Mohon tunggu...
Supriyatna
Supriyatna Mohon Tunggu... Penulis

Saya menyukai menulis, Karena Menulis adalah kebebasan jiwa.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Emosi Diujung Pena

22 Mei 2020   12:26 Diperbarui: 22 Mei 2020   12:23 26 3 2 Mohon Tunggu...


        BAB I (Hati Tak Bertuan)
                   Episode 003


"Eh lumayan luh bisa makan soto gratis setiap hari, kapan lagi luh"

Ledek temanku,

"Hadeh kalo belum mati , gua belum kubur luh"

Ujarku

Dan Kami pun langsung bergegas Makan siang di Warung Soto sebelah tempat Kami bekerja.

"Tuh kan Ujung - ujungnya Kita ke Warung soto juga kan"

Bisik temanku meledek.

"Apaan sih luh, awas ya macem - macem Gua Cangcang nanti"

Jawabku berbisik juga,

"Emangnya Gua Kebo apa maen cangcang aja"

Balas dia masih meledek.

Aku pun menarik nafas panjang,

Dan tiba tiba

"Soto apa A ?"

Salah satu Pelayan warung soto bertanya,

Sontak Aku terkejut

"Soto Kebo Mba"

Jawabku sekenanya.

Mendengar jawabanku si Mba nya dan temanku pun tertawa

"Eh anu Mba"

lanjutku , malah membuat Mereka semakin tertawa.

"Sen Sen anu siapa Sen?"

Ledek Temanku

"Anu dah tuh jadinya, Soto biasalah Mba masa lupa"

Seruku kepada si Mba Pelayan Warung Soto yang memang terbilang Cantik sih.

"Wah si Mba masa sih Selera Aa nya di lupain, Sungguh terlalu diKau"

Cetus temanku menyambar pembicaraan Kami berdua.

Dan si Mbanya pun terlihat memerah wajahnya dan tersenyum malu. Dan langsung mengambil mangkuk.

"Ebuseh Lah sinis bener sama Saya, masa si Aa nya aja yang di tawarin saya gak, Hadeh hadeh"

Ujar temanku meledek sejadinya.

"Oh iya Bang Juki mau soto apa?"

Sahutnya masih sedikit malu terhadapku.
Aku pun memperhatikannya dan masih berdiri menunggu temanku.

"Soto anu aja dah sama kayak si Aa nya Mba"

Jawab temanku masih meledek

"Apaan sih luh pea bener, Ayo duduklah"

Seruku sambil menarik telinganya untuk duduk.

Dan Kami pun duduk sambil menunggu Soto kami di siapkan.
Sementara sambil menunggu soto yang sedang di siapkan Aku pun mengambil Handphone dari sakuku.

Dan memeriksa pesan dari Dia yang belum sempat Aku buka.
dan pada saat Ku buka ,
Aku terkejut melihatnya, karena benar saja Dia mengirim Fotonya bersama rekan kerjanya mungkin.

Ternyata memang benar Dia berada di Jepang.
karena terdapat Foto pemandangan Gunung Fuji.

Aku pun membalas Foto itu

"Hm...Iya deh Saya percaya"

Balasku

Dan tak lama berselang Dia pun membalasnya.

"Jangan percaya sama Aku musyrik tau"

Balasnya di iringi canda

"Jiaaaah Mulai deh kumat hahahaha"

Jawabku

"Oh iya Kamu sudah makan belum?"

Lanjutku

"Hm....baru saja selesai, sebaliknya ?"

Jawab Dia

"Ini lagi mau makan, makan Soto"

Jawabku

"Ih ... mauu dong, Aku kangen makan soto"

Balasnya sedikit manja

"Ini Bang sotonya"

Seru si Mba Pelayan Warung soto sambil memberikan semangkuk soto dan sepiring nasi putih.

Dan Aku pun mengambilnya.

"Terimakasih ya Mba"

Seruku kepada Mba itu

Dia hanya tersenyum dan kemudian pergi meninggalkanku.

"Eh Mba itu soto Saya mau di bawa kemana ??"

Teriak Temanku

Dan si Mba itu pun membalikan tubuhnya, dan kembali tersipu malu.

"Oh iya Saya lupa , Soto Abangnya belum Saya kasih"

Ucapnya malu

"Wah wah Buahaya ini, Sen Sen luh punya pelet apa sih, sampe si Mbanya jadi linglung gitu"

Cetus Temanku meledek
dan Mba nya pun langsung pergi meninggalkan Kami berdua.

"Mau tau aja luh urusan dapur Orang"

Sahutku , Dan memfoto soto itu
lalu Ku kirimkan ke Dia.

"Nih sotonya sudah dateng, Mari makan"

Balasku

"Ih Jahat masa Fotonya aja sih"

Balasnya Manja

"Iya nanti dikirim Pake Bajai hehehe"

Jawabku meledek

"Awas ya Kamu...Ya sudah Kasih makan saja dulu"

Balasnya

"Nah siapa yang di kasih makan?"

Jawabku

"Maksud Aku ya sudah makan saja dulu"

Balasnya menjelaskan

"Oh Saya kira apa, Oke Saya makan dulu ya"

Jawabku dan mulai makan soto itu.

Setelah beberapa menit Aku pun selesai makan.
dan kemudian membuka Handphone kembali.

Dan mengirim pesan kepadanya

"Sudah selesai makan, Kamu lagi apa?"

Pesanku diringi tanya

"Alhamdulillah, Aku lagi baring baring aja. Masih istirahat soalnya"

Balasnya

Mendengar balasannya Aku senyum senyum sendiri,
dan Membalasnya

"Baring baring bambu hehehehe...."

Ledekku

"Hahahaha lagi lagi dan lagi"

Balasnya di iringi tawa

"Upin ipin dong, Lagi lagi lagi"

Ledekku

Dan Aku masih senyum senyum sendiri.

"Hahahaha....Kamu ini, Coba tebak Aku yang mana"

Balasnya sambil mengirimkan kembali Foto yang Dia kirim.
sontak Aku pun terdiam dan memperhatikan.

Sambil bertanya tanya di dalam hati,

"Yang mana ya?"

Ujarku dalam hati

"Hm...itu yang kedua dari pojok kanan, Betul kan?"

Balasku di iringi tanya

"Hahahaha....Salah itu temanku"

Balasnya tertawa

"Nah terus yang mana?"

Tanyaku

"Aku yang kedua dari pojok kiri"

Jawabnya

"Oalah cuma beda kiri dan kanan aja, kan pojoknya sama hehehe"

Balasku membela diri

"Yeeee dasar, Bedalah cantik Temanku"

Balasnya

"Cantik dari luar tidak terlalu mempesona, tapi kalau dari dalam baru istimewah"

Jawabku

"Tapi ko kamu Gendut bener ya kaya Badut hehehehe"

Lanjutku

"Cie cie Dia mengeluarkan jurus Pujangga hahahaha"

Balasnya meledek

"Iya Aku gendut banyak makan disini"

Sambungnya

"Ya memang Saya Pujangga , Pujangga H. Rhoma Irama hahahaha"

Balasku

"Tidak apa apa Kamu gemuk jadi hemat kasur wkwkwkwk"

Sambungku meledeknya

"Itu Bujangan rese hahaha"

Balasnya

"Jahatnya Kamu, Memangnya Aku sebesar itu kah?"

Sambungnya

"Hahahaha damai ya damai, nanti Saya beliin Kwaci"

Balasku merayu

"Emangnya Aku Hamster di kasih Kwaci"

Balasnya

"Kamu bukan Hamster, tapi Gajah hahahaha"

Ledekku

"Ih ...Rese bener sih dasar"

Balasnya sepertinya mulai kesal

"Iya deh maaf , Sudah menyinggung Perasaanmu"

Jawabku meminta maaf kepadanya.

"Tidak apa apa Aku sudah biasa ko di Bully sama Temanku juga"

Balasnya merendah

"Nah sependapat berarti Saya dengan Temanmu hahahahaha"

Balasku

"Kabuuuuuuuuuurrrrrrrr"

Sambungku

"Arrrrgggghhhhhhh awas ya Kamu ihhh"

Balasnya kesal

Dan Aku pun langsung bergegas dari tempat duduk ku.

"Cabut yu Kejar Target"

Ucapku kepada Temanku

Dan langsung berjalan menghampiri si Mba Pelayan warung soto itu untuk membayar makan.

"Mba jadi berapa?"

Tanyaku

Bukannya menjawab Dia malah tersenyum dan Wajahnya kembali Memerah.

"Eh si Mba , Mulai dah Terhipnotid"

Cetus Temanku

Dan si Mbanya pun terlihat malu dan panik

"Oh iya Bang Juki semuanya jadi dua"

Ucapnya sambil tetap tersenyum

Aku mendengar ucapannya itu langsung tersenyum kepadanya.

"Mba soto dua dan nasi dua, minumnya es teh manis dua , jadi berapa?"

Tanyaku lagi

"Oh iya mas, semuanya jadi Rp.48.000"

Jawabnya sambil menundukan pandangannya dari tatapan mataku.

Dan Temanku pun terlihat ikut menunduk dan seperti sedang mencari cari sesuatu.

"Luh kenapa ? Malah ikutan nunduk?"

Tanyaku

"Hehehehe Gua kira ada duit jatoh, Abisnya si Mbanya nunduk terus itu"

Jawabnya meledek si Mba itu

"Hadeh Gua kira ada Kambing bertelor"

Jawabku sekenanya saja
sontak yang sejak tadi si Mba itu menunduk jadi tertawa,

"Si Pea mana ada Kambing bertelor"

Ujar temanku

"Ini Mba uangnya, Kembaliannya buat Kamu ya"

Ucapku kepada si Mba itu sambil memberikan uang lima puluh ribu,
Dan langsung berjalan keluar Warung Soto itu.

