Mohon tunggu...
muthiah alhasany
muthiah alhasany Mohon Tunggu... Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah. Moto: Langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati. Email: ratu_kalingga@yahoo.co.id IG dan Twitter: @muthiahalhasany fanpage: Muthiah Alhasany"s Journal

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pelecehan Seksual? Hajar Saja si Pelaku

4 Desember 2018   10:17 Diperbarui: 4 Desember 2018   10:24 0 6 2 Mohon Tunggu...

Maaf jika terlihat sangat kasar. Tapi saya sangat geregetan terhadap perilaku pelecehan seksual. Terutama yang dilakukan di tempat tempat umum dan fasilitas sosial, di mana seharusnya ada sopan santun dan etika yang tidak boleh dilanggar. Kalau dibiarkan, si pelaku justru semakin menjadi-jadi.

Saya pernah mengalami beberapa kali pelecehan seksual secara fisik. Satu hal yang jelas, itu bukan kesalahan saya karena dalam hal berpakaian selalu tertutup. Berhubung punya sifat tomboy, dahulu selalu mengenakan celana panjang dan kaos atau kemeja lengan panjang. Saya tidak pernah berpakaian seksi.

Namun sejak remaja saya mempelajari ilmu bela diri karate. Berbekal ilmu itu saya lebih berani dibandingkan dengan temanteman perempuan yang lain. Jika teman teman diganggu laki-laki, mereka hanya bisa menjerit ketakutan. Sedangkan saya, langsung saya beri pelajaran yang cukup keras.

Pelaku pelecehan seksual terdiri dari berbagai usia. Baik itu remaja, lakilaki dewasa dan kakek-kakek mesum. Begitulah pengalaman yang saya dapatkan selama ini. Dan beruntunglah mereka yang pernah merasakan hantaman dari tangan saya yang secara reflek bergerak kepada orang yang kurang ajar.

Sewaktu duduk di bangku SMP, di pasar lama Depok pernah terjadi kebakaran. Sebagai orang yang selalu ingin tahu, saya masuk ke dalam kerumunan yang menonton kebakaran tersebut. Rupanya hal itu dimanfaatkan seorang kakek-kakek mesum yang berada di sebelah saya. 

Tangan si kakek menggerayangi bagian dada saya. Spontan secara reflek saya meninju perutnya hingga ia mengaduh kesakitan. Ia mundur menjauh sambil meringis memegangi perutnya yang terkena hantaman tangan saya.

Sedangkan sewaktu sekolah di SMA yang berada di wilayah Tebet, saya naik kereta setiap hari. Saat itu kereta belum senyaman sekarang, uyel-uyelan tanpa ada kipas, apalagi AC. Pada jam sibuk pulang kantor dan pulang sekolah, harus berhimpitan.

Pada saat uyel-uyelan tersebut, ada laki-laki mesum yang menggerayangi tubuh teman saya. Teman itu hanya bisa gelisah tapi takut untuk menjerit. Saya gemas, lalu melayangkan tas yang yang berat kepadanya. Ia lalu terhuyung-huyung. Setelah saya ancam, si pelaku ngeloyor pergi.

Ketika sudah kuliah dan nyambi menjadi wartawan, saya sering pulang larut malam. Resikonya, banyak orang nakal yang berkeliaran di malam hari. Mereka tidak hanya mabuk, tetapi juga mengganggu perempuan yang sedang sendirian.

Saya pernah duduk sebangku dengan laki-laki seperti itu. Karena saya duduk di pojok dekat jendela, ia merasa bebas berbuat tak senonoh. Tangannya pun gatal menggerayangi tubuh saya. Tanpa banyak pertimbangan, siku saya langsung menusuk perutnya dan saaya mendorong dia hingga nyaris terjatuh.

Lelaki mesum itu pun nyengir kuda. Lalu saya mengancamnya,"berani berbuat begitu lagi, saya hajar kamu sampai mati,". Mata saya pun melotot kepadanya. Tak berapa lama ia kemudian turun dari bis itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2