Mohon tunggu...
Muthiah Alhasany
Muthiah Alhasany Mohon Tunggu... Penulis - Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah. Moto: Langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati. Email: ratu_kalingga@yahoo.co.id IG dan Twitter: @muthiahalhasany fanpage: Muthiah Alhasany"s Journal

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Sepotong Belanda di Kota Tua dan Hiden Gem di Sekitarnya

19 Agustus 2022   14:46 Diperbarui: 22 Agustus 2022   08:59 728
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kawasan kota tua tidak asing bagi warga Jabodetabek, karena di sini adalah tempat wisata yang mudah dijangkau transportasi umum seperti Commuter Line dan Transjakarta. Selain itu, biayanya cukup murah, harga tiket museum hanya lima ribu Rupiah, jajanan kaki lima juga tersebar. Asalkan tidak masuk ke kafe-kafe yang sudah pasti memasang rate lebih tinggi. 

Tanggal 16 Agustus lalu, saya mengikuti komunitas Koteka yang punya agenda ke sini. Meskipun saya sering ke tempat ini, saya tidak pernah bosan. Apalagi karena bersama teman-teman kompasianer, terutama mbak Gana Stegman yang datang dari Jerman bersama keluarga. Jadi, saya antusias menjadi peserta kotekatrip.

Mbak Gana (dok.pri)
Mbak Gana (dok.pri)

Hadir sebagai guide adalah Ira Lathief yang aktif  di Wisata Kreatif Jakarta. Dia yang memandu kami sambil menceritakan asal usul dan sejarah tempat yang didatangi. Berkumpul di depan Cafe Batavia, Ira Lathief memberikan briefing singkat acara pada itu.

Pertama, kami masuk ke Museum Sejarah Jakarta (masyarakat lebih mengenal dengan sebutan museum Fatahillah), bekas kantor  Gubernur Jenderal Belanda pada zaman penjajahan. Tak banyak yang dilihat, hanya penjara bawah tanah, karena museum sudah tutup pukul tiga sore. Tapi kami sempat mencicipi jajanan khas Jakarta/Betawi yang ada di halaman belakang, seperti selendang mayang dan kerak telor. 

Ira Lathief (dok.koteka)
Ira Lathief (dok.koteka)

Lalu Ira Lathief menerangkan peta yang menggambarkan suasana zaman dahulu. Di mana ada alat pancung, hukuman bagi pribumi yang melakukan pelanggaran-pelanggaran. Saya baru tahu lho kalau nama Gunung Sahari berasal dari tumpukan mayat yang menggunung dalam sehari. 

Kisahnya, pada masa itu penjajah Belanda membantai orang-orang keturunan Tionghoa yang merencanakan untuk demonstrasi.  Mereka dibunuh sebelum berhasil melaksanakan rencana tersebut. Belanda lebih dulu mengetahuinya. 

Keluar dari museum, kami melanjutkan ke hiden gem yang ada di sekitar museum. Jadi, cukup berjalan kaki saja menyusuri lapangan dan trotoar.

Kafe jamu Acaraki

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun