Mohon tunggu...
Elnado Legowo
Elnado Legowo Mohon Tunggu... Mahasiswa - Penulis

Kata-kata memiliki kekuatan untuk mengesankan pikiran tanpa menyempurnakan ketakutan dari kenyataan mereka. - Edgar Allan Poe

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Horor di Kota Tua

12 September 2021   15:52 Diperbarui: 17 September 2021   15:24 1208 4 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Horor di Kota Tua
img-20181224-215150-175-61444eaf06310e51d267fd02.jpg


Suatu malam di Jalan Kali Besar Barat, Kota Tua, seorang pria pejalan kaki muda yang tinggi, bertubuh tegap, dan tampak sehat telah mengalami sebuah peristiwa ganjil. Tampaknya dia sedang melaju ke arah selatan - menuju Jalan Pintu Kecil - melalui jalanan yang sedikit gelap dan sepi; hanya ditemani oleh suara air kanal; dikelilingi oleh bangunan-bangunan kolonial dan sebuah kanal yang menghiasi tiap sisi jalan. Saat si pejalan sedang melintasi sebuah bangunan yang terbuat dari batu bata merah dan diberi garis kuning polisi di pintu depannya; tanpa ada provokasi terlihat, dia tidak sengaja melihat ke arah salah satu jendela gedung tersebut dan menjerit histeris; lalu berlari seperti kesetanan tanpa memperhatikan lingkungan sekitar; berakhir dengan tertabrak mobil saat sedang menyeberang jalan menuju arah jembatan. Untungnya dia masih sadar dan hanya mengalami cedera ringan serta beberapa luka saraf di tubuhnya. Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu segera menolong si pejalan, dan mendapatinya sedang berbicara racau sambil menunjuk ke arah salah satu jendela gedung yang terbuat dari bata merah dengan ekspresi ngeri. Peristiwa itu juga disaksikan oleh beberapa warga setempat - salah satunya seorang penjual sirup di dekat tempat kejadian - dan mereka mulai mengembangkan cerita tersebut kepada para pendatang.
 
Sekitar enam kilometer dari tempat kejadian; terdapat seorang pemuda, bernama Hendro Drajatmoko, yang sedang terbaring di atas kasur rawat dengan tubuh penuh luka memar dan kaki kanan yang diperban, karena luka patah tulang dari sebuah aksi heroik yang dramatis dan mengerikan. Akibatnya dia mendapatkan kengerian yang akut di dalam batinnya. Tanpa ada upaya memecah keheningan di dalam kamar rawat inap yang hanya ditemani oleh pacarnya, bernama Pricilla Wijayanto, yang sudah tertidur di atas sofa tamu; Hendro hanya menatap kosong ke jendela kamar; menikmati panorama malam; sembari mengenang sebuah peristiwa yang dialaminya beberapa hari lalu.
 
Dalam kenangannya; Kota Tua adalah sebuah kota bersejarah yang artistik dan saksi bisu kolonialisme Belanda di Nusantara. Tempat itu ditumbuhi oleh bangunan-bangunan yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan berasal dari era Renaisans hingga era Romantisisme, sehingga menciptakan rasa antik bagi mata awam. Bangunan-bangunan itu memiliki unsur Eropa, Tiongkok, dan bumiputra; mereka semua bercampur menjadi satu dan menciptakan sebuah labirin hibrid. Namun sekarang keadaan telah berubah; tempat itu sudah menjadi bangkai sejarah yang kotor dan terkikis oleh perkembangan zaman dan populasi manusia; terutama sejak kedatangan para imigran dari pelabuhan Sunda Kelapa. Para imigran itu memiliki rupa yang sangat aneh; berkulit abu-abu pucat, bermata besar, bermulut lebar, dan memiliki raut muka tidak menyenangkan serta kesan yang mengintimidasi; bahkan mereka mempunyai watak yang sangat buruk dan tidak bersahabat dengan orang sekitar seperti warga setempat. Tidak ada yang tahu pasti tempat asal mereka; yang pasti mereka datang dari luar pulau Jawa atau mungkin dari luar negeri; karena logatnya tidak jelas dan membingungkan. Para imigran tersebut mulai bermukim di Kota Tua dan tinggal di dalam bangunan-bangunan yang tidak berpenghuni secara ilegal, sehingga menciptakan sebuah koloni baru yang meresahkan. Mereka sering bertindak seenaknya dan bertabrakan dengan aturan hukum setempat. Mereka hidup dengan cara mencuri, merampok, dan menjual barang-barang hasil tindakan kriminal atau benda-benda absurd dari tempat asal mereka. Para imigran itu juga sangat agresif dan lihai dalam berkelahi, seperti kera primitif yang beringas, sehingga dapat membahayakan nyawa orang yang sedang dihadapinya. Walhasil, para warga berusaha untuk tidak melakukan kontak atau interaksi dengan mereka.
 
Semakin lama para imigran itu kian menjadi-jadi. Mereka mulai mendirikan kios secara liar; menguasai trotoar hingga seperempat jalan raya; sampai-sampai menggusur para pedagang asli di tempat tersebut. Setiap malamnya mereka juga sering membuat pesta aneh di pinggir jalan atau ruang publik lainnya; berteriak, bernyanyi, serta menari di sepanjang jalan seperti orang yang habis menghisap mariyuana, sehingga menciptakan bayangan Mephistopheles yang menyeramkan. Tidak jarang mereka memainkan silat tangan di dalam kegelapan untuk suatu hal yang tidak menyenangkan kepada orang-orang yang mereka temui. Alhasil, para warga di sekitar Kota Tua mulai menjauhi jalan setiap malamnya, bersembunyi di dalam rumah, memadamkan lampu, menutup semua tirai jendela dan mengunci pintu rapat-rapat, dan menyembunyikan eksistensi mereka dari tempat yang telah dikuasai oleh para imigran. Lebih-lebih para pengunjung Kota Tua makin sedikit tiap waktunya; seolah orang bijak melarang sesamanya untuk datang tempat itu terutama di malam hari. Ratusan hingga ribuan laporan telah berdatangan ke kantor polsek setempat, tapi tidak ada yang berani menertibkan atau menindak para imigran. Seakan para imigran itu mampu menghipnotis para penegak hukum, sehingga membuat mereka tunduk dan takut tanpa ada perlawanan.
 
****
 
Tatkala di siang menjelang sore hari, Hendro dan Pricilla sedang berkunjung ke Kota Tua untuk menghadiri acara pembukaan café baru - milik sepupu Pricilla - yang terletak di seberang Pintu Selatan Stasiun Kota Tua. Di sana mereka memarkirkan mobilnya di parkiran Gedung BNI dan berjalan kaki menuju café tersebut, sambil menikmati wajah baru Kota Tua yang sangat menyedihkan. Mereka tidak habis pikir saat mendapati tempat bersejarah yang artistik, kini telah berubah menjadi sebuah kota bawah tanah yang kumuh dan menakutkan. Hawa kemiskinan, pengasingan, dan ketidakadilan telah membaur dan mengalihkan perhatian para pengunjung ke arah yang lebih gelap dan keji, sehingga melenyapkan nilai-nilai yang sesungguhnya dari Kota Tua. Aroma tidak sedap makin mengelumuni tempat itu dan sangat menusuk hidung, akibat dari para imigran yang gemar membuang kotoran mereka secara asal. Sudah banyak teguran yang diberikan, tapi itu hanya membuat si penegur menjadi ketakutan dan hidup penuh teror.
 
Banyak bangunan-bangunan bersejarah yang sudah tidak terawat dan tembok-tembok penuh dengan jejak vandalisme, ruang-ruang hijau telah terkikis oleh kegiatan liar dan tidak bertanggung jawab, dan ruang pejalan kaki yang makin hari kian menipis. Tampaknya tempat ini benar-benar sudah ditinggalkan dan diabaikan begitu saja secara keji. Tidak ada komitmen yang serius untuk menjaga atau melestarikan tempat bersejarah tersebut. Hendro yang melihat keadaan itu; dia hanya menaruh belas kasihan kepada warga setempat yang tidak mampu berbuat banyak saat tempatnya dirusak. Seakan-akan harapan mereka telah dibuang ke dalam neraka sedalam-dalamnya, dan hanya dipaksa untuk menyaksikan keindahan konvensional yang heterogen mulai runtuh secara perlahan-lahan.
 
Di tengah perenungan dan perjalanannya di atas trotoar yang berada di depan Pintu Utara Stasiun Kota Tua yang sudah dijamuri oleh para pedagang kaki lima, seketika Hendro mendengar sebuah teriakan tidak ramah kepada dirinya. Saat Hendro melihat asal suara tersebut; dia mendapati seorang pria imigran bertubuh kekar, berwajah menyeramkan, dan melempar tatapan tidak menyenangkan.
 
"Kamu jangan kurang ajar ya! Tahu sopan santun tidak?" bentaknya dengan mata yang membelalak tajam seperti orang hendak membunuh.
 
Awalnya Hendro kebingungan dengan perilaku pria imigran itu. Tetapi setelah Hendro melihat ke arah kakinya, dia mendapati sehelai tikar berwarna gandum dengan motif geometris suku asli benua Amerika yang berwarna merah. Tampaknya pria imigran itu baru saja menggelar tikarnya untuk berjualan di atas tempat yang diperuntukan untuk pejalan kaki. Secara teknis Hendro tidak salah atas kejadian tersebut; lebih-lebih terakhir kali dia berkunjung ke Kota Tua, tempat itu hanyalah sebuah tepi jalan yang kosong, sehingga Hendro tidak tahu bahwa sekarang tempat itu telah berubah menjadi lapak bagi para imigran untuk berjualan. Rasanya Hendro ingin berdebat dengannya; tapi karena dia sering mendengar cerita akan tabiat para imigran yang liar dan buruk; ditambah lagi dia sedang membawa Pricilla yang sedari awal terlihat resah dengan watak pria imigran itu; akhirnya Hendro memilih untuk mengalah dan meminta maaf secara sopan. Sebenarnya Hendro kurang ikhlas saat melakukannya; seolah dia dipaksa untuk membenarkan suatu hal yang salah. Tetapi Hendro juga sadar bahwa berdebat atau sampai berkelahi dengan salah satu dari para imigran, maka itu dapat membahayakan Pricilla.
 
"Makanya pakai mata kalau sedang jalan! Jangan mentang-mentang orang kaya kau!" ujar si pria imigran dengan angkuh dan kasar.
 
Kalimat tersebut membuat Hendro menjadi geram. Akan tetapi Hendro tidak dapat berbuat banyak dan memilih untuk mengubur amarahnya sedalam mungkin. Lantas Hendro segera membawa Pricilla pergi meninggalkan tempat itu. Tanpa mereka berdua sadari, kepergian mereka telah diawasi oleh si pria imigran bersama beberapa temannya. Lebih tepatnya mereka sedang memerhatikan Pricilla dengan tatapan durjana, seakan sedang merencanakan suatu hal yang jahat.
 
Arkian, mereka berdua tiba di satu tempat yang tampak seperti bangunan ruko bergaya peranakan Tionghoa dengan ukuran yang tidak terlalu lebar tapi panjang ke dalam, sehingga terlihat ramping dan anggun dari depan. Sedangkan di depan pintunya terdapat sepasang dekoratif atau pilaster yang terbuat dari balok-balok padat dengan motif gabungan Eropa dan Tiongkok yang antik dan langka. Terlebih dengan jendela-jendela bangunan dengan khas rumah adat Betawi, sehingga membuat bangunan tersebut memiliki nilai heterogen yang memukau, sekaligus menyuguhkan pemandangan Kota Tua kepada orang-orang yang berada di dalamnya. Tempat itu adalah café milik sepupu Pricilla yang baru saja buka dan menerima banyak pengunjung yang sangat antusias.
 
Setibanya di dalam café, lantas ada seorang pria berusia kepala empat yang menyambut kedatangan Hendro dan Pricilla dengan hangat. Dia adalah sepupu Pricilla dan seringkali dipanggil Om Ho. Kalakian Om Ho segera membawa mereka berdua ke lantai dua dan menempatkannya di dekat balkon kecil yang menghadap ke arah Museum Fatahillah dan Gedung BNI, atau mungkin lebih tepatnya ke sebuah jalan tempat Hendro dihujat oleh si pria imigran, sehingga mengembalikan sebuah kenangan buruk ke dalam batinnya. Walakin, semua itu berhasil terobati oleh sajian es kopi kelapa madu dan dilanjut dengan konversasi hangat penuh selingan humor menyegarkan dari Om Ho. Kebersamaan mereka berlangsung cukup lama dan seru, sampai-sampai tidak ada satu-pun dari mereka yang sadar akan beberapa imigran yang sedang mengawasi gerak-gerik Pricilla dari sudut-sudut tempat di luar café.
 
Saat hari sudah senja - sebelum mereka pulang - Pricilla pamit untuk pergi ke toilet yang berada di lantai bawah. Sedangkan Hendro menunggunya sembari berbincang-bincang dengan Om Ho. Tetapi setelah beberapa waktu telah berlalu, Pricilla masih belum kembali dari toilet, sehingga mulai meresahkan batin Hendro. Lantas dia segera menghubungi Pricilla, tapi panggilannya tidak terjawab karena berada di luar jangkauan. Dengan perasaan gamam, Hendro bergegas turun ke lantai bawah dengan ditemani oleh Om Ho yang juga ikut panik, demi memastikan keberadaan Pricilla. Namun nahas, toilet itu telah diisi oleh pengunjung lain dan Pricilla telah menghilang. Walhasil, kepanikan mulai pecah. Om Ho berusaha mencari kesaksian akan keberadaan Pricilla dari para pekerja di cafénya. Arkian, datang dua orang pengunjung yang juga melaporkan kehilangan orang. Mereka adalah seorang perempuan bernama Bu Fatimah yang melaporkan kehilangan putranya, sedangkan yang satunya lagi adalah seorang pria muda bernama Agus yang juga melaporkan kehilangan istrinya. Akhirnya keadaan kian memburuk dan keributan tidak dapat dihindarkan.
 
Selang beberapa waktu kemudian, Om Ho mendapat kesaksian dari salah seorang pekerja cafénya, bahwa dia melihat tiga orang pria berpakaian compang-camping dan memiliki rupa yang seram telah membawa pergi Pricilla bersama dua orang pengunjung lainnya. Tetapi si pekerja café juga bersaksi bahwa mereka berjalan mengikuti tiga pria menyeramkan itu secara sukarela tanpa adanya perlawanan, sehingga dia mengira bahwa mereka saling mengenal. Lantas Om Ho bergegas memeriksa rekaman kamera pengawas di dalam café, dan mendapati sebuah rekaman Pricilla bersama dua orang pengunjung lainnya sedang pergi mengikuti tiga pria itu. Perihal yang ganjil, cara jalan mereka tampak seperti orang yang sedang tidur berjalan. Tidak ada perlawanan atau ketakutan. Bahkan secara sekilas tidak terlihat mencurigakan. Walakin, saat Om Ho memeriksa rekaman lainnya, dia mendapati Pricilla sempat melakukan kontak dengan pria itu saat baru keluar dari toilet. Di sana terlihat Pricilla tidak sengaja menatap mata pria itu, lalu seketika tatapannya jadi kosong - seakan dia terkena hipnotis - dan perilakunya berubah seperti boneka organik. Kejadian serupa juga terjadi pada dua orang pengunjung lainnya. Lantas rekaman kamera pengawas dan kesaksian dari pekerja café tersebut telah menciptakan kesimpulan bahwa Pricilla bersama dua orang pengunjung lainnya telah diculik dengan metode halus yang efektif. Walhasil, mereka bergegas menuju ke kantor polsek terdekat.
 
****
 
Setibanya di kantor polsek terdekat, keadaan di dalam sana sangatlah kacau. Banyak warga yang melaporkan orang hilang - teman ataupun anggota keluarga mereka - ke polisi. Apabila ditotal, rata-rata jumlah orang yang hilang ada 10 orang. Selain itu, beberapa warga juga bersaksi bahwa mereka melihat para imigran sempat melakukan interaksi dengan teman atau anggota keluarga mereka, sebelum akhirnya dibawa pergi ke suatu tempat yang tidak diketahui.
 
"Tenang! Harap tenang! Aku tahu kekhawatiran saudara-saudara! Tetapi apa kalian yakin bahwa pelakunya adalah para imigran?" ujar si polisi yang bertugas menerima laporan warga.
 
"Iya pak! Tetangga dan kerabat kami adalah saksinya! Kami juga sudah bawa mereka ke sini untuk jadi saksi." ujar seorang warga bertubuh gemuk, berkumis tebal, dan berwajah sangar.
 
"Tapi itu masih belum cukup saudara-saudara! Kita tidak hidup di abad pertengahan yang mengatasnamakan saksi mata! Kami juga butuh bukti yang lebih jelas agar bisa menindak lanjuti laporan kalian!" jawab si polisi.
 
"Maksud bapak apa?" tanya salah seorang warga.
 
Arkian, Om Ho berjalan menghadap ke meja polisi dan berkata;
 
"Aku punya bukti rekaman dari kamera pengawas di caféku. Isinya adalah rekaman penculikan sepupuku bersama dua orang pengunjung. Apakah ini sudah cukup untuk memproses laporan kami?" ujar Om Ho sambil menyerahkan sebuah kartu memori dari rekaman kamera pengawas di cafénya.
 
