Mohon tunggu...
muthiah alhasany
muthiah alhasany Mohon Tunggu... Penulis - Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah. Moto: Langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati. Email: ratu_kalingga@yahoo.co.id IG dan Twitter: @muthiahalhasany fanpage: Muthiah Alhasany"s Journal

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Booming Ekonomi Kreatif Bersama JNE, Doa dan Kerja Keras 25 Tahun

24 Desember 2015   16:06 Diperbarui: 26 Desember 2015   16:41 142 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

[caption caption="Diskusi Memeringati 25 tahun JNE (dok.pribadi)"][/caption]Beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi kreatif melonjak pesat. Hal ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Boleh dikatakan, ekonomi kreatif telah mengalami masa booming. Mengapa bisa demikian? Tentu saja ini bukan sulap atau magic sim salabim. Ada unsur-unsur yang mendukung terciptanya suasana yang kondusif bagi berkembangnya industri ekonomi kreatif.  Salah satu pilar utama yang menopang ekonomi kreatif adalah jasa pengiriman barang/logistik yang sudah sangat terkenal, yaitu JNE.

Tahun 2015, JNE memasuki usia 25 tahun, usia yang menandakan kematangan. Dengan kematangan berkiprah selama ini, JNE mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif yang berbasis pada rakyat kecil. Di saat perekonomian global mengguncang industri-industri skala raksasa, ekonomi kreatif justru bertahan dan tetap tumbuh tanpa halangan. JNE memberikan andil yang luar biasa karena banyak ekonomi kreatif yang mengandalkan JNE untuk mendistribusikan produk-produk yang dihasilkan ke seluruh wilayah sesuai dengan kebutuhan.

PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) memang senantiasa berkomitmen untuk turut berperan aktif  mendukung kemajuan perekonomian nasional dengan memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pelanggan JNE.  Hingga kuartal ketiga 2015 total pendapatan dan penjualan JNE tumbuh sebesar 30%, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Total jumlah pengiriman saat ini adalah sebanyak 12 juta kiriman per bulan atau 400 ribu kiriman per harinya.  Semua bisa dilaksanakan dengan dukungan kinerja yang baik dari 13 000 karyawan di seluruh penjuru Nusantara.

"Di sepanjang 2015 ini, JNE telah menunjukkan komitmen dan pertumbuhan yang signifikan, terlihat dari solidnya pertumbuhan kinerja bisnis kami. Hal ini turut didukung oleh investasi yang berkelanjutan dalam inovasi produk dan layanan yang berfokus pada kebutuhan pelanggan. Setelah 25 tahun menyediakan aksebilitas, kami akan terus berupaya memberikan layanan terbaik serta jasa kurir terdepan," tutur Mohamad Feriadi, Presiden Direktur JNE.

Banyak inovasi yang telah dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah masyarakat dalam memperluas aksebilitas. Salah satunya komitmen untuk menambah 500 titik layanan JNE di seluruh Indonesia. Dimulai dari kota besar hingga tingkat kecamatan sampai dengan tahun 2018. Saat ini jumlah titik layanan JNE mencapai 5000 titik layanan.

Abdul Rahim Tahir, CEO JNE mengatakan,"Sejalan dengan komitmen kami dalam memberikan layanan terbaik bagi pelanggan, kami mengadakan beberapa peningkatan pada infrastruktur, termasuk aset digital. Inovasi terbaru dalam website kami yang berupa wadah layanan pelanggan dirancang secara unik agar pelanggan dapat mengawasi pengiriman dan pengantaran secara maksimal.Seiring dengan berkembangnya teknologi JNE terus meningkatkan digital tools JNE agar pelanggan dapat memperlancar layanan pengantaran."

Inovasi seiring kemajuan teknologi

Menelurkan inovasi harus sesuai dengan perkembangan zaman. Inilah yang dilakukan oleh JNE menghadapi era digital yang telah melanda dunia. Untuk itu, JNE tak segan-segan bekerjasama dengan pihak lain yang seiring sejalan dengan kemajuan teknologi. Karena itu, dalam acara Nangkring Kompasiana bersama JNE, dihadirkan pula orang-orang yang bergelut dengan dunia digital. Di samping Mohamad Feriadi (Presdir JNE) yang juga memberikan pidato sambutan dan Abdul Rahim Tahir (CEO JNE), tampil sebagai pembicara adalah Ricky Pesik (Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif), Iwan Setiawan (CEO Provetic) dan Achmad Zaky (CEO Bukalapak.com). Mereka adalah entrepreneur di bidangnya masing-masing.

Tak salah jika diskusi dalam acara Nangkring ini bertajuk "Industri Kreatif Pada Era Digital". Dsikusi ini memang menekankan pada pentingnya pemanfaatan teknologi digital secara maksimal. Di sisi lain, Iwan Setiawan dan Achmad Zaky memberikan kesaksiannya bahwa JNE telah banyak membantu usaha mereka. Pada kesempatan itu, Iwan mengajukan sebuah cita-cita untuk memiliki produk nasional yang bisa digunakan. Sedangkan Achmad Zaky ingin sekali membantu UMKM agar bisa mencapai kemajuan yang sama.

Ekonomi kreatif di Indonesia sejalan dengan pertumbuhan ekonomi kreatif di dunia. Menurut kabar, besarnya sekitar 20%, cukup fantastis mengingat  itu justru lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi di Jerman dan 2,5 x kebutuhan militer di dunia. Ricky menjelaskan, kontribusi ekonomi kreatif di Indonesia sebesar enam koma sekian persen. Dan fakta menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tumbuh paling stabil dibandingkan dengan sektor lain.Hambatan  kita adalah kurang sinkronnya antara budaya dan ekonomi. Sedangkan di negara-negara maju seperti Finlandia, hal itu tidak menjadi masalah lagi.

Di era digital ini, penggunaan internet harus menjadi 'senjata' dalam memajukan ekonomi kreatif. Iwan mencontohkan Obama yang mampu menindai bahwa generasi muda adalah pengguna sosial media. Dari data di sosmed itu ia mengetahui apa yang diinginkan oleh mereka. Bisa dilihat, bagaimana kecenderungan mereka dalah memilih calon presiden. Obama pun melakukan simulasi untuk mengetahui negara bagian mana yang bakal kalah atau menang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan