Mohon tunggu...
muthiah alhasany
muthiah alhasany Mohon Tunggu... Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah. Moto: Langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati. Email: ratu_kalingga@yahoo.co.id IG dan Twitter: @muthiahalhasany fanpage: Muthiah Alhasany"s Journal

Selanjutnya

Tutup

Media

Blokir Medsos Adalah Langkah Tepat Menangkal Gerakan Makar

24 Mei 2019   13:57 Diperbarui: 24 Mei 2019   14:00 0 3 2 Mohon Tunggu...
Blokir Medsos Adalah Langkah Tepat Menangkal Gerakan Makar
Lambang medsos (dokpri)

Sejak pemerintah memberlakukan pembatasan akses terhadap media sosial, banyak orang yang menggerutu karena tidak bisa berkomunikasi dengan leluasa. Media sosial yang diblokir adalah satu paket, yang paling banyak digunakan oleh netizen di Indonesia.

Sebenarnya keluhan itu didasarkan karena ketergantungan kita begitu tinggi terhadap media sosial. Kita sudah melakukan kegiatan di media sosial seperti tarikan nafas. Begitu dihilangkan, terasa sesak dan sebagian kehidupan seolah mati.

Padahal masih ada alternatif komunikasi yang lain, misalnya kembali menggunakan SMS. Banyak orang yang lupa akan hal ini sehingga panik ketika WA tidak berfungsi. Selain itu, jelas kita masih bisa bertelepon langsung, meski harus membuang banyak pulsa untuk itu.

Saya sendiri juga agak kewalahan dengan matinya media sosial. Masalahnya adalah sebagai blogger, buzzer dan influencer, media sosial adalah sarana untuk pekerjaan. Maka pembatasan media sosial merupakan hambatan yang cukup menyulitkan pekerjaan semacam ini.

Namun saya mengerti sepenuhnya bahwa langkah pembatasan media sosial sangat diperlukan untuk kepentingan yang lebih luas, untuk melindungi bangsa dan negara tercinta. Sebab, media sosial telah menjadi sarana efektif bagi pendukung makar,  kaum radikal dan teroris untuk menyebarkan hoaks.

Kemarin, saya bertemu dengan seorang sahabat yang ternyata dalam pilpres memilih paslon 02. Ia sering menerima kiriman video yang berisi informasi hoaks melalui messenger dan WA. Sebagaimana anggota masyarakat lainnya, ia percaya bahwa apa yang disebarkan itu benar.

Kepada sahabat tersebut, saya menjelaskan bagaimana proses pembuatan video hoaks tersebut dengan menggunakan teknologi. Ia sangat kaget dan nyaris tak percaya. Tetapi karena ia tahu saya tidak pernah berbohong, maka ia menjadi yakin. Sahabat itu menyesal telah mempercayai hal hal yang disebarkan melalui media sosial.

Ini adalah satu contoh yang membuat saya merasa bahwa media sosial begitu merasuk dan merusak otak masyarakat. Terutama karena yang disebarkan adalah konten yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Rekayasa yang dilakukan dengan menggunakan kecanggihan teknologi.

Karena itu, pemblokiran media sosial bagi saya adalah langkah yang tepat untuk menangkal hoaks seputar kerusuhan 22 Mei.  Banyak video yang disebarkan justru untuk mengobarkan kemarahan masyarakat terhadap aparat dan pemerintah. Tujuan mereka adalah agar tersulut kerusuhan yang lebih besar.

Jika dibiarkan, maka akan membuka peluang bagi terwujudnya rencana makar. Masyarakat menjadi resah, terpecah belah, dan memungkinkan timbulnya perang saudara. Para perancang makar ini akan bergembira ria karena rencana mereka berhasil.

Satu hal yang harus kita sadari, bahwa sebagian masyarakat Indonesia tidak memiliki kecerdasan tentang menganalisa apa yang ada di media sosial. Mereka cenderung menelan mentah mentah apa yang tersaji, apalagi jika membawa nama agama dengan menggunakan ayat dan hadits tertentu.

Ilmu agama yang dimiliki sebagian besar masyarakat hanya di permukaan saja, mereka tidak pernah mendalami secara benar. Karena itu mereka mudah mempercayai apa saja yang dikemas dalam bungkus agama. Mereka cenderung takliq buta.