Mohon tunggu...
Nurdin Taher
Nurdin Taher Mohon Tunggu... Keberagaman adalah sunnatullah, karena itu pandanglah setiap yang berbeda itu sebagai cermin kebesaran Ilahi.

Lahir dan besar di Lamakera, sebuah kampung pesisir pantai di Pulau Solor, Flores Timur. Menempuh pendidikan dasar (SD) di Lamakera, kemudian melanjutkan ke SMP di Lamahala, juga kampung pesisir serta sempat "bertapa" 3 tahun di SMA Suryamandala Waiwerang Pulau Adonara, Flores Timur. Lantas "minggat" ke Ujung Pandang (Makassar) pada Juli 1989. Sejak "minggat" hingga menyelesaikan pendidikan tinggi, sampai hari ini, sudah lebih dari 25 tahun berdomisili di Makassar. Senantiasa belajar dan berusaha menilai dunia secara rasional dengan tanpa mengabaikan pendekatan rasa, ...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Memimpikan Lamakera sebagai Epicentrum Peradaban (Sebuah Highlight Halalbihalal)

9 Juni 2020   12:53 Diperbarui: 9 Juni 2020   13:02 125 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memimpikan Lamakera sebagai Epicentrum Peradaban (Sebuah Highlight Halalbihalal)
Kampung Lamakera (sumber)

Pengantar 

Catatan : Artikel ini sebagai pengembangan dari pokok-pokok pikiran yang pernah di-post di WA-grup.

Pada Sabtu, 6 Juni 2020, pukul 19.30, warga Lamakera di seluruh Indonesia, mengadakan Halal Bi Halal Virtual secara daring dengan menghadirkan dua (2) orang politisi nasional dan anggota DPR RI, yang juga sebagai anak kandung Lamakera. Saya sangat berterima kasih mendapatkan kesempatan bertemu dan bertatap muka dengan "orang-orang hebat" pada acara tersebut.

Dr. H. M. Ali Taher Parasong (pada acara Halal Bi Halal Warga Lamakera), dok. WAG.
Dr. H. M. Ali Taher Parasong (pada acara Halal Bi Halal Warga Lamakera), dok. WAG.

Acara itu bertujuan untuk mempertemukan generasi terdidik Lamakera, yang mengidentifikasikan diri sebagai "Generasi Emas" dan mencoba membangun sinergi secara berkelanjutan untuk menata peradaban baru Lamakera, yang dikemas dalam nuansa Halal Bi Halal sebagai rangkaian ritual tahunan setelah Idul Fitri (1441 H), dengan mengusung tema "Ikhtiar Kolektif Mempererat Ukhuwah, Membangun Peradaban Lamakera". 

Tercerahkan

Idiom "Generasi Emas" ini sarat makna, yang menunjuk pada sebuah entitas, yang menggambarkan sebuah kelompok sosial yang sudah tercerahkan, baik secara intetektual maupun spiritual.  Saya lebih suka menggunakan istilah "tercerahkan", meminjam istilah Ali Syariati, seorang tokoh revolusioner Islam Iran, daripada cendekiawan atau intelektual. Karena bagi saya, tercerahkan lebih netral, lebih mencakup (inklusif), dan tidak terikat pada faktor vested interes dan jauh dari bias kepentingan pragmatis jangka pendek. 

Meski demikian saya tetap berharap, mudah-mudahan atribut itu tidak menjadi beban, tapi betul-betul merupakan manifestasi dan implementasi dari tanggung jawab sosial dan moral sebagai anak Lewotanah yang ingin berkhidmat untuk kemajuan daerahnya. Selanjutnya tulisan hanya ingin meng-higlight dinamika dan dialektika selama pertemuan berlangsung.

Prasyarat 

Kalau kita bicara tentang Lamakera hari ini, baik sebagai entitas sosial-budaya dan entitas politik, maka kita tidak bisa memisahkan hal itu dari konteks dan sistem politik nasional hari ini. Sekedar flashback, jujur harus kita katakan, hingga hari ini masih terasa implikasi pertarungan politik sejak kontestasi pileg dan pilpres tahun 2014, telah menimbulkan polarisasi dan segregasi pada masyarakat akar rumput, tidak terkecuali warga Lamakera, akibat politik sektarian yang dibumbui provokasi sentimen primordial dengan modal hoaks dan fitnah. Dan saya berharap sebagai generasi yang sudah "tercerahkan" karena proses adaptasi dan transformasi, baik sosio-kultural maupun pendidikan, kita tidak terjebak dalam politik sektarian primordial dangkal, tapi harus menjadi suluh (pencerah) untuk memberikan pendidikan politik secara jujur, benar, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat akar rumput, yang notabene masih awam politik, yang juga sebagai bagian dari diri kita. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x