Mohon tunggu...
Hanz Endi Pramana
Hanz Endi Pramana Mohon Tunggu... menulis seakan bagian dari masa lalu. akankan punah?

Lulusan Prodi Ilmu Komunikasi, Fisip, Atma Jaya Yogyakarta, mantan wartawan Tribun Pontianak (Kompas Gramedia), Kalimantan Barat. Mantan wartawan yang ingin tetap menulis. Email: endi.djenggoet@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Didiek SSS, Maestro Saksofon yang Rendah Hati

7 Juni 2011   07:01 Diperbarui: 26 Juni 2015   04:47 1197 2 2 Mohon Tunggu...

[caption id="attachment_114862" align="aligncenter" width="680" caption="Beginilah satu di antara gaya Didiek SSS saat memainkan saksofon di panggung. Foto: Severianus Endi"][/caption] INI kali kedua saya berjumpa secara langsung dengan Didiek SSS di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Maestro saksofon Indonesia ini tetap rileks dan bersemangat, meski dijumpai jelang tengah malam, Sabtu (4/6/11) di Hotel Mecure, tempat dia menginap. Kala itu, dia baru saja usai tampil menghibur ratusan penonton di lapangan parkir Gedung Olahraga Pangsuma, Pontianak. Perjumpaan saya yang pertama terjadi pada akhir April lalu, juga dalam satu penampilan di kota ini. Saya segera terkesan dengan adik kandung almarhum Embong Rahardjo ini. Meski jam terbangnya sebagai saksofonis sudah amat tinggi, namun sikap rendah hatinya sungguh membuat perasaan ini nyaman ketika berbincang-bincang. Gaya khasnya saat berbicara, selalu disertai penekanan-penekanan dengan gerak tubuh. Namanya seniman, dia juga melengkapi cerita-ceritanya dengan ekspresi wajah yang menyiratkan kegembiraan maupun kesedihan. Bagai seorang pemain teater, yang sungguh membuat suasana diskusi menjadi sangat cair dan penuh rasa persaudaraan. Dalam penampilannya malam itu, penonton segera mendekat ke panggung, ketika Didiek yang mengenakan busana serba putih memulai tiupan saksofonnya dengan atraktif. Didiek dengan gaya khasnya, membuka penampilan dengan tiupan panjang tanpa henti selama kira-kira 30 detik. Barulah nada dan temponya berubah ketika tepuk tangan penonton membahana. Saksofonis nasional ini pun segera memainkan lagu “Sinaran” dalam nada dan gerak yang lincah. Dengan gaya khasnya, bungsu dari delapan bersaudara ini memadukan tiupan saksofon dengan gerak tubuh yang dinamik, terkadang akrobatik. Pria kelahiran Solo ini memainkan nada tinggi sambil tengadah, kemudian membungkukkan badan ke arah penonton saat memainkan nada rendah. Lenggak-lenggok tubuh ke kiri dan ke kanan menyertai nada-nada yang lincah dan mengundang kaki penonton ikut bergoyang. Asisten yang notabene keponakannya, Andi Wahyu Novianto (25) mengawasi dari kejauhan sambil memastikan berbagai perangkat pendukung berfungsi sempurna. Hujan yang sebelumnya hampir merata membasahi seluruh Kota Pontianak, sedikit mengubah skenario penampilannya. Awalnya, dia merencakan kejutan bagi penonton: memulai atraksinya dengan tampil tiba-tiba dari arah belakang di tengah kerumunan orang-orang. Meski saat tampil sekitar pukul 9.45 pm hujan telah reda, sisa-sisa air yang menggenangi lapangan, membuat dia mengurungkan kejutan itu. Namun, Didiek tidak kehilangan magnet dengan atraksi akrobatiknya di atas penggung. Interaksi dengan penonton tak dilupakan.  Saat memainkan lagu Michael Jacson “Hail The World”, dengan isyarat tanganya mengajak penonton menyanyikan refain lagu. Penonton menyambutnya dengan melantunkan lirik sambil melambai-lambaikan tangan. “Musik mempersatukan kita semua, kita satu saudara. Musik tidak membedakan agama, suku, dan status sosial. Karena musik berasal dari hati, maka musik menyuarakan kejujuran,” Didiek berfilosofi di jeda penampilannya. [caption id="attachment_112774" align="alignright" width="300" caption="Modern-tradisional, kolaborasi fenomenal antara saksofon dengan sape"][/caption] Kolaborasi AtraktifDalam bincang-bincang di restoran hotel usai penampilannya, Didiek