Mohon tunggu...
Mazmur Prasetya Aji
Mazmur Prasetya Aji Mohon Tunggu... Penulis

Jemarikukah ini, yang menulis sedemikian bengis?

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Bapakku adalah Charlie Chaplin

9 September 2019   10:11 Diperbarui: 15 September 2019   15:16 0 14 2 Mohon Tunggu...
Bapakku adalah Charlie Chaplin
Sumber foto: charliechaplin.com

Salah satu hal yang mengubah seseorang adalah perasaan kehilangan. Bapakku mengalaminya. Tepat setelah Ibu meninggal dunia setahun lalu, Bapak berubah menjadi sosok yang lain. Bapak ingin jadi Charlie Chaplin.

Bapak bukan komedian, bukan juga seniman panggung yang lain. Bapak bukan pemain teater, bukan pemain film ataupun seorang musisi. Bapak adalah buruh senior di pabrik yang memensiunkan dini dirinya ketika krisis moneter melanda. Tentu saja dengan tunjangan tak seberapa.

Kalaupun ada hal tentang Charlie Chaplin yang dekat dalam hidup Bapak adalah tumpukan kaset video berdebu yang tertata seadanya di bawah pemutar video yang sudah lama rusak --- hanya terdengar suaranya, tidak muncul gambarnya. Bapak mengoleksinya sejak sebelum menikah dengan Ibu. 

Hampir tiap malam Bapak memutar film hitam putih itu, Ibu selalu menemani, aku akan menyusul setelah pekerjaan rumahku selesai dikerjakan.

Kami selalu tertawa dengan tingkah polah Charlie Chaplin walaupun kami sudah menonton filmnya berkali-kali. Pernah suatu malam, Bapak menumpahkan teh hangat di cangkir luriknya karena terpingkal-pingkal. Ibu tidak marah, segera membereskan tumpahan teh dan membuatkan teh yang baru.

***  

Ibu meninggal dunia karena tumor payudara, tidak lama setelah Bapak berhenti bekerja. Tunjangan tak seberapa dari pabrik digunakan untuk biaya pengobatan. Uangnya habis cepat seperti daun kering dilalap api. Berobat jalan belum setahun, uang tabungan sudah ludes. 

Sementara Bapak belum juga mendapatkan pekerjaan pengganti. Aku yang masih sekolah dasar waktu itu tidak berbuat banyak, selain menahan malu tiap kali dipanggil bagian tata usaha karena uang sekolah yang menunggak berbulan-bulan.

Hal terberat bagi Bapak dan aku saat itu adalah menyerah. Kemiskinan memaksa kami menyerahkan Ibu digerogoti tumor tanpa bisa berbuat apa-apa. Ibu yang menghendaki itu. Ibu tidak ingin menyusahkan kami. Ibu meninggal dengan tubuh kurus. Usianya belum genap empat puluh tahun saat itu.

***

 Suatu sore Bapak menelpon ke kantor.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4