Si polisi terdiam sejenak, lalu dia segera memanggil rekannya untuk memeriksa isi rekaman tersebut. Kemudian mereka bergegas masuk ke ruang pemeriksaan barang bukti. Setelah beberapa waktu kemudian, si polisi kembali ke ruang pelaporan dan bertanya kepada Om Ho;
 
"Apa bapak punya bukti lain?"
 
"Tidak. Hanya itu." jawab Om Ho.
 
"Maaf pak, kami tidak bisa terima rekaman ini. Karena tidak cukup kuat dan tidak menggambarkan aksi penculikan." ujar si polisi.
 
"Kenapa begitu?" tanya Paman Ho penuh kekecewaan.
 
"Karena itu adalah prosedur kami." jawab si polisi.
 
Lantas semua orang yang ada di kantor polsek itu mengamuk sejadi-jadinya. Bahkan Bu Fatimah sampai menggebrak meja polisi sambil berteriak;
 
"Dengar kau pak! Putraku yang berusia tujuh tahun telah diculik!" ujarnya dengan mata berkaca-kaca, "Mungkin sekarang dia masih ada di sekitar tempat ini dan masih hidup. Tetapi aku tidak tahu untuk waktu ke depannya! Apakah kalian baru bertindak setelah putraku sudah tiada?"
 
Perkataan Bu Fatimah kian memprovokasi para warga yang sudah putus asa dan marah, sehingga membuat keadaan di kantor polsek makin memanas dan tidak kondusif. Bahkan para warga mulai mengancam bila polisi tidak segera bertindak, maka mereka sendiri yang akan menindak para imigran tersebut. Alhasil, beberapa anggota polisi mulai berdatangan untuk menenangkan para warga yang mengamuk.
       
Arkian, datanglah beberapa anak kecil yang terlihat histeris ke dalam kantor polsek; mereka melaporkan bahwa semua imigran sedang berkumpul di Gedung Merah bersama orang-orang yang mereka culik; sekaligus melakukan sebuah aktivitas ganjil yang menyeramkan di dalam gedung. Alhasil, para warga semakin heboh dan mulai memaksa para polisi untuk segera bertindak. Namun para polisi masih bersikeras untuk meminta bukti yang lebih kuat, sehingga kekacauan berlangsung untuk beberapa waktu ke depan. Walakin, Hendro bersama dua orang lainnya - pria berwajah sangar dan pria kurus yang berusia belasan akhir - segera meninggalkan kantor polsek dan melaju ke Gedung Merah, sekaligus meminta para anak kecil itu untuk mengantarkannya. Pria berwajah sangar itu bernama Bang Juned; dia ingin segera menyelamatkan putrinya yang masih berusia delapan tahun yang telah diculik dari rumahnya. Sedangkan pria satunya lagi bernama Daus; dia juga ingin menyelamatkan adik perempuannya yang diculik saat dalam perjalanan pulang dari rumah temannya.
 
****
 
Dalam perjalanan mereka menuju ke Gedung Merah, Hendro mendapati sebuah pemandangan ganjil yang mengganggu pikirannya, bahwa keadaan malam di Kota Tua sangatlah sepi, gelap, sunyi, dan menyeramkan bagaikan kota mati. Para imigran yang menjamuri tiap sudut Kota Tua telah menghilang. Keganjilan itu juga mengganggu benak Bang Juned, Daus, dan para anak kecil. Mereka - selaku warga yang tinggal di sekitar Kota Tua - mengaku bahwa fenomena tersebut sangatlah langka sejak kedatangan para imigran lebih dari setengah tahun yang lalu. Padahal para imigran itu sangat senang berkumpul di tiap sudut kota pada malam hari; berteriak, bernyanyi, dan menari seperti orang kerasukan setan; berkumpul-kumpul dalam keadaan berjaga di tiap sudut tempat sambil memainkan instrumen musik murahan yang menakutkan; terkadang juga bercakap-cakap atau berbisik-bisik sembari melempar tatapan tidak wajar kepada orang yang melintas di hadapan mereka. Seakan-akan mereka adalah penguasa baru yang mirip seperti cacing parasit di Kota Tua. Bang Juned juga bersaksi, bahwa perihal yang paling mengganggu dari para imigran itu adalah mata mereka yang dapat bersinar di malam hari; bagaikan binatang nokturnal dan sering menyeringai menakutkan dari dalam kegelapan. Alhasil, tatapan mereka dapat membuat siapa saja jadi bergidik ngeri saat melihatnya. Tidak sedikit warga yang bertanya-tanya; apakah para imigran itu adalah manusia atau suatu entitas yang belum diketahui identitasnya?
 
Selang beberapa waktu kemudian, mereka mendapati sebuah gedung yang terletak di Jalan Kali Besar Barat, dibangun dari batu bata merah dengan arsitektur gabungan Belanda dan Tiongkok bergaya era Renaisans, beserta jendela-jendela bangunan yang terlihat seperti sedang menatap teror. Bangunan itu dikenal sebagai rumah pembantaian warga suku Tionghoa oleh kaum kolonialis dan beberapa penduduk lokal yang telah dicuci otaknya di awal pertengahan abad ke-18. Akibat tragedi tersebut, banyak darah yang memercik dan menodai setiap dinding bangunan, sehingga membuatnya jadi berwarna merah. Sebuah tempat yang paling berdarah di Kota Tua. Walhasil, banyak warga setempat yang menamainya Gedung Merah, sehingga makin menciptakan atmosfer horor pada tempat itu.
 