"Mba mau nomor hp si Aa gak?"

ucap temanku kepada si Mba

"Juki oh Juki cepetan"

Teriakku kepada Temanku, dan terus berjalan.

"Iya bentar"

Jawab Temanku.

"Mau gak kalo mau saya kasih nih nomor hp nya"

Ucap Temanku itu menggoda si Mba itu.

Si Mba itu hanya tersenyum dan kemudian meninggalkan Temanku.

"Jiaaaah Kacang Panjang kali ah"

Sahut Temanku dan langsung pergi meninggalkan warung makan itu.
Dia berlari mengejarku.

"Sen kayaknya beneran dah si Mba itu suka sama luh"

Ucap Temanku sambil tangannya merangkul bahuku dari belakang.

"Hadeh apaan sih Luh"

Pungkasku

"Serius pea Luh kaga perhatiin tadi Dia kaya Orang grogi gitu, Mana pipinya jadi kaya bapao lagi ada merah merahnya"

Tegas Temanku

"Hm...Iya juga sih, Tapi bodolah coba Luh aja sana deketin tanya Namanya"

Ucapku

Dan Kami pun sampai di tempat kerja Kami.
Dan langsung kembali melanjutkan aktivitas Kami.

Selang beberapa jam, Di tengah kesibukan Aku pun mengambil Handphoneku dan Membuka Blackberry Messenger.

Kemudian mengirimkan pesan kepadanya.

"Jangan lupa jaga Wudhumu yang Lima itu"

Dan kemudian melanjutkan pekerjaanku.

Dan terdengar suara dering Handphoneku, namun Aku abaikan karena Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku.

Singkat cerita pekerjaanku pun telah selesai , dan Aku pun langsung bersiap siap untuk Pulang.

Aku masih belum membuka Handphoneku, Karena Aku sudah merasa gerah ingin cepat cepat pulang dan Mandi.

Aku pun menghidupkan sepeda motorku, dan langsung melesat dengan cepat.

Seperti biasa di sepanjang jalan Aku mendengarkan musik untu menemani perjalanan panjangku melewati Wisata macet di jalan.

"Samakah rasa yang Kau miliki Hatiku dan Hatimu, Aku rindu ..."

Nyanyian kecilku membelah lautan kendaraan yang padat merayap. Maklumlah karena jam pulang kerja, Ya pasti macet

Beberapa jam kemudian Aku pun sampai dirumah,
dan langsung melepaskan pakaian kemudian menuju kamar mandi.

Selepas mandi Aku pun langsung bergegas ke Masjid untuk Melaksanakan Hobby ku melantunkan Tahrim dan Adzan.

Karena di daerah tempat tinggalku ini, Masih jarang terlihat yang gemar memburu Shalat berjama'ah.

Dan itu salah satu menjadi tugasku untuk memikirkan bagaimana caranya untuk memancing ketertarikan Masyarakat terutama Pemuda untuk kembali mencintai Masjid dan memburu Shalat Berjama'ah.

Maka dari itu Aku pun Mempelajari Ragam Tahrim dan juga Ragam Adzan.

Untuk saat ini Aku masih melantunkan Tahrim,
Karena menurut Analisa Ku pribadi sebagai seorang Pemuda.

Merasa Suasana Masjid terlihat monoton, Karena itu Aku melantunkan Tahrim nada tinggi untuk menarik perhatian Para Pemuda.

Dan benar saja , Alhamdulillah karena lantunan Tahrim itu Sedikit demi sedikit Jama'ah Masjid pun bertambah.

Apalagi ketika Aku masih bersholawat , Terlihat Anak anak kecil menghampiriku dan duduk tepat di sampingku sambil mendengarkannya.

"Allahuma Sholli 'aala Sayyidinaa Muhammad, Wa asyghilidz dzoolimien bidzoolimien"

Saat Aku membaca Sholawat itu Anak anak pun dengan riang mengikuti Sholawat yang Aku bacakan.

"Senang rasanya melihat pemandangan ini Ya Allah,
betapa Aku sangat ingin menyerukan kebenaran di bumi ini, Setidaknya Aku akan berusaha untuk Meramaikan Masjid ini Ya Allah."

Ucapku dalam hati terharu

Karena kecintaanku terhadap Masjid luar biasa mengalahkan segalanya, Aku pun sangat mencintai Kumandang Adzan karena itu Aku berniat untuk menggali pengetahuanku tentang ragam Adzan menurut Ragam yang telah di ingat oleh sebagian Masyarakat.

Dan karena Faktor itulah maka Aku mempelajari Ragam Adzan baik dari Madinnah atau pun Mekkah.

Aku masih terus mempelajari nada nada dan intonasi Adzan tersebut.

Ketika Hatiku sedang gundah gulana, dan ketika Suasana kehidupan ini teramat sangat sukar.

Maka hanya Tahrim dan Adzanlah penghibir hatiku ini.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x