Mohon tunggu...
HARUS SHARING
HARUS SHARING Mohon Tunggu...

Sederhana tapi Ada

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Sajakku untuk Tuan

30 Maret 2016   18:21 Diperbarui: 31 Maret 2016   03:32 59 3 1 Mohon Tunggu...

Oleh: Karomi

Bukan tak kuasa kita menahan sesak dada.[caption caption="Demi Motivasi Berkarya. Tak Ada Mading Berkaca, Papan Pengumumanpun Jadi"][/caption]
melihat ketidak adilan bertebaran bagai jamur dimusin hujan.
kawanku kini kebiadaban telah datang menyapa.
apakah kita diam saja ?
ataukah kita akan bergerak melawan ?

kawanku
kita tidak perlu kaya,
jika kekayaan, kita pakai menindas kaum lemah.
kita tidak perlu makmur jika masih bangga melihat mereka mengais kotoran kaum kota demi sesuap nasi.

kawanku
kita telah memilih pejabat kota,
tempat kita titipkan secercah harapan untuk membangkitkan kita dari keterpurukan.
kita plih mereka bukan sebagai penindas baru.
ataukah sebagai pelayan Pelacur disudut dan pusat kota.
tapi kita pilih sebagai solusi atas semua persoalan.

kawanku
bangkitlah dari tidurmu,
kini saudara-saudara kita
masih terbaring lemah di gubuk yang reot,
kekayaan mereka telah di peras atas nama keadilan negara.

hah
keadilan yang mana?
apakah keadilan bagi mereka yang hanya duduk manis di kursi mewah yang dibeli dari hasi keringat kita atas nama pajak ?
ataukah mereka yang berkeliaran kesana kemari menggunakan mobil mewah yang kita belikan untuk menyapa para pelacur di sudut kota dan cafe.

kawanku
andaikan negeri tidak lagi ada untuk yang tidak berada?
kita mesti bersatu melawan menantang semua yang menghadang.

kawanku
keadilan mesti ditegakkan.
kebenaran harus terus diperjuangkan.

Suara-suara kritis tidak boleh di tenggelamkan.
mesti terus bersinar walau kita di hadang.

Malang 29 Maret 2016

Baca Juga

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x