Mohon tunggu...
Enang Suhendar
Enang Suhendar Mohon Tunggu... Warga sadarhana yang kagak balaga dan gak macam-macam. Kahayangna maca sajarah lawas dan bacaan yang dapat ngabarakatak

Sayah mah hanya warga sadarhana dan kagak balaga yang hanya akan makan sama garam, bakakak hayam, bala-bala, lalaban, sambal dan sarantang kadaharan sajabana. Saba'da dahar saya hanya akan makan nangka asak yang rag-rag na tangkalna.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bekerja dari Rumah dengan Karya Terbaik

20 Maret 2020   19:30 Diperbarui: 21 Maret 2020   05:32 48 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bekerja dari Rumah dengan Karya Terbaik
Bekerja dari rumah | sumber : cnbc.com

Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap melalui perundingan licik di Magelang. Diponegoro lantas diantarkan oleh 500 serdadu Belanda bersenjata lengkap untuk diasingkan. Jenderal Marcus de Kock lantas membuang Pangeran Diponegoro ke Manado, Sulawesi Utara. Putra Sultan Hamengku Buwono III tersebut ditempatkan di Benteng Amsterdam bersama keluarga dan 25 pengiringnya.

Di Benteng Amsterdam, "dirumahnya" tersebut Diponegoro tidak diam. Dalam kurun waktu 1831 s.d 1832, dia mencurahkan segenap pikirannya untuk berkarya. Pena adalah sahabat karib yang menemani keseharian Sang Pangeran. Diponegoro menuliskan kisah perjuangannya menggunakan aksara pegon dan menghasilkan karya setebal 1.151 lembar. Naskah klasik yang kelak dikenal dengan nama "Babad Diponegoro" tersebut  kemudian diganjar UNESCO sebagai Memory of The World.

1927, ketika Mohammad Hatta sedang menempuh pendidikan di Rotterdam Belanda, Hatta diseret ke jeruji besi karena tulisan-tulisan Hatta yang tajam dan pedas pada pemerintah Kolonial. Selama lima bulan lebih Hatta mendekam di dalam hotel prodeo. 

Di balik tembok penjara, "di rumahnya" yang sempit dan pengap Hatta tidak diam. Dia mencurahkan segenap kemampuannya dan daya nalarnya untuk menyusun pidato pembelaannya yang fenomenal dengan judul Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka).

Meski "dirumahkan" Hatta tidak bisa dibungkam. Di Pengadilan Den Haag, Hatta membacakan naskah akhir pidato pembelaannya dengan elegan "Hanya satu tanah air yang disebut tanah airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu adalah usahaku". Belanda terhenyak, Eropa tersentak, dan perlawan di tanah air semakin marak.

1965, selepas pecahnya tragedi G30S/PKI, Pramoedya Ananta Toer ditangkap pemerintah karena dianggap aktivitis Partai Komunis Indonesia (PKI). Pram lantas dibuang ke Pulau Buru. Pram dijadikan tahanan politik serta dipekerjakan tanpa mendapatkan upah. Namun Pram tidak diam. "Dirumahnya" itu dengan segala keterbatasan dan keprihatinan, Pram tetap berkarya.

Di balik angkuhnya jeruji besi dan dinginnya lantai penjara, Pram melahirkan 4 karya sastra yang monumental. Karya-karya itu adalah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca yang biasa dikenal dengan sebutan tetralogi Pulau Buru. Selepas keluar penjara, Pram menerbitkan karya sastranya, namun baru beberapa bulan, pemerintah memberedel dan mengharamkannya. 

Kini, tetralogi Pulau Buru dipuja dunia, diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan diganjar sebagai karya sastra terbaik yang sulit dicari tandingannya.

1964, Buya Hamka terpaksa harus tidur diatas lantai penjara yang dingin. Orde lama menangkap Ulama besar nan kharismatik asal minang tersebut karena kritiknya terhadap Demokrasi Terpimpin ala Bung Karno. Selama 2 tahun 4 bulan ia "dirumahkan", namun Buya tak pernah diam. 

"Dirumahnya", di dalam hotel prodeo yang kumal ia berkarya. Buah karya dan pemikirannya melahirkan mahakarya agung, Tafsir Al-Azhar 30 Juz selesai dirampungkannya. Tafsir tersebut menambah kaya khazanah pemikiran intelektual muslim nusantara. Tafsir agung dengan gaya bahasa yang mempesona tersebut selalu menjadi rujukan para ulama dan sarjana Islam di Asia.

Saat ini pemerintah mengeluarkan kebijakan khususnya kepada para ASN dan pegawai lainnya untuk bekerja dari rumah. Kebijakan tersebut adalah keputusan yang tepat dihadapkan pada dinamika dan perkembangan wabah virus Corona yang semakin merajalela.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN