Mohon tunggu...
Mahendra
Mahendra Mohon Tunggu... Sejarah mengadili hukum dan ekonomi, sebab sejarah adalah takdir, di satu sisi. *blog: https://mahendros.wordpress.com/ *Twitter: @mahenunja *FB: Mahendra Ibn Muhammad Adam

Sejarah mengadili hukum dan ekonomi, sebab sejarah adalah takdir, di satu sisi. *blog: https://mahendros.wordpress.com/ *Twitter: @mahenunja *FB: Mahendra Ibn Muhammad Adam

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Tahun 2021 Ayo Optimis!

28 Oktober 2020   17:45 Diperbarui: 28 Oktober 2020   17:54 65 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tahun 2021 Ayo Optimis!
Sumber: covid19.go.id

Jika melihat data per tanggal 27 Oktober 2020, tingkat kesembuhan dari Covid-19 (SARS-Cov2/Severe Acute Respiratory Sundrome-Coronavirus2) di Indonesia adalah 322.248 per 396.454 yang terkonfirmasi positif Covid-19 (SARS-Cov2). Artinya sekitar 81,2 persen sembuh dari yang terkonfirmasi positif Covid-19. Jumlah penduduk terkonfrirmasi di Indonesia adalah 396.454 per 269.603.400 total penduduk Indonesia. Artinya sekitar 0,14 persen penduduk Indonesia yang terkonfirmasi positif Covid19.

Jika melihat data 27 Oktober 2020, Jumlah penduduk terkonfirmasi di dunia adalah 43.341.451 per 7.794.798.739 total penduduk dunia. Artinya sekitar 0,55 persen penduduk dunia yang terkonfirmasi positif Covid-19. Apakah wajar kita terlalu khawatir berlebihan dengan Covid-19 sementara kita tahu 99 persen penduduk dunia  adalah non-konfirmasi covid-19? Bahkan tidak sampai 1 persen penduduk dunia terkonfirmasi covid-19.

Apakah Covid-19 meningkatkan persentase kematian? Kematian akibat SARS-Cov2 (2019-2020) sebanyak 1.157.509 per 43.341.451 yang tertular. Kematian akibat SARS-Cov (2002-2004) 774 dari 8.098 yang tertular. Kematian akibat Middle East Respiratory Syndrome-Coronavirus atau MERS-Cov  (2012) adalah 858 dari 2.494 orang yang tertular. Berurut persentase kematian dari jumlah yang tertular SARS-Cov, MERS-Cov, dan SARS-Cov2 adalah 9,55 persen : 34,4 persen : 2,67 persen.  Artinya MERS-Cov lebih membunuh 12 kali lipat dibandingkan SARS-Cov2 (Covid-19). SARS-Cov lebih membunuh tiga kali lipat dibandingkan SARS-Cov2 (Covid-19). Namun Covid-19 lebih mudah menular yakni 17 kali lipat dibandingkan MERS-Cov.

Kajian ini tidak bermaksud meremehkan SARS-Cov2 penyebab Covid-19 namun bakteri Tbc lebih meningkatkan kematian, dan efek tembakau jauh lebih meningkatkan kematian daripada Tbc. Setelah enam bulan lebih, pada 17 Oktober 2020, jumlah kematian karena SARS-Cov2 (Covid-19) di Indonesia adalah 12.431, bila dianggap kematian akibat Covid-19 sebanyak dua kali lipat (12.431 x 2 = 24.862) dihitung sebagai kasus setahun maka perbandingan kematian per tahun akibat SARS-Cov2, bakteri Tbc dan efek tembakau berurut sebagai berikut 24.862 : 93.000 : 225.700. Artinya Bakteri Tbc tiga kali lebih membunuh daripada SARS-Cov2. Efek tembakau (rokok) sembilan kali lebih membunuh daripada SARS-Cov2.

Kematian pada perokok aktif jauh lebih banyak dari perokok pasif. Pada 2018 WHO merilis statistik kematian perokok pasif (orang yang tidak merokok tapi menghirup asap rokok orang lain) sebanyak 890.000 kematian di dunia. Mengapa masker dan jaga jarak tidak diterapkan sejak dahulu untuk membatasi jumlah bakteri Tbc dan menghindari asap rokok? Mungkin karena SARS-Cov2 ini jenis makhluk yang paling mudah dan cepat menularnya di tengah umat manusia. Semoga pihak yang berkompeten di bidang ini menjelaskan kepada masyarakat apa alasannya.

Sedikit gambaran di Kabupaten Merangin

Pada Oktober pekan ketiga penulis membuat survei di Sekolah Permata Hati Merangin terhadap 285 partisipan gabungan Orangtua siswa TK, SD, dan SMP Permata Hati. Hasilnya 75,1 persen menjawab kuesioner bahwa anak mereka tidak bergejala demam, batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, dan/atau pilek selama 3 bulan terakhir (Juli, Agustus, September).

Pada survei pekan kedua Juli hasilnya 77,2 persen menjawab kuesioner bahwa anak mereka tidak bergejala selama 3 bulan terakhir (April, Mei, Juni). Persepsi orang tua siswa ini dapat diambil makna bahwa 3 dari setiap 4 siswa memiliki imunitas yang baik.

Bagaimana penerapan protokol kesehatan pada masa pandemi Covid-19 di RT orang tua siswa berdomisili? Hasil  survei Juli 59,3 persen berusaha berhati-hati, 30,5 persen biasa saja, 8,8 persen sangat ketat bermasker dan jaga jarak, dan 1,4 persen menjawab tidak tahu. Pada survei Oktober (tidak kurang di 19 desa/kelurahan) 56,8 persen berusaha berhati-hati, 32,3 persen biasa saja, 10,2 persen sangat ketat bermasker dan jaga jarak, dan 0,7 persen menjawab tidak tahu.

Alasan utama orang tua mengizinkan anaknya bersekolah (belajar tatap muka)? Hasil survei pada Juli 11,8 persen (34 orang) karena yakin dengan imunitas anak, 27,7 persen (81 orang) karena protokol kesehatan. Sedangkan hasil survei pada Oktober 17,2 persen (49 orang) karena yakin dengan imunitas anak dan 40 persen (114 orang) karena protokol kesehatan.

Alasan utama orang tua tidak mengizinkan anaknya bersekolah (belajar tatap muka)? Hasil survei Juli 34,5 persen (101 orang)  karena sangat cemas dengan imunitas anak. Alasan yang sama pada hasil survei Oktober sebanyak 24,6 persen (70 orang).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x