Mohon tunggu...
Enang Suhendar
Enang Suhendar Mohon Tunggu... Warga sadarhana yang kagak balaga dan gak macam-macam. Kahayangna maca sajarah lawas dan bacaan yang dapat ngabarakatak

Sayah mah hanya warga sadarhana dan kagak balaga yang hanya akan makan sama garam, bakakak hayam, bala-bala, lalaban, sambal dan sarantang kadaharan sajabana. Saba'da dahar saya hanya akan makan nangka asak yang rag-rag na tangkalna.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Gagasan Sang Sultan di Balik Serangan Umum 1 Maret

29 Februari 2020   09:58 Diperbarui: 29 Februari 2020   10:43 111 5 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gagasan Sang Sultan di Balik Serangan Umum 1 Maret
Sri Sultan Hamengku Buwono IX

"Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap orang Jawa" ucapan tersebut disampaikan Gusti Raden Mas (GRM) Dorojatun ketika dinobatkan menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Penobatan yang berlangsung dengan khitmad dan syahdu tersebut diselenggarakan di Bangsal Manguntur Tangkil, Siti Hinggil Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada tanggal 18 Maret 1940.

Lima tahun setelahnya, Kantor Berita Domei menyiarkan kabar ke pelosok nusantara tentang Soekarno-Hatta yang telah membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Dua jam setelah itu Masjid Besar Yogyakarta mengumumkan berita tersebut kepada jama'ah Shalat Jumat.

Sultan bergerak cepat, keesokan harinya meluncur telegram menuju Jakarta. Isinya adalah ucapan selamat atas lahirnya Negara Republik Indonesia kepada Soekarno, Muhammad Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat sebagai Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Dua hari setelahnya Sultan kembali mengirimkan surat kawat cepat dan menegaskan bahwa Yogyakarta "Sanggup Berdiri di bawah Pimpinan Paduka yang Mulia". Telegram itu menjadikan Kasultanan Ngayogyakarta sebagai kerajaan pertama yang bergabung dengan Republik Indonesia. 

Setelahnya Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran menyatakan bergabung pada 1 September 1945 dan Kesultanan Kadriyah Pontianak yang dipimpin Sultan Abdul Hamid II bergabung dengan Indonesia pada 27 Desember 1949.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah salah satu putra terbaik bangsa yang telah mengerahkan seluruh pikiran, waktu, tenaga, dan hartanya semata-mata untuk kepentingan bangsa. 

Sepak terjangnya sebagai tokoh penyokong republik tak terbantahkan. Bahkan Sultan rela menggelontorkan dana pribadinya untuk menjamin kelangsungan pemerintah Indonesia yang masih seumur jagung.

Soekarno, Hatta, dan Sri Sultan HB IX
Soekarno, Hatta, dan Sri Sultan HB IX
Dia adalah seorang tokoh fenomenal. Namun namanya jarang dikenal pada pentas politik nasional, padahal sejumlah jabatan penting dan mentereng pernah diembannya. Dari mulai Menteri Pertahanan, Menteri Ekonomi, Keuangan, dan Industri, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan sampai kepada jabatan Wakil Presiden pada era Soeharto. Belum termasuk berapa banyak perjuangan di jalur diplomasi dan meja perundingan yang telah Sultan lalui.

Salah satu yang termasyhur adalah saat Sultan menawarkan Yogyakarta menjadi Ibu Kota negara pada tahun 1946. Pemerintah Indonesia difasilitasi dengan baik melalui penyediaan gedung pemerintahan, fasilitas keamanan, dll. Gedung Agung di sebelah utara Keraton Yogya pun disulap menjadi Istana Presiden.

Ketika para tokoh bangsa dan pendiri republik di tawan di Bangka, Sultan dan rombongan menjenguknya. Ketika sarapan pagi terlihat Soekarno dan Hatta berbicara dengan raut muka yang tidak "happy". Sebabnya, pemerintah belum punya modal cukup untuk kembali ke Yogya. Terdapat beberapa saran dan masukan dari tokoh bangsa yang lain, namun solusi yang pas belum ditemukan. Dalam diskusi tersebut Sultan menawarkan bantuan keuangan sejumlah 6 juta gulden untuk membiayai kelangsungan pemerintahan. Namun Sultan sendiri tidak ingin berita tersebut digembar-gemborkan.

Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah kejadian penting bagi kelangsungan republik. Serangan yang mengembalikan kedaulatan bangsa sekaligus menunjukan kepada dunia bahwa Indonesia masih mempunyai kekuatan militer yang cukup. Serangan ini juga sekaligus mengubur propaganda Belanda bahwa republik telah mati suri. Enam jam lamanya Yogyakarta dikuasai TNI dan rakyat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN