muthiah alhasany
muthiah alhasany writer/blogger, traveller, politician. Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati

Selanjutnya

Tutup

Manajemen Artikel Utama

Apakah Depok Bisa Menjadi Kota Cerdas?

20 Mei 2015   12:07 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:47 56 0 0
Apakah Depok Bisa Menjadi Kota Cerdas?
14321572761614054200

[caption id="attachment_418980" align="aligncenter" width="300" caption="kantor Walikota Depok (dokumen pribadi)"][/caption]

Depok adalah kota di selatan Jakarta yang tumbuh dengan pesat. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, saya masih kecil. Selain peninggalan Belanda yang terdapat di Depok Lama, wilayah lain adalah tempat-tempat yang baru dibuka. Misalnya adalah Depok Jaya, dimana kami  tinggal di Perumnas sejak tahun 1977.  Sedangkan tempat lain masih berupa hutan-hutan kecil dan sawah-sawah yang menghijau.

Saat itu, kendaraan yang menuju Depok hanya oplet seperti yang dibawa Mandra dalam sinteron si Doel. Itupun hanya beberapa buah saja. Jalan raya sepanjang jalur Pasar Minggu-Lenteng Agung-Depok masih penuh dengan pepohonan yang rindang. Orang bilang, Depok adalah tempat jin buang anak. Kota kecil yang masih sepi, hanya ada penduduk asli dan penduduk keturunan Belanda. Kami sebagai pendatang yang hendak menempati trumah di Perumnas.

Namun lihatlah sekarang, wajah Depok berubah drastis, jauh dari apa yang terlihat pertama kali. Sangat berbeda 180 %.  Orang tidak akan mengenali Depok sebagai kota pinggiran lagi, tetapi sebuah kota yang menjadi tujuan utama mencari tempat tinggal. Berbagai pembangunan dilakukan seakan tanpa henti, yang pada akhirnya memberi kesan sudah kebablasan, terlalu berlebihan.

Memang dalam dua periode kepemimpinan Walikota terakhir, Nur Mahmudi, Depok memperoleh penghargaan karena berhasil meningkatkan pendapatan daerah. Tapi itu bukan sesuatu yang istimewa, wajar saja pendapatan pemkot meningkat karena rajin menjual tanah untuk para pengembang.  Depok menjadi sasaran pengembang properti yang tidak lagi mengindahkan penduduknya itu sendiri.

Kemacetan

Kemacetan terjadi pemandangan sehari-hari yang membosankan. Dari pertigaan Parung Bingung hingga RS Bhakti Yudha seringkali  terjadi kemacetan yang parah. Pada hari Sabtu dan Minggu, kemacetan bisa memakan waktu lebih dari satu jam. Demikian pula di jalan Tole Iskandar, dari jembatan Ciliwung hingga pertigaan Depok Dua membutuhkan waktu hampir satu jam pada saat jam berangkat atau pulang kantor. Apalagi jalan Margonda dan Juanda, masih tetap macet hingga pukul sebelas malam. Kemacetan ini seringkali menimbulkan stress dan putus asa. Terutama jika kita sedang terburu-buru, dikejar oleh waktu.

Pertumbuhan jumlah kendaraan berbanding terbalik dengan jumlah jalan. Nyaris tak ada jalan baru yang dibangun oleh Pemkot Depok. Sedangkan warga yang memiliki kendaraan bertambah banyak. Bahkan jumlah angkot yang beroperasi di Depok selalu bertambah.  Angkot-angkot ini juga tidak berdisiplin dalam menempuh trayek dan juga menaikkan/menurunkan penunmpang seenaknya, menambah ruwet jalan raya yang semakin macet.Di sisi lain, masih banyak jalan yang rusak parah, penuh dengan lubang dan belum disentuh sama sekali oleh Pemkot.

Sejak awal pemerintahan Nur Mahmudi, sudah ada rencana untuk membuat jalan layang di beberapa tempat untuk mengurangi kemacetan, sampai sekarang juga tidak ada jelas. Bahkan rencana membuat jalan layang dari Jalan TB Simatupang hingga Depok tak ada lagi kabarnya.

Sementara itu,  renovasi terminal masih terkatung-katung. Terminal utama yang ada di sisi stasiun Depok I sudah terlanjut digusur, tetapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Sudah bertahun-tahun ada rencana untuk memindahkan terminal, sayang belum ada upaya pemkot untuk mewujudkannya. Alhasil terminal menjadi tempat kumuh dan penyumbang pemandangan yang ruwet dan sumpek.

[caption id="attachment_418981" align="aligncenter" width="300" caption="Jl. Margonda Raya, hanya sepi waktu siang (dok.pribadi)"]

14321575311336994201
14321575311336994201
[/caption]

Pasar Tradisional terlantar

Pembangunan mal dan pusat perbelanjaan sangat pesat. Di jalan Margonda saja ada empat mal besar. Namun Pemkot sama sekali tidak memberi perhatian pada pasar-pasar tradisional. Bahkan pasar yang semula menjadi 'pasar induk'nya kota Depok, yaitu Pasar Kemiri Muka, menjadi pasar mati semenjak akses jalan ditutup Pengembang Depok Mal. Para pedagang kini menyebar di sisi rel kereta api dan di bawah jembatan layang. Sebuah pasar semrawut dan kumuh, yang harus dilewati oleh para pengguna kereta api.

Demikian pula pasar-pasar tradisional yang lain, seperti pasar Citayam, pasar Agung dll. Kondisi pasar-pasar itu kotor dan kumuh, membutuhkan renovasi agar masyarakat yang berbelanja merasa nyaman. Pasar yang sumpek menyebabkan sebagian masyarakat lebih suka lari ke mal dan super market, dan itu berarti merugikan para pedagang kecil.

[caption id="attachment_418984" align="aligncenter" width="300" caption="Pasar Kemiri Muka tak berbentuk (dok.pribadi)"]
14321579612071695003
14321579612071695003
[/caption]

Udara panas

Kian hari, udara di Depok semakin panas, tak lagi terasa sejuk. hal ini disebabkan pembangunan perumahan dan apartemen yang terus menerus menggerus lahan hijau kota Depok. Tidak ada lagi hutan yang tersisa kecuali hutan lindung di sekitar Universitas Indonesia. Bahkan jumlah Setu yang berada di Depok menyusut drastis karena ditelan pembangunan perumahan. Hilangnya pepohonan menyebabkan udara semakin panas dan pemandangan yang gersang.

Banjir

Kalau dahulu, wilayah Depok yang terkena banjir hanya di perumahan Duta karena posisinya di bawah sungai. Tetapi sekarang banyak wilayah Depok yang digenangi banjir. Hal ini disebabkan sistem draines yang buruk. Tidak ada perawatan terhadap got dan saluran air sehingga tersumbat dan tak mampu menampung air hujan. Contoh yang paling menyolok adalah jalan Margonda yang selalu tergenang walau hujan hanya sebentar.

Daerah-daerah resapan air telah berubah fungsi. Rawa dan lahan di dekat Setu disulap menjadi perumahan-perumahan. Akibatnya air menjadi tak terkendali, jika hujan deras tiba, masyarakat di sekitar perumahan-perumahan tersebut kena getahnya, banjir memasuki halaman dan rumah mereka.

Keamanan tidak terjamin

Depok menjadi kota yang sangat tidak aman. Kriminalitas bisa terjadi sewaktu-waktu dan menimpa siapa saja. Kasus paling menghebohkan adalah para begal yang bertindak sadis. Sudah banyak yang jatuh korban, tetapi anehnya peristiwa begal masih saja ada. Karena itu masyarakat mempertanyakan kinerja kepolisian Depok yang seakan tidak berdaya menghadapi begal.

Akibat dari kurang seriusnya polisi nmenangani begal, maka tak heran jika sebagian masyarakat menduga bahwa begal merupakan salah satu permainan dari polisi. Mungkin ada oknum polisi yang menjadi beking begal, atau polisi sengaja tidak menangani begal dengan baik agar bisa mereguk keuntungan tertentu. Walau ini masih sebatas rumor, faktanya memang begal masih merajalela di Depok.

Selain begal, ada beberapa kasus lain juga terjadi, misalnya kekerasan, pembunuhan, sampai pada kasus narkoba. Hingga sekarang kasus-kasus itu masih belum tuntas. Kriminalitas tinggi tersebut menyebabkan Depok menjadi sangat tidak nyaman. Penduduk merasa was-was karena bisa menjadi korban tanoa disangka-sangka.