muthiah alhasany
muthiah alhasany writer/blogger, traveller, politician. Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati

Selanjutnya

Tutup

Hukum Artikel Utama

Roy Suryo, Kleptomania, dan Pola Pikir Emak-emak

7 September 2018   11:00 Diperbarui: 7 September 2018   21:05 1880 16 12
Roy Suryo, Kleptomania, dan Pola Pikir Emak-emak
Foto: kompas.com

Berita viral tentang mantan Menpora, Roy Suryo yang diminta mengembalikan ribuan aset kementerian ini menggelikan sekaligus memprihatinkan. Lho kok sampai ada ribuan barang 'digondol' sama mantan menteri ini? Apa dia kurang kerjaan sewaktu menjabat menteri?

Secara logika dia tidak kekurangan uang untuk membeli barang-barang seperti yang tertera dalam daftar. Antara lain, sendok, pompa air, kabel dll. Barang yang dikategorikan sepele dan mudah dibeli.

Hal ini mengingatkan saya pada Kleptomania. Menurut Wikipedia, Kleptomania berasal dari kata kleptein yang artinya mencuri. Sedangkan Kleptomania diartikan sebagai gangguan mental yang membuat penderitanya tidak bisa menahan diri untuk mencuri.

Barang barang yang dicuri penderita Kleptomania umumnya tidak berharga. Seorang penderita Kleptomania merasa tegang subyektif sebelum mencuri dan dia merasa lega serta nikmat setelah berhasil melakukan tindakan pencurian. Sebenarnya tidak ada keuntungan secara material dalam hal ini.

Lalu apakah Roy Suryo seorang Kleptomania? Ini perlu penyelidikan dan pemeriksaan lebih lanjut. Seingat saya, seorang menteri selayaknya sehat fisik dan mental. Tak mungkin SBY mengangkat menteri yang kurang sehat (mentalnya).

Satu hal yang jelas, Roy Suryo seorang kolektor. Ia gemar mengoleksi mobil Mercy, jumlahnya hingga 50 buah. Tapi tidak jelas apakah ia menurunkan kelasnya menjadi kolektor barang barang Kemenpora.

Roy Suryo (dok.merdekacom)
Roy Suryo (dok.merdekacom)
Memang ada bantahan dan sanggahan dari pengacara Roy Suryo bahwa barang barang tersebut dibeli oleh staf Kemenpora pada saat dia menjabat. Seorang menteri masa mengurus hal hal seperti itu. Tetapi tidak mungkin BPK mempermasalahkan  jika barang barang tersebut tidak terbawa oleh Roy Suryo.

Kalau Roy Suryo bukan Kleptomania lalu apa? Ini justru membuat saya teringat pada kelakuan emak emak di kampung. Tahu apa kebiasaan mereka?

Biasanya emak emak sangat senang memperoleh barang sekecil apapun. Kalau ada seorang emak menemukan sebuah sendok di jalan, ia akan memungutnya, memasukkan ke dalam lipatan bajunya. Ah, lumayan, pikir si emak.

Emak-emak gemar mengoleksi barang barang yang tampaknya sepele. Misalnya ada sabun berhadiah piring, maka ia akan membeli sabun merek tersebut berkali-kali agar piringnya lengkap selusin. Begitu pula dengan barang-barang hasil 'nemu', pasti berharap akan menemukan barang serupa agar menjadi lengkap.

Persoalan 'lumayan' ini yang menjadi dasar pemikiran emak-emak.  Perlengkapan dapur dan peralatan rumah tangga bisa menjadi lengkap karena pola pikir ini. Itulah sebabnya emak-emak begitu getol mengantri untuk mendapatkan barang diskon, apalagi gratisan. 

Nah, ada kemungkinan jika Roy Suryo memiliki pola pikir emak emak ini. Yah lumayanlah bisa melengkapi kebutuhan rumah yang tampaknya sepele. Padahal kalau dijumlahkan dalam bentuk uang, besarnya juga'lumayan'.

Siapa tahu Roy Suryo berpikir barang barang itu sudah tak terpakai lagi di Kemenpora. Daripada mubazir, digunakan saja di rumah. Lumayan, daripada repot repot mencari dan membeli lagi.

Memang ada ya laki-laki yang pola pikirnya seperti emak-emak? Ada dong. Banyak contoh laki  laki-laki yang bertingkah seperti perempuan. 

Kalau melihat tingkahnya selama ini, Roy Suryo cenderung seperti emak-emak. Cerewet, mengomentari hal hal yang bukan urusannya. Mending kalau benar, kebanyakan ngawur, bikin orang tambah pusing.

Sekarang kita tunggu penyelidikan lebih lanjut. Apakah pengacara bisa membuktikan bahwa barang barang tersebut di luar sepengetahuan Roy Suryo. Toh tidak mungkin barang barang itu menggelinding sendiri.

Peringatan untuk para menteri, jangan mengantongi apapun dari kantor. Itu belinya pakai duit rakyat. Kasihan kan kalau rakyat terus dibebani anggaran pembelian barang-barang fiktif yang tidak ada wujudnya.