Setibanya di sekitar Gedung Merah, mereka bertiga segera memantau aktivitas di dalam gedung itu dari kejauhan; dari seberang gedung yang terpisah oleh sebuah jalan raya dan kanal; menjaga jarak demi melindungi eksistensi yang mencolok dari mata para imigran. Tidak tahu pasti apa yang sedang mereka lakukan; yang pasti mereka sedang memasuki ke suatu tempat yang lebih dalam, sehingga tidak mampu dicapai oleh mata telanjang dari luar gedung. Sampai pada akhirnya gedung itu mulai kembali senyap. Setelah hampir setengah jam memantau Gedung Merah dan tidak menemukan tanda-tanda aktivitas, mereka meminta para anak kecil itu untuk segera pergi ke tempat yang lebih aman. Setelah para anak kecil itu pergi; mereka bertiga mulai mendekati gedung itu yang tidak terjaga. Tidak lupa Hendro menyempatkan diri untuk memperingati mereka berdua agar tidak melakukan kontak mata dengan para imigran, karena - berdasarkan rekaman kamera pengawas di dalam café - mereka mampu menghipnotis orang yang menatap matanya. Sesampainya di depan Gedung Merah, mereka mencoba mengintip ke dalam melalui jendela-jendela gedung. Mereka mendapati isi bangunan telah kosong dan terkesan aman. Lantas Bang Juned segera mendorong pintu Gedung Merah yang tidak terkunci itu, dan masuk ke dalamnya.
 
Di dalam sana, mereka bertiga mendapati sebuah persemayaman yang luas dan banyak ruangan; diselimuti oleh sejuta misteri dan kisah tragis. Banyak dari furnitur dan desain arsitektur campuran Belanda dan Asia - terutama Tiongkok - yang nadir. Lantas mereka segera melakukan penelusuran; memeriksa setiap ruangan yang ada; mencari keberadaan para imigran. Sampai pada akhirnya mereka tiba di ruang tengah yang semua dindingnya terisi oleh mural akan simbol-simbol aneh, tulisan dari bahasa asing, dan ilustrasi abstrak yang merindingkan. Bergidik ngeri Hendro saat melihatnya, sampai-sampai dia hanya terpaku serta membiarkan Bang Juned dan Daus menelusuri ruangan tersebut. Arkian, Daus menemukan sebuah tungku perapian yang besar dan berdesain Eropa kuno; di dalamnya terdapat sebuah pintu rahasia yang terbuat dari batu bata yang menyamarkan dan sedikit terbuka; memiliki tinggi sekitar satu setengah meter dan lebarnya satu orang dewasa; mengeluarkan bau amis dupa dan suara keramaian - terdengar secara samar - seperti lantunan eulogi yang merindingkan. Setelah Bang Juned mendorong pintu rahasia itu, lantas raungan angin sedingin es mengalir dengan bengis dari balik pintu; berisi sebuah lorong gelap yang terbuat dari bebatuan granit yang suram dan tebal dengan dataran miring menuju dasar bumi; diselimuti oleh suara samar seperti bisikan, ratapan, dan tawa mengejek; sehingga melumpuhkan nyali mereka untuk beberapa detik.
 
Setelah berhasil kembali mengumpulkan keberanian, mereka mulai memasuki lorong itu dengan orang pertama adalah Bang Juned; kemudian diikuti oleh Daus; hingga yang terakhir adalah Hendro. Mereka berjalan dengan cara merangkak; menelusuri dan menuruni lorong itu dengan perasaan ngeri; dibantu dengan iringan suara yang terdengar seperti nyanyian setan; menciptakan kesan mengerikan; seolah mereka sedang berjalan menuju ke neraka. Hendro adalah orang yang paling gemang di antara mereka bertiga. Tetapi dia berusaha melawan kengeriannya demi menyelamatkan Pricilla, sekaligus bertekad untuk membawanya kembali dengan selamat.
 
Selepas menelusuri lorong yang panjang dan melayuk, akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang luas dan besar; seperti sebuah gua lapang atau katakomba yang bopeng dan meliuk-liuk; terlihat seperti aula arkais yang cacat; diterangi oleh beberapa lilin ritual - di sekitar altar batu yang terletak di tengah katakomba - yang menyala, sehingga pencahayaan sangat remang. Di tempat itulah, dosa kosmis telah merasuk dan berkumpul untuk menodai kewarasan manusia dengan ritus-ritus mengerikan. Di tempat itu jugalah, iblis berkuasa penuh atas kendali segala kehidupan di dalam katakomba. Betapa takjubnya mereka bertiga saat mendapati sebuah aktivitas aneh, seperti sebuah ritual tidak suci dari peradaban purba. Sesuatu yang mengerikan daripada kejahatan apa-pun yang dikecam oleh para tokoh agama dan orang-orang bijak. Di mana mereka bertiga menyaksikan dari mulut lorong dan di balik bebatuan; bahwa seluruh imigran di Kota Tua sedang mengulangi pola naluriah paling gelap dari kebiadaban manusia purba dan pelaksanaan ritual dinamisme yang kelam. Beberapa dari mereka memiliki rupa yang aneh seperti kambing, kera, satir, aegipan, dagon, chimera, siren, vodyanoy, dan berbagai macam bentuk lainnya. Tampaknya mereka semua adalah para imigran yang hidup di dalam katakomba. Dalam ritual ini mereka menyatu dengan sesama mereka yang tinggal di permukaan bumi, sehingga menciptakan kesan fantasi liar dari dunia lain yang horor.
 
Tidak jauh dari sisi kanan altar, terdapat sebuah lahan persembahan yang terbuat dari bebatuan; tepat di depan sebuah lobang yang besar; dengan di atas permukaannya berukir pentagram serta tulisan-tulisan asing seperti mantra. Di tempat itu juga terdapat 10 orang yang diculik; dalam keadaan tangan dan kaki yang terikat; mata mereka ditutup oleh kain berwarna hitam; tampak seperti tawanan; secara samar wajah mereka melukiskan sebuah ketakutan dan keputusasaan; tidak banyak dari mereka yang menangis dan memelas agar dibebaskan. Mereka semua terdiri dari lima orang perempuan dan lima orang laki-laki yang berusia muda; empat di antaranya adalah anak kecil. Saat Daus melihat adik perempuannya ada di antara mereka, lantas dia jadi histeris dan hendak melompat keluar demi menyelamatkannya. Namun tindakan itu berhasil digagalkan oleh Bang Juned dan Hendro; demi mencegah sebuah kejadian yang tidak diinginkan. Mereka berdua berusaha menenangkan Daus dan menasehatinya bahwa itu bukan waktu yang tepat untuk bertindak. Sebab sangat berisiko untuk melawan para imigran secara langsung; karena jumlahnya yang banyak; ditambah dengan cara berkelahi yang brutal dan tidak manusiawi, sehingga mereka dapat membunuhnya dalam sekejap. Alhasil, Daus yang panas itu mulai menenang dan mengawasi aktivitas mereka, bersama Hendro dan Bang Juned dari balik bebatuan katakomba di depan mulut lorong menuju keluar.
 
