Mohon tunggu...
Edukasi

Rendahnya Literasi di Indonesia Menyebabkan Hoax Merajalela

6 Desember 2018   00:09 Diperbarui: 6 Desember 2018   00:39 0 0 0 Mohon Tunggu...

Salah satu hal mendasar yang sangat diperlukan dalam konteks upaya literasi media di masyarakat adalah kebiasaan membaca. Sayangnya, sebagaiman kita tahu, minat baca dan budaya literasi masyarakat kita masih rendah. Hasil penelitian World's Most Literate Nation yang disusun Central Connecticut State University tahun 2016 menempatkan Indonesia di peringkat ke 60 dari 61 negara dalam hal budaya literasinya. Sementara di satu sisi, kita dapat masuk ke dalam lima besar negara pengguna smartphone terbanyak di dunia.

Dengan adanya pengguna smartphone dan media sosial, ditambah minimnya literasi media, jadilah kita menjadi masyarakat yang mudah termakan masalah atau berita di dunia maya, kemudian mudah menyebarnya. Hal tersebut tidak bisa dilontarkan dari kecenderungan mayarakat yang sudah terbiasa berpikir kritis dalam mengkonsumsi berita, yang berpangkal dari minimnya minat baca; budaya literasi, dan literasi media di masyarakat.

Sejak terbukanya kebebasan informasi dan teknologi media, pertumbuhan media massa dan media baru mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Media komunikasi yang telah bermetamorfosis menjadi media digital itu perkembangannya semakin beragam, lebih gampangnya direpresentasikan oleh pertumbuhan smartphone dan sejenisnya.

Keyakinan dengan dasar seperti politik, agama, kultur kerap membuat orang mengedepankan prasangka alih-alih fakta. Prasangka tersebut yang kerap kali dibawa ketika berpendapat di ruang publik seperti di media sosial. Tak terkecuali ketika membaca dan membagi informasi. Dalam kondisi demikian, kebenaran informasi apakah ia berbasis pada fakta atau kebohongan menjadi tidak penting lagi. Hal yang dianggap lebih penting adalah, apakah informasi tersebut mengafirmasi keyakinan yang dimiliki atau tidak. Prasangka tersebutlah yang membuat hoax.

Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hoax tersebar sangat cepat melalui media sosial dan media konvensional. Fakta menunjukkan masyarakat Indonesia lebih mudah menerima hoax dibandingkan dengan informasi yang berdasarkan fakta. Masyarakat Indonesia lebih suka untuk menyebarkan hoax dibandingkan dengan informasi yang intelektual. Survei membuktikan bahwa masyarakat Indonesia lebih tertarik untuk menyebarkan hoax yang tidak mendidik dan tidak berdasarkan fakta.

Kurangnya Literasi media sosial pada era 4.0 menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi pemerintah saat ini. Kemajuan teknologi banyak disalahgunakan oleh masyarakat Indonesia. Saat  ini media sosial menjadi sarana masyarakat untuk menyebarkan berita yang didapat dari sekitarnya. Kita sebagai mahasiswa di era 4.0 haruslah lebih sensitif dalam menerima berita. Tak jarang mahasiswa Indonesia menerima berita dengan begitu saja tanpa tahu asal dan kebenaran dari berita tersebut. Ketidakjelasan berita tersebut dapat menyebabkan kontroversi antara masyarakat Indonesia.

Seluruh masyarakat Indonesia dapat menciptakan sebuah media atau berita, media yang berdasarkan fakta ataupun media yang didasarin oleh opini. Sebuah media yang didasari oleh fakta menghasilkan berbagai opini dari masyarakat yang menyaksikannya, sedangkan media yang didasari oleh opini menghasilkan berbagai fakta-fakta baru yang menyebabkan kontroversi di kalangan masyarakat.

Sebagai masyarakat Indonesia yang lebih maju kita harus semaksimal mungkin memahami apa media atau berita yang tersebar di sekeliling kita. Masyarakat saat ini menjadi sarana penyebaran berita yang sangat cepat. Hal tersebutlah yang sangat disayangkan oleh pemerintah, karena kebanyakan berita yang disebarkan oleh masyarakat adalah hoax, masyarakat saat ini menyebarkan berita tanpa mencermati dan menkonfirmasi kebenarannya terlebih dahulu.

Dengan kemajuan teknologi yang canggih dan mudah digunakan, penyebaran berita hoax sebenarnya dapat di minimalisir, tetapi kembali lagi kepada masyarakat apakah masyarakat memiliki niat yang baik dalam penyebaran berita atau malah memiliki niat yang buruk, karena pada zaman ini dengan menyebarkan berita hoax masyarakat mampu menghasilkan uang.

Mahasiswa adalah salah satu bagian masyarakat yang paling cepat mendapatkan informasi dan paling banyak menyebarkan dan menerima berita hoax, dengan keberadaan mahasiswa di tengah-tengah masyarakat, mahasiswa diharapkan agar cepat berpikir apa dampak yang akan didapatkan terhadap kesatuan persatuan negara, seluruh kegiatan penyebaran berita harus diantisipasi terlebih dahulu sebelum di sebarluaskan.

Generasi saat ini adalah generasi yang serba digital,seluruh kegiatan masyarakat dapat dilakukan hanya dengan menggunakan telepon genggam. Generasi 4.0 adalah generasi yang lebih kritis dan lebih praktis dibanding generasi sebelumnya. Sebagai generasi yang lebih maju, para remaja dan mahasiswa pada zaman ini diharapkan agar lebih pintar dalam penggunaan sosial media.

Generasi saat ini atau generasi Z dan millennial adalah generasi yang tumbuh besar bersama perangkat teknologi dan internet. Sebagai digital natives (generasi yang lahir di saat era digital sudah berlangsung dan berkembang pesat), mereka menerima media sosial sebagai sesuatu yang taken for granted (sesuatu yang sudah biasa). Ini berbeda dengan generasi orang tua mereka yang masuk dalam kategori digital immigrant (generasi yang lahir sebelum generasi digital belum begitu berkembang).

fokus literasi media dalam kurikulum pendidikan adalah memastikan mahasiswa mampu membaca perkembangan teknologi termasuk konsekuensi pesan di dalamnya secara kritis. Serta yang lebih penting adalah menggunakannya secara bijak. Tidak hanya berkaitan dengan konflik sosial, hal ini penting sebagai upaya juga menangkal gejala radikalisi agama yang marak menggunakan media-media sosial.

Lemahnya budaya literasi bagi masyarakat yang kurang mampu bernalar. Lemahnya kemampuan bernalar akan membuat seseorang sulit berpikir jernih dan kritis dalam menemukan setiap masalah, yang tercermin adalah emosi dan egoisme. Alhasil, isu-isu provokatif dan hasutan yang dihembuskan berita-berita tipuan dengan mudah disesuaikan dan disebarkan.

Setiap hari di sosial media (facebook, twitter, whatsapp, instagram, path, tumblr, line,  ) selalu dibanjiri oleh jutaan informasi yang tidak jelas sumbernya, bahkan tak jarang informasi yang bersifat provokatif dan bisa mengakibatkan permusuhan, dan juga tersebar informasi dan gambar-gambar hoax yang pada ujungnya meminta bantuan dana, di dalam era seperti sekarang ini, susah sekali membedakan informasi yang mempunyai arti berita, fakta, prasangka, gosip, bercampur aduk menjadi satu.

Masyarakat Indonesia yang kurang literasi akan sulit membedakan perbedaan antara berita hoax dan berita yang berdasarkan pada fakta. Semakin canggih teknologi membuat masyarakat semakin bebas dalam mencari informasi-informasi yang pada akhirnya akan membuat masyarakat kesulitan untuk melakukan kontrol terhadap dirinya. Kurangnya literasi juga dapat menyebabkan plagiarisme, kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang literasi digital juga membuat seseorang dengan gampang menelan mentah-mentah berita yang sumber dan kebenarannya masih dipertanyakan. Literasi sangatlah penting, jika masyarakat memiliki niatan lebih untuk membaca pasti berita hoax, tidak akan tersebar dengan begitu mudah. Saat tingkat literasi masyarakat Indonesia tinggi kosa-kata akan bertambah, kerja otak akan semakin optimal, wawasan bertambah dengan berbagai informasi baru, meningkatkan kemampuan interpersonal, mempertajam diri dalam menangkap makna dari suatu informasi yang sedang dibaca, melatih kemampuan berfikir dan menganalisa kita, meningkatkan fokus dan konsentrasi seseorang, dan melatih kita dalam hal menulis dan merangkai kata-kata yang bermakna.

.