Mohon tunggu...
Wanita Penikmat Rindu
Wanita Penikmat Rindu Mohon Tunggu... Wiraswasta - Hanya orang biasa

About life, friends, and love

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Agustus

17 Agustus 2022   13:03 Diperbarui: 17 Agustus 2022   13:04 112 4 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Helo dear...

Sudah cukup lama dirimu pergi, tanpa sepatah kata pun. Aku pikir itu hanya sementara dan kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu. Namun setalah aku menunggu untuk beberapa saat, atau mungkin bahkan sudah berbulan-bulan aku mencarimu, keberadaanmu tidak ku temukan. Aku berusaha sekeras mungkin untuk mencari tau apa arti dari menghilangnya dirimu, namun nihil tak satu pun jawaban yang kutemukan. Aku hanya bisa berkelana dengan pikiran ku berbulan-bulan setelah kepergianmu.

Aku hanya berharap ada kalimat perpisahan yang mungkin dapat membantuku untuk melupakanmu. Hari-hariku berjalan seperti biasanya, namun ada rasa hampa yang menyelinap masuk entah sejak kapan.

Banyak hal yang ingin ku ceritakan kepadamu. Aku tidak punya sosok sepertimu, yang mau mendengarkan celoteh yang keluar dari mulut ku tanpa henti. Aku merindukan mu setiap saat. Setiap pagi saat jendela kamar ku buka, dan angin pagi berhembus aku berharap itu adalah hembusan napasmu untuk menyapaku.

Aku merindukan mu, sangat merindukan mu. Aku rindu akan rasa raspberry dari kopi buatanmu, aku rindu dirimu mengguruiku tentang nikmatnya secawan kopi. "Pahit tapi terasa manis kalau kamu menyeruputnya dengan cinta", itu kalimat yang pertama yang ada dibenak ku saat pertama kali aku menikmati kopi denganmu.

***

Hypophrenia ku belakangan ini sering kambuh, rasanya lebih menyakitkan, karena sebagian dibuat oleh karena dirimu. Menyedihkan sekali diriku saat ini. Seperti kupu-kupu yang kehilangan separuh sayapnya. Terbang tapi tidak terlalu tinggi, bukan karena takut akan kebebasan yang diberikan alam, namun tenggelam didalam kebebasan itu dengan jiwa yang separuh utuh.

Setelah berbulan-bulan mencarimu tapi tidak ku temukan, satu saat aku mengingat kamu pernah menyebutkan tempat kopi favoritmu. Aku memberanikan diri, tapi aku tidak menemui mu. Aku hanya duduk sebagai pelanggan, menatapmu jauh dibelakang taman kafe tersebut. Aku hanya berharap bertemu denganmu, dan itu sudah terjadi. Namun masih ada yang kurang, penjelasan darimu. Aku terlalu takut untuk mengetahuinya, dan aku mencoba untuk memantapkan diri supaya nantinya aku siap.

Aku pulang masih dengan sayap yang tidak utuh, dan mungkin sisanya akan rusak. Entahlah... aku terlalu banyak berpikir hari ini. Lelah ku sudah menjadi rutinitas, dan tangis ku sudah menjadi pengganti obat tidur ku.

Aku hanya ingin menemukan hal baru tanpa melihat kembali kebelakang. Karna setelah denganmu, aku enggan mengenal pria lain. Kebebasan yang pernah kita lakukan bersama menjadi bom waktu untuk diriku. Ku coba untuk merakit cerita lain dihidupku, namun tak berakhir mulus, kisahnya hanya berdasarkan jam, dan berakhir dengan kata membosankan.

Dirimu seperti menjajikan kebebasan yang belum pernah ku temukan. Rasanya, warnanya dan tekstur dari dinding cerita yang kita lakukan bersama penuh warna. Bahkan hitam ikut mengambil alih untuk cerita kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan