Denny Boos
Denny Boos profesional

Panggil saja Kezia. Menyukai hal-hal sederhana. Senang jalan-jalan, photography, sepedaan, koleksi kartu pos UNESCO, yoga. Senang berdiskusi tentang bangunan tahan gempa. Tinggal di Berlin.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Apa Salahnya Pacaran dengan Bule?

15 Desember 2015   08:13 Diperbarui: 19 Februari 2016   08:42 2176 29 17

Setelah baca postingan ku di page facebook yang sengaja kubuat-buat ngumpulin cerita iseng, si kakak dari US nanya dan mengingatkan juga. Tampaknya dengan rada serius pula kali ini, "Dek, kamu sering nginap di tempat si abang?"

Kutanya, "kenapa Kakak?"

Itu tulisanmu bilang gitu. Aku bilang lagi, "loh siapa bilang kalo di Berlin harus selalu tinggal sama dia, lagian kenapa takut juga sama dia?"

"Orang berasumsinya bisa macam-macam dek! Kita orang Asia!" katanya lagi.

Ternyata, aku yang suka merasa-rasa sudah cukup tua menentukan sikap ini masih juga dibuat serba salah. Si abang dan keluarga nya memang di Berlin, walau dia kerjanya di selatan Jerman.

Tapi yang pasti, kalo aku minta nginap di salah satu tempat mereka sejauh ini masih belum ada yang keberatan, buktinya aku masih dikasi kepercayaan pegang dua kunci apartemen berbeda. Maksudnya biar bisa disapuin dan dipel kalo datang, nggak perlu bilang-bilang atau tunggu perintah, haha.

Jadi ingat kembali tentang masa dulu ketika pertama kali pacaran sama orang Jerman. Ya, memang mantan pacar pertama saya orang Jerman. Aku mulai pacaran setelah pertengahan kuliah master nya dulu dan kebetulan orang Jerman.

Aku banyak travel sama dia, banyak kenal negara-negara selain Jerman. Artinya, kami menghabiskan waktu banyak dalam perjalanan dan juga nginap di banyak tempat yang sama. Tapi apakah itu berarti aku "tidur" sama dia? NO! Never! Aku keras kepala? Belum tau kalo itu nama depan ku?

Saat itu, aku hanya berprinsip, kalo pria itu mencintaimu, dia akan menunggu waktu tepat untuk segala sesuatunya. Itu saja yang bisa kukatakan. Dan itu pun aku alami kembali ketika dulu dekat dengan seorang professor. Bukan lantaran dia professor yang sudah profesional, termasuk memahami kepribadian seseorang atau dengan pengalaman yang lebih banyak dengan beda umur 12 tahun, bukan! Prinsip kita bisa kemukakan dengan baik dan sopan.

Dan pahitnya, kalau memang tidak bisa diterima, kan kita juga bisa ambil sikap di awal. Dan buktinya, aku bisa jalan sama dia saat itu. Persoalan nginap di bawah satu atap bukan menakutkan. Sayang, aku mundur dari dia karna aku tidak ingin mengulang kondisi yang sama seperti orangtua ku, punya selisih umur jauh dan aku sebagai anak bungsu merasa kurang waktu bersama yang banyak dengan bapak ku. Aneh sih kata orang alasanku ini, karena umur di tangan Tuhan, tapi ya itu yang kupikirkan sebelum mundur.

Dan bagaimana cerita mantan pertama ku? Sekarang dia jadi kakak ipar ku, dulu pernah sekilas cerita kalau kakak ku berjodoh dengan dia. Sekarang aku bisa berkata, betapa prinsip harus dipertahankan selama itu benar menurut hati dan terutama agama. Apa jadinya kalo aku sudah terlanjur "bebas" sama dia bukan? Dan yang pasti, sekarang kami tetap bisa jadi teman dekat dan teman curhat.

Asik, kan? Dia nya ditakdirkan tetap jadi keluarga walau Tuhan membuat kami tidak berjodoh. Dan jauh ke belakang hari, aku sadar, ini adalah satu hal sederhana dampak positif dari pegang nasehat (agama dan orangtua). Yang pada ujungnya adalah untuk kebaikan diri sendiri. Bukannya mau sombong atau merasa baik. Tidak. Karena Salomo pun, sang raja yang bijak itu selalu minta nasehat. Karena telinga yang mendengarkan nasehat-nasehat akan membuat seseorang menjadi baik dan juga bijak.

Satu lagi yang aku tentang dengan keras perihal pemikiran bahwa berpacaran dengan bule kita akan dipaksa tidur sama dia. Terlalu basi dengar kata "test drive" apalagi kamu merasa dirimu berharga. Bukankah cinta akan memberi jalan tengah bagi satu pemikiran yang tidak sama? Termasuk urusan satu itu. Percayalah! Coba, kakak iparku sampai hari ini selalu bilang ke temannya kalau orang Indonesia itu adatnya tinggi, tidak dibolehkan tidur sama-sama sebelum menikah.

Dan, aku yang mendengarkannya ada sedikit rasa senang, bukan lantaran aku dan kakakku membuktikan sama dia terlebih dulu tapi informasi itu kelak ibarat mata rantai yang akan diteruskan ke simpul lain, kita tidak tau sepanjang apa. Sejujurnya, lagi, aku bukan tipe orang yang mau ngurusin hal pribadi seperti ini, tapi kalau udah ada yang "menuduh" dan merendahkan (keluarga, agama, bangsa) aku tidak tahan untuk diam saja.

Tidak dipungkiri, ada kekuatiran orang terdekat ketika bagian keluarga berpacaran dengan bule. Apa betul bule hidup bebas? Standar apa yang diletakkan untuk label hidup bebas itu? Dari tour ikutan IDKita Kompasiana bersama Kominfo tahun 2013 tentang internet sehat, bahkan, anak SMP dan SMA di beberapa kota besar di Indonesia di atas 50% sudah melakukan hubungan bebas.

Sedih dan miris dengarnya. Ini lah salah satu dampak negatif internet yang dijangkau dengan mudah itu. Lantas, dengan data seperti ini apakah kita masih berani memberi label "hidup bebas" itu pada bule? Satu hal yang pasti, sejauh orang-orang yang saya kenal, mereka sangat memegang janji dan menghargai pendapat kita. "Lu, mau, ayo. Lu, nggak mau, ya udah." kasarnya begitu dalam banyak pemikiran. Dan karena itu jugalah, hal ini tidak bisa aku kategorikan sebagai penunjuk hidup bebas seperti yang dialamatkan.

---

Coretan pagi, sekedar berbagi.