng Jakarta ke dalam kota, juga naik bus Damri. Dari Bandara Hasanuddin Maros ke dalam kota Makassar, juga menggunakan bus Damri. Pendek kata, setiap kali naik angkutan umum, ada perasaan yang nyaman dan gembira karena akan mengenal terumbu karang lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun