Mohon tunggu...
Elra Azmi
Elra Azmi Mohon Tunggu... Mahasiswa di Universitas Negeri Medan

Mahasiswa, hobi menulis, penyuka musik hiphop.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sekilas Mengenal Adat Suku Karo

20 April 2021   11:07 Diperbarui: 20 April 2021   16:26 201 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sekilas Mengenal Adat Suku Karo
karo.siap-online.com

Penulis 1 : Elra Azmi Masfufah

Penulis 2 : Prof. Dr. Rosmawaty, M.Pd.

Tanah Karo adalah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia, yang memiliki berbagai ragam kebudayaan yang unik. Setiap etnis di Sumatera Utara memiliki budaya dan kesenian yang berbeda dengan etnis lainnya. Demikian pula dengan masyarakat Karo yang memiliki kebudayaan secara turun temurun yang diwariskan dari nenek moyangnya dan disampaikan secara lisan maupun tulisan agar kebudayaan mereka tidak hilang dan dapat terjaga kelestariannya. Kabupaten Karo mempunyai berbagai macam keunikan, yakni sebagai berikut.

1. Lambang dari Suku Karo

PIJER PODI adalah Lambang Persatuan dan Kesatuan Masyarakat Karo.

Arti dari lambang tersebut adalah sebagai berikut ini:

  • UIS BEKA BULUH, Lambang kepemimpinan.
  • BINTANG LIMA, Melambangkan bahwa suku Karo terdiri dari lima merga, kemudian dipadukan dengan tiang bambu yang terdiri dari empat buah sehingga menyatu dengan tahun Kemerdekaan R.I.
  • PADI, Melambangkan Kemakmuran yang terdiri dari 17 butir sesuai dengan tanggal kemerdekaan R.I.
  • BUNGA KAPAS, Lambang keadilan sosial, cukup sandang pangan yang terdiri dari 8 buah sesuai dengan bulan kemerdekaan R.I.
  • KEPALA KERBAU, Melambangkan semangat kerja dan keberanian.
  • TUGU BAMBU RUNCING, Melambangkan patriotisme dan kepahlawanan dalam merebut dan mempertahankan Negara Kesatuan R.I.
  • MARKISA, KOL dan JERUK, Melambangkan hasil pertanian spesifik Karo yang memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat Karo.
  • JAMBUR SAPO PAGE, Melambangkan sifat masyarakat Karo yagn suka menabung (tempat menyimpan padi).
  • UIS ARINTENENG, Lambang kesentosaan.
  • RUMAH ADAT KARO, Melambangkan ketegaran seni, adat dan budaya Karo.

2. Sejarah Suku Karo

Karo merupakan Suku Bangsa asli yang bermukim di Pesisir Timur (Ooskust) Sumatera atau bekas wilayah Kresidenan Sumatera Timur, Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Suku ini salah satu suku terbesar di Sumatera Utara. Dan dijadikan salah satu nama kabupaten di wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yang bernama Kabupaten Karo. Suku ini berbahasa Karo atau Cakap Karo. Pakaian adat suku Karo didominasi oleh warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas. Suku Karo bisa disebut suku Batak Karo. Dikarenakan banyaknya marga, kekerabatan, kepercayaan, dan geografis domisilinya yang dikelilingi oleh etnis-etnis Batak.

Orang Karo menamakan diri kalak Karo, orang diluar Karo dan tidak mengenal Karo-lah yang memanggil mereka dengan Batak Karo. Benar atau tidak Karo ini disebut Batak, tergantung persepsi Batak yang ditawarkan. Karena, jika konsep Batak yang ditawarkan adalah Batak yang didasarkan pada hubungan vertikan (geneologi/keturunan darah) seperti yang berlaku di Toba-Batak, bahwa Si Raja Batak merupakan nenek moyang bangsa Batak, maka Karo bukanlah Batak! Ini disebabkan eksistensi Karo yang telah teridentifikasi lebih awal dibanding kemunculan Si Raja Batak ini( Karo jauh sudah ada sebelum kemunculan Si Raja Batak diabad ke-13 Masehi) berdasarkan pada fakta sejarah, logika, tradisi di Karo dan suku-suku lainnya yang disebut Batak. Namun, bila batak didasarkan pada kekerabatan horizontal (solidaritas, teritorial, dan geografis) maka Karo merupakan bagian dari Batak.

A) Masa Kerajaan Karo

Kerajaan Haru-Karo (Kerajaan Aru) mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera, tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun, Brahma Putra, dalam bukunya "Karo dari Zaman ke Zaman" menyatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang mempunyai raja bernama "Pa Lagan". Menilik dari nama bahasa yang berasal dari suku Karo. Mungkinkah pada masa itu kerajaan harus sudah ada? Hal ini membutuhkan penelitian lebih lanjut (Darwan Prinst, SH: 2004).

Kerajaan Haru-Karo tumbuh dan berkembang bersamaan dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka dan Aceh. Terbukti kerajaan Haru pernah berperang dengan kerajaan tersebut. Kerajaan Haru pada masa keemasannya, pengaruhnya tersebar dari Aceh Besar sampai sungai Siak di Riau. Suku Karo di Aceh Besar dalam bahasa Aceh disebut Karee. Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh diakui oleh H. Muhammad Said dalam bukunya berjudul "Aceh Sepanjang Abad", (1981). Ia menekankan penduduk asli Aceh Besar merupakan keturunan mirip Batak. Tapi tidak dijelaskan keturunan dari Batak mana masyarakat asli tersebut. H. M. Zainuddin dalam bukunya "Tarich Atjeh dan Nusantara" (1961) menyatakan di lembah Aceh Besar terdapat kerajaan Islam yang bernama kerajaan Karo. Disebutkan juga penduduk asli atau bumi putera dari ke-20 mukim bercampur dengan suku Karo. Brahma Putra, dalam bukunya "Karo Sepanjang Zaman" menyatakan bahwa raja terakhir suku Karo di Aceh Besar adalah Manang Ginting Suka.

Kelompok karo di Aceh berubah nama menjadi "Kaum Lhee Reutoih" atau Kaum Tiga Ratus. Penamaan ini terkait dengan peristiwa perselisihan antara suku Karo dan suku Hindu yang disepakati dengan perang tanding. Sebanyak tiga ratus (300) orang suku Karo hendak berkelahi dengan empat ratus (400) orang suku Hindu bertempat di suatu lapangan terbuka. Perang tanding ini bisa didamaikan dan sejak itu suku Karo disebut sebagai kaum tiga ratus dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus. Di kemudian hari terjadi pencampuran antar suku Karo dengan suku Hindu mereka disebut sebagai kaum Ja Sandang. Golongan lainnya adalah Kaum Imeum Peuet dan Kaum Tok Batee merupakan campuran suku pendatang, seperti: Kaum Hindu, Arab, Persia, dan lainnya.

Wilayah Suku Karo

Sering terjadi kekeliruan dalam perbincangan sehari-hari di masyarakat bahwa Taneh Karo diidentikkan dengan Kabupaten Karo. Padahal, Taneh Karo jauh lebih luas daripada Kabupaten Karo karena meliputi:

  • Kabupaten Karo,
  • Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Lubuk Pakam, Kecamatan Bangun Purba, Kecamatan Galang, Kecamatan Sibolangit, Kecamatan Pancur Batu, Kecamatan Namo Rambe, Kecamatan Sunggal, Kecamatan Kuta Limbaru, Kecamatan STM Hilir, Kecamatan Hamparan Perak, Kecamatan Tanjung Morawa, Kecamatan Sibiru-biru, Kecamatan Sibiru-biru, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Langkat, Kabupaten Aceh Tenggara,
  • Kabupaten Dairi, Kecamatan Taneh Pinem, Kecamatan Tiga Lingga, Kecamatan Gunung Sitember.

B) Silsilah Marga Karo

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x