Mohon tunggu...
Elrisa Thiwa Nadella
Elrisa Thiwa Nadella Mohon Tunggu... Freelancer - Blogger

Learner | Blogger www.taruihbaraja.com

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Belajar di Rumah, Bukan Libur

12 Mei 2020   23:35 Diperbarui: 12 Mei 2020   23:47 365 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Ada yang berbeda pada bulan Ramadan 1441 H ini. Tidak ada sholat berjamaah bareng di masjid. Tidak ada jalan-jalan sore atau ngabuburit. Tidak ada Pasa Pabukoan (Pasar kuliner Ramadan yang menjual aneka macam makanan untuk berbuka puasa). 

Jalan ditutup pakai palang. Tempat-tempat umum menjadi sepi bahkan kosong. Sebagian besar aktivitas dilakukan via daring. Para karyawan tidak bekerja seperti jadwal biasanya (itupun masih syukur tidak diPHK). Para guru dan murid sekolah (juga tata usaha serta perangkat lain) pun bekerja di rumah saja

Ramadan, biasanya anak sekolah di sini mengisi waktu dengan acara Islami, Pesantren Ramadan. Pesantren Ramadan memiliki beberapa kegiatan seperti belajar agama Islam lebih mendalam dengan mendengarkan ceramah dalam tema-tema tertentu. 

Membaca Alquran dengan target khatam Alquran pada akhir acara, juga berusaha untuk menghafalnya. Ada lomba MTQ dan cabang-cabang lainnya. Serta tak lupa mengisi Buku Agenda Ramadan berisi targetan amalan yaumi (amalan harian). Pada masa Covid19 merajalela, Pesantren Ramadan dilakukan di rumah saja.

Saya pun teringat Ramadan saya saat berada di bangku Sekolah Menengah Pertama. Saat itu saya juga menghabiskan sebulan Ramadan di rumah, mengerjakan tugas. Kala itu, internet di kota ini belum begitu masif. Warnet memang menjamur, dan saya sudah terbiasa main ke warnet berselancar ria di jagad dunia maya. Namun rasanya begitu terbatas, pun dengan jaringan yang belum secanggih sekarang. 

Jadi, tidak ada proses belajar mengajar antara guru dan murid saat itu, yang ada hanya tugas rumah. Tugas yang diberikan adalah membuat soal dan jawaban di double folio pada setiap mata pelajaran. Itulah yang saya kerjakan selama Ramadan saat itu, dalam rangka Ramadan belajar di rumah saja.

Barangkali saya lebih beruntung karena saya tidak "terkurung" di dalam rumah pada saat itu. Sementara anak sekolah saat ini, mereka dibatasi untuk berkumpul atau bepergian. 

Di rumah terus jika tanpa hiburan, dapat memicu kebosanan. Saya percaya kita butuh piknik, entah bagaimanapun bentuk piknik alias hiburan agar otak bisa lebih segar. Nasib, pada saat ini orang-orang tidak dapat menunaikan piknik seperti yang biasa dilakukan. Kalau kita tinggal berdampingan dengan banyak orang, maka mau tidak mau, piknik demi menyegarkan pikiran harus dilakukan di rumah saja.

Sebagai orang yang biasa berkumpul dengan teman-teman, adik saya  kini mempunyai kebiasaan melakukan conference call dengan teman-temannya beberapa kali sehari, walau isinya cuma ngakak menertawakan ekspresi lawan bicara atau background suara di seberang sana. 

Tidak dipungkiri, komunikasi jarak jauh memang tidak menimbulkan esensi sebagaimana yang ditimbulkan lewat komunikasi langsung. Efektif, tapi tidak efisien. Apa daya, meskipun jarak tempat tinggal terbilang dekat, berkunjung bisa dilakukan jika mau, namun tahan dulu karena saat ini waktunya di rumah saja.

Suatu hari adik saya bicara heboh ke pada teman-temannya,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Lihat Kisah Untuk Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan