muthiah alhasany
muthiah alhasany writer/blogger, traveller, politician. Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Menyimak 24 Tahun Perjalanan Erdogan Menjadi Orang Terkuat di Turki

12 Juli 2018   16:00 Diperbarui: 12 Juli 2018   16:05 564 3 3
Menyimak 24 Tahun Perjalanan Erdogan Menjadi Orang Terkuat di Turki
Erdogan (dok. AK Parti)

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan tengah menjalani masa kejayaannya sebagai orang terkuat di Turki. Dia yang telah menjadi Perdana Menteri Turki dalam dua periode, kemudian menjadi Presiden Turki untuk kedua kalinya setelah memenangkan pemilihan umum tanggal 24 Juni yang lalu.

Erdogan adalah orang yang berkepribadian sangat kuat. Ia memiliki kharisma, kecerdasan dan keteladanan yang tidak ada pada tokoh politik Turki lainnya. Karena itu sebagian besar masyarakat telah menganggap dia sebagai seorang Sultan. Erdogan merupakan wujud dari  Kesultanan Ottoman pada zaman modern.

Tidak ada yang menyangkal kejayaan kerajaan Ottoman berabad yang lalu. Hanya kesultanan Ottoman yang mampu menaklukkan wilayah Eropa. Kekaisarannya diakui seluruh umat muslim di dunia. Wajarlah jika Erdogan diharapkan membawa kebangkitan Islam selanjutnya.

Namun, tidak banyak yang mengetahui rekam jejak karir politik Erdogan. Bagaimana dia berhasil menjadi orang nomor satu di bumi Ottoman. Perjalanan Erdogan tidak mulus, melainkan sangat terjal. Dia melawan arus sekulerisme yang ditanamkan Attaturk.

Mari kita menyimak perjalanan Erdogan sejak dia menjabat sebagai walikota Istanbul;

27 Maret 1994

Erdogan terpilih sebagai walikota Istanbul, kota terbesar di Turki. Dia sebagai kandidat Partai Kesejahteraan Konservatif yang meraih 25, 19% suara. Sebenarnya Erdogan sudah aktif di partai ini sejak remaja dan mengikuti pemilihan umum sebelum akhirnya terjun ke pilkada/ pemilihan lokal pada tahun 1994.

26 Maret 1999

Erdogan dipenjarakan selama empat bulan dengan dakwaan "memprovokasi kebencian dan permusuhan dengan mendiskriminasi orang berdasarkan kelas, etnis, agama, sekte atau wilayah mereka". Dakwaan ini dijatuhkan setelah Erdogan membaca puisi kontoversial.

Puisi tersebut ditulis oleh seorang penulis konservatif pada tahun 1997. Erdogan dinyatakan bersalah dan dilarang berpolitik. Pemerintahan saat itu melarang politisi agama konservatif berpolitik. Erdogan mengundurkan diri dari jabatan walikota Istanbul.

14 Agustus 2001

Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti). Dia mulai bekerja keras untuk mengembangkan partainya. Orang-orang reformis bergabung dengan Erdogan. Sejumlah politisi yang semula berada di partai lain, juga masuk ke partai ini.

14 Maret 2003

Erdogan terpilih menjadi Perdana Menteri Turki karena AK Parti berhasil memenangkan pemilu bulan November tahun 2002.  AK Parti memperoleh sekitar 34% suara. Setelah itu parlemen mengubah undang-undang sehingga memungkinkan Erdogan aktif sebagai anggota parlemen, lalu dipilih menjadi Perdana Menteri.

27 April 2007

Melalui situs resminya, militer Turki mendesak AK Parti untuk mematuhi norma-norma ala sekulerisme. Inilah tantangan besar pertama Erdogan, menghadapi militer yang memuja Attaturk dan menganut sekulerisme. Tetapi pada pemilu nulan Juli AK Parti justru menang dengan suara lebih besar, 47%.

30 Januari 2009

Sebagai Perdana Menteri, Erdogan meninggalkan sidang Forum Ekonomi Davos setelah bentrok dengan Presiden Israel, Shimon Peres. Perlawanannya terhadap Israel justru membuat rakyat menyambut kedatangannya di Istanbul.

7 Februari 2012

Ketika terjadi pemberontakan di Suriah, Erdogan mendesak Presiden Bashar Al Assad untuk melakukan reformasi dan menghentikan kekerasan di negara itu. Ini adalah salah satu kebijakan Erdogan mengenai Suriah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2