menuturkan rasa senangnya bisa menghibur sebagian warga Pontianak dengan talenta yang dimilikinya. Dia ber kolaborasi unik dengan gitar tradisional Dayak, Sape’, yang dimainkan oleh Fery. Dia juga berkolaborasi dengan band lokal yang relatif belum terlalu populer, yakni D’Alexis. “Saya ingin mengajarkan sikap rendah hati. Dengan mau berkolaborasi bersama mereka, bisa menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri adik-adik itu, untuk terus berkarya dan mengukir prestasi,” ucap pria yang mengenakan buah kalung berbentuk saksofon ini. Ucapan tersebut bukan tanpa sebab. Menurut dia, tidak sedikit seniman yang telah punya nama seperti dirinya, terlalu tinggi hati dan tak mau sedikit berbagi dengan orang-orang muda. Bagaimana cara mengkreasi penampilan yang betul-betul atraktif saat memainkan saksofon? Mendengar pertanyaan itu, pria kelahiran 1964 ini tersenyum dan menarik nafas. Bagi dia, seorang pemain saksofon tak cukup hanya puas dengan keahliannya memainkan nada dengan hembusan nafas lewat alat musik logam itu. “Saya sadar, perlu identitas tersendiri agar diingat orang. Gerakan-gerakan itu sengaja saya ciptakan untuk mengimbangi lagu yang saya mainkan, serta membuat penonton terkesan,” tutur Didiek bersemangat meski terlihat lelah. Termasuk atraksi saat dia memulai kolaborasi dengan band lokal, yang sama sekali tidak diawali latihan bersama. Didiek mendekati pemain musiknya satu per satu untuk melakukan penjajakan nada. Bergantian dia mendekati pemain drum dan meniupkan nada sesuai tabuhan, berpindah ke pemain organ, gitar, serta bass. Sempat terlihat ekspresi sedikit bingung dari anak-anak muda pemain band itu, namun dengan lincahnya Didiek segera mengimbangi. Terakhir, barulah mereka memulai kolaborasi memainkan tuntas sebuah lagu. Didiek melakukan “intervensi nada” dengan manisnya, sehingga kolaborasi itu tampak seakan telah mapan. “Ini soal jam terbang. Bagaimana menguasai psikologi rekan bermain serta psikologi penonton. Saya lega karena hingga akhir penampilan, para penonton tidak beranjak sedikitpun dari tempat mereka,” ucap guru musik di Seminari Menengah Wacana Bhakti Keuskupan Agung Jakarta ini. Didiek tidaklah serta merta memulai debutnya di dunia musik dengan saksofon. Sejak usia 4 tahun, dia mulai mempelajari flute yang tone-nya jauh lebih mudah, begitu juga cara meniupnya. “Akhirnya saya lebih fokus ke saksofon karena lebih dinamik untuk show, dan nada yang dihasilkan bisa mengaduk-aduk perasaan dan emosi penonton,” ucap putra almarhum Robertus Sunarno S yang kala itu memimpin group musik di Radio Republik Indonesia Solo. [caption id="attachment_112784" align="alignleft" width="300" caption="Berbincang dengan sang maestro. Foto: Istimewa. "][/caption] Didikan sang ayah yang keras, telah membentuk pribadi Didiek bersaudara yang memang merupakan keluarga pemusik. Pada 1975, saat usianya baru 10 tahun dan sedang duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, Didiek telah memulai debutnya sebagai pemusik professional, yakni bermain musik untuk dibayar. “Ayah saya seorang peniup flute, dan karena saya sering mendengar, ketertarikan untuk bermusik terbentuk dengan sendirinya ditambah latihan keras,” kenang Didiek. Saat usianya beranjak 17 tahun pada 1981, dia sudah merantau ke Jakarta. Dalam usia belia tersebut, Didiek bergabung dengan para pemain musik senior dan tampil di satu-satunya stasiun televisa yang ada, yakni TVRI. Musik yang dihasilkan dari tiupan saksofon, mampu menyentuh emosi dan mengaduk-aduk perasaan pendengar. Kombinasi nada rendah dan tinggi yang seakan menyayat hati, member kesempatan bagi Didiek untuk terus menyuarakan persaudaraan yang tulus. (*) SEVERIANUS ENDI * Tulisan saya yang lain terkait Didiek SSS ditayangkan di portal berita Kalbar-Online berjudul Kolaborasi Unik Saksofon-Sape' di link ini.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x