****
 
Tidak lama kemudian, dari balik altar datanglah seorang pria berkulit hitam tapi bukan dari ras negroid, bertubuh ramping, dan menyeramkan. Pria Hitam itu mengenakan jubah yang juga berwarna hitam dengan simbol bulan dan pentagram. Lantas dia naik ke atas panggung dan berdiri di belakang altar; sedangkan para hadirin mulai berdiri dan melemparkan nyanyian mengerikan serta suara ratapan atau rintihan pengabdian seremonial yang dilayangkan kepadanya. Kemudian Pria Hitam itu mulai berujar dengan suara yang lantang;
 
"Wahai saudara-saudara malam, engkau yang bersukacita di bawah bulan pucat dan di atas jeritan air (dijawab oleh suara seruling yang meledak), yang berkeliaran di bawah matahari (dijawab oleh suara lolongan yang bersaing dengan jeritan mengerikan), yang berkeliaran di tengah bayangan malam (dijawab oleh suara cekikikan yang merindingkan), yang berhasil mengusir dan meneror manusia (dijawab oleh suara mendesah durjana), yang mengakui Raja Hijau sebagai sebagai satu-satunya Dewa kalian (dijawab oleh sorak gembira)!"
 
Kemudian Pria Hitam itu mulai melantunkan sebuah doa yang diikuti oleh para hadirin dengan suara yang sangat antusias.
 
"Raja Hijau di Angkaramerta, akan bangkit pada waktunya. Membawa kebesaran bagi seluruh makhluk hidup di alam semesta. Tiada Dewa yang hebat selain Raja Hijau di Angkaramerta. Raja Hijau yang agung, terimalah persembahan dari para hamba-Mu ini."
 
Hendro bersama Daus dan Bang Juned hanya bisa menyaksikan mereka dengan terheran-heran dan penuh perasaan tidak nyaman. Bahkan Bang Juned sampai beberapa kali menyebut istighfar, sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Sedangkan para tawanan tampak histeris; para perempuan dan anak kecil mulai menangis memohon pertolongan; para pria hanya bisa berteriak dengan nada yang penuh keputusasaan. Arkian, setelah semua selesai membacakan doa, Pria Hitam itu segera memanggil nama "Lugat" dengan nada yang lantang dan penuh karisma. Tidak lama kemudian, muncul lima sosok dari dalam lubang besar. Mereka terlihat tidak manusiawi, tapi memiliki rupa yang mendekati manusia. Memiliki tinggi lebih dari dua meter. Bergerak secara bipedal dan tubuhnya agak merosot ke depan. Memiliki rahang seperti anjing serigala yang samar dan tidak manis untuk dilihat. Salah satu dari para Lugat itu memiliki tubuh yang besar dan berwarna lebih gelap daripada yang lain; serta semua Lugat itu tunduk kepadanya; seakan dia adalah pemimpin mereka. Itu adalah sebuah kegilaan dan kengerian yang pernah disaksikan oleh Hendro, Bang Juned, dan Daus.
 
Lugat Gelap itu mulai mendekati 10 orang tawanan; mengamati mereka dengan mata yang merindingkan; lalu dia memilih lima orang dari mereka untuk disantap lebih dulu. Lantas para Lugat itu mulai memisahkan lima orang yang dipilih dari tawanan lainnya, lalu membuka kain penutup mata mereka, demi memberikan sebuah perpisahan yang mengerikan. Alhasil, mereka yang melihat langsung wajah Lugat akan menjerit histeris kesetanan, sampai akhirnya mereka dicabik-cabik dan pecahan tubuhnya disantap dengan beringas oleh para Lugat. Para tawanan lainnya hanya bisa menangis ketakutan, sambil mendengar jeritan dari orang yang sedang dimakan hidup-hidup. Hendro bersama Bang Juned dan Daus hanya bisa menyaksikan adegan horor itu dari persembunyian mereka; tanpa bisa membayangkan betapa mengerikan dan tidak manusiawi ritual itu. Bang Juned yang sangar sampai membacakan doa - secara berbisik dan terbata-bata - dengan tubuh yang menggeligis. Sedangkan Daus hanya bisa terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa dengan wajah yang sangat pucat. Lebih-lebih Hendro yang nyaris pingsan saat melihat pembantaian tersebut.
 
Setelah para Lugat selesai menyantap lima orang tawanan tersebut; sehingga hanya menyisakan pakaian robak-rabik dan tulang belulang yang tidak utuh; lantas bercak-bercak darah mereka yang menodai tanah dan mulai mengalir masuk ke dalam sela-sela ukiran simbol pentagram beserta tulisan mantra. Tampaknya darah segar yang menjerit itu telah diterima oleh Dewa yang mereka sembah, sehingga ukiran itu mulai menciptakan sebuah luminositas secara gaib dengan warna hijau yang mencolok. Para hadirin di ruangan itu mulai menatap penuh antusias dan rasa takjub ke arah cahaya tersebut. Sedangkan Hendro, Bang Juned, dan Daus hanya melihati fenomena itu dengan penuh kengerian yang sulit dijelaskan oleh kata-kata.
 
"Raja Hijau telah menerima persembahan kita! Berbahagialah... wahai saudara-saudara malam! Sebentar lagi Raja Hijau akan menampakkan diri-Nya untuk memberi wahyu kepada kita!" teriak Pria Hitam yang disambut sukacita oleh para hadirin.
 
Kemudian para Lugat mulai melirik sisa para tawanan. Mereka yang tersisa adalah Pricilla, adik perempuan Daus, putri Bang Juned, putra Bu Fatimah, dan istri Agus. Karena tidak ingin hal serupa terjadi; lantas mereka bertiga melompat keluar dari persembunyiannya - mengabaikan nasehat serta rasa ngeri - lalu berlari menerobos kerumunan dan melaju ke tempat pengorbanan. Tetapi nahas, para hadirin berhasil menahan Daus dan Hendro, sekaligus melumpuhkannya ke atas tanah. Sedangkan Bang Juned yang memiliki ilmu pencak silat; dia mampu menghindari semua serangan mereka. Tetapi saat hampir tiba di tempat putrinya ditawan, Lugat Gelap berhasil memukul tubuhnya hingga terpental ke dinding katakomba. Meski upaya penyelamatan telah gagal, tapi itu berhasil memberi setitik harapan bagi para tawanan yang mengenali suara mereka bertiga, sehingga mulai berteriak meminta tolong dan memanggil mereka bertiga dengan nada yang intens. Arkian, mereka bertiga dikumpulkan dan diikat; lalu dibawa ke hadapan Pria Hitam yang sedang berdiri di depan altar.
 
"Siapa saudara-saudara ini? Mengapa kalian berani mengganggu ritual suci kami?" tanya Pria Hitam.
 
"Kami adalah kerabat dan keluarga daripada orang-orang yang kalian culik!" jawab Daus dengan emosional.
 
"Oh, jadi begitu. Seharusnya kalian berbahagia karena kerabat dan keluarga kalian telah terpilih menjadi tumbal untuk Raja Hijau yang agung. Aku berani menjamin, mereka tidak akan mati sia-sia. Mereka akan hidup di alam yang lebih indah bersama-Nya." balas Pria Hitam.
 
"Hentikan omong kosongmu itu!" teriak Hendro, "Apakah kalian sudah tidak waras? Bagaimana kami bisa bahagia jika orang yang kami cintai mati dengan cara seperti itu? Kalian memang bukan manusia... jadi kalian tidak paham akan kehilangan dan duka kami!"
 
"Ritual untuk Dewa Raja Hijau? Apa kamu bercanda? Mana Dewa macam itu! Kalian itu hanyalah penjahat! Pembunuh! Orang-orang sinting! Enyah dari tanah kami!" teriak Bang Juned.
 
Lantas mereka bertiga melempar cacian ke Pria Hitam, tanpa melakukan kontak mata dengannya. Pria Hitam yang menyadari hal itu mulai kembali berbicara;
 
"Tampaknya orang-orang kafir ini tidak tertolong." ujarnya sambil menatap para hadirin, "Wahai saudara-saudara malam dan pengikut setia Raja Hijau! Apakah yang harus kuperbuat untuk para kafir ini?"
 
Pertanyaan itu dijawab dengan teriakan yang meminta untuk segera mengeksekusi mereka bertiga. Lantas Pria Hitam yang mendengar jawaban itu segera menjawab;
 
"Baiklah. Kita jadikan mereka bertiga sebagai tumbal pengganti dari tiga orang yang mereka kenal! Mereka-mereka yang batal ditumbalkan, maka akan menjadi anggota baru kami! Semoga Raja Hijau berkenan untuk menerimanya (segera disambut riang gembira)."
 
Lantas, para hadirin di katakomba itu langsung menyeret tubuh mereka bertiga ke hadapan para Lugat. Setibanya di sana, Lugat Gelap lantas memilih Daus dan mengangkat tubuhnya ke atas udara, serta menatapnya dengan bengis. Akan tetapi, itu tidak menggetarkan Daus yang berani meludahi muka Lugat Gelap sambil melempar tatapan menghina. Alhasil, Lugat Gelap itu murka dan memecahkan kepala Daus dengan kepalan tangannya; lalu membagikan ke Lugat lainnya untuk dikonsumsi bersama. Kalakian para Lugat itu melucuti pakaian Daus; dengan keji mengulitinya; merobek dari otot ke otot lainnya; mengirim sebagian besar organ dalamnya ke tanah dalam keadaan berantakan dan mengganggu; mematahkan tulang-tulangnya; memakan dagingnya dengan buas dan berebutan.  Adik perempuan Daus sangat histeris dan memanggil-manggil kakaknya, selama mendengar suara pembantaian itu. Kedua matanya masih tertutup oleh kain hitam dan itu lebih baik untuknya; karena dia bisa menjadi gila jika melihat adegan horor tersebut. Sedangkan Bang Juned dan Hendro hanya bisa tergemap ngeri selama menyaksikannya. Bahkan di sela waktu, Hendro mendapati Pricilla yang menangis ketakutan dan memanggil namanya, karena takut dan tidak tahu dengan perihal yang sedang terjadi.
 
Setelah para Lugat selesai menyantap tubuh Daus tanpa sisa; bercak-bercak darahnya yang menodai tanah yang bergambar pentagram tersebut, kembali menambahkan luminositas; tapi tidak banyak karena darahnya yang segar tidak menjerit. Alhasil, para hadirin yang ada di katakomba tidak seantusias dan sedikit kecewa. Lantas Pria Hitam segera memberi teguran kepada Lugat Gelap dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh siapa-pun sehingga membuatnya takut.
 
Arkian, Lugat Gelap segera memilih Hendro sebagai tumbal selanjutnya, serta mengangkat tubuh Hendro ke atas udara dan memberikan sebuah tatapan terkutuk, serta mulut yang masih berlumuran darah segar dan menyeringai mengerikan.
 
"Apa yang kau lihat?" tanya Hendro dengan penuh kebencian dan menyembunyikan rasa takutnya.
 
Alih-alih menghancurkan kepalanya seperti Daus, Lugat Gelap itu meraih kaki kanan Hendro, lalu mematahkan tulang kering dan betisnya, sampai membuat darahnya bercucuran, sehingga membuat dirinya menjerit sakit yang memilukan. Suara jeritan itu berhasil membuat Pricilla ikut menjerit histeris seperti orang yang kesetanan dan memohon agar pacarnya tidak disakiti.
 
Tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api dan sebuah gertakan;
 
"Ini Polisi! Kami perintahkan kalian semua untuk berhenti dan segera menyerahkan diri!"
 
Tim khusus polisi bersenjata lengkap telah tiba di katakomba. Lugat Gelap segera membuang tubuh Hendro yang tidak berdaya itu dan bergegas lari masuk ke dalam lubang besar bersama kawanannya. Para polisi yang melihat eksistensi Lugat, lantas bergidik ngeri sambil menatap tidak percaya. Ditambah dengan kemunculan cahaya hijau yang misterius; belum lagi dengan sosok dari para penghuni katakomba yang memiliki rupa aneh dan mengerikan; sehingga merosotkan nyali mereka. Para hadirin yang melihat kedatangan para polisi itu, mereka segera melancarkan serangan beringas dan disambut oleh tembakan dari para tim khusus polisi. Tetapi nahasnya, mereka memiliki fisik yang kuat. Meskipun peluru tajam dapat melukai mereka, tapi tidak membuat mereka lumpuh. Setelah melihat itu, seorang pemimpin tim khusus polisi bergegas menghubungi rekannya untuk segera mengirim bala bantuan dengan jumlah yang banyak, beserta bersenjatakan peluru kaliber yang lebih besar. Alhasil, seraya menunggu bantuan tiba, terjadilah huru-hara di dalam katakomba yang tidak dapat dihindarkan dan berlangsung sangat ricuh. Mereka melempar pukulan dan tendangan; cakaran dan gigitan beringas; hingga upaya menghipnotis demi membuat para polisi untuk melakukan aksi bunuh diri. Tetapi beruntung para polisi dengan sigap melakukan pencegahan yang cerdik. Namun karena kalah jumlah dengan para hadirin di katakomba, sehingga memberikan keadaan yang tidak baik bagi tim khusus polisi. Walhasil, tidak sedikit anggota mereka yang mengalami cedera dan sekarat.
 
Bang Juned yang melihat situasi yang kacau itu, dia segera melepas ikatannya dan bergegas memeriksa keadaan Hendro. Untungnya dia masih dalam keadaan sadar, tapi luka di kaki kanannya sangat parah dan harus segera diobati. Lantas Bang Juned segera melepas jaket hitamnya, lalu mengikat luka di kaki Hendro demi menghentikan pendarahan. Arkian, Bang Juned bergegas pergi ke para tawanan untuk segera melepaskannya. Saat hendak melepas ikatan mereka, seketika ada sebuah tendangan ke arah titik butanya, sehingga membuat Bang Juned terpental dan tidak sadarkan diri. Lantas semua orang yang mendengar itu menjerit panik - terutama putrinya - tidak terkecuali Hendro yang mendapati sebuah wajah tidak asing dari si penyerang tersebut, yaitu si pria imigran yang menghujat dirinya.
 
Pria imigran itu segera berjalan mendekati Bang Juned yang masih terkapar di tanah dan berusaha mengumpulkan kesadarannya. Hendro berusaha berteriak memanggil Bang Juned - berharap agar dia segera sadar dan berlindung diri - tapi itu semua sia-sia. Setibanya di hadapan Bang Juned; lantas si pria imigran langsung menginjak lehernya dengan keji hingga sesak nafas; lalu menghunus sebuah pisau belati yang sedikit melengkung dan setengah bergerigi. Saat dia hendak menikam perut Bang Juned, seketika terdengar tiga letusan tembakan; mengenai punggung dan tangannya yang sedang menggenggam pisau. Meskipun tembakan tersebut tidak membunuhnya, tapi itu berhasil membuatnya kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan pisaunya ke atas tanah, sekaligus menyelamatkan nyawa Bang Juned. Alhasil, pria imigran itu menggeram kesakitan, lalu menoleh ke arah suara tembakan itu datang dan mendapati Hendro yang sedang mengarahkan mulut senapan yang diambil dari seorang polisi yang tergeletak tak sadarkan diri di sampingnya. Lantas dia kian mengamuk dan mulai melaju kencang ke arah tempat Hendro berada. Hendro segera menarik pelatuk, tapi nahas dia kehabisan peluru. Ditambah kaki kanannya yang patah - kian memperburuk keadaan - membuat dirinya tidak dapat menghindari serangan pria imigran itu. Dengan penuh amukan dan serangan membabi buta, dia terus menendang dan memukuli Hendro dengan bengis. Tidak jarang dia menyakiti Hendro melalui luka di kakinya, sehingga menciptakan alunan jerit kesakitan yang memilukan. Pricilla yang mendengar suara jeritan Hendro, dia berusaha keras melepas ikatan di tubuhnya; berharap untuk membantu dan melindungi pacarnya. Namun nahas, ikatannya terlalu kuat, sehingga itu hanya melukai tubuhnya. Di dalam keadaan yang sekarat, Hendro menyempatkan diri untuk tertawa dan mengejek pria imigran itu.
 
"Kukira kau sangat kuat. Ternyata kau jauh lebih lemah daripada yang kubayangkan." ujar Hendro.
 
Si pria imigran menjadi terprovokasi dan mengamuk. Lalu dia langsung mencekik leher Hendro tanpa ampun. Di sisa kesadaran yang menipis, Hendro kembali mencemoohnya;
 
"Kau memang miskin! Miskin moral... miskin kekuatan... makhluk yang menyedihkan!"
 
Setelah mendengar itu, si pria imigran kian menguatkan cekikannya sembari melempar tatapan murka yang terkutuk. Tetapi itu tidak menggetarkan nyali Hendro yang terlihat sangat puas, karena sudah membalas cacian pria imigran itu. Tiba-tiba terdengar suara tempurung tengkorang yang rusak, beserta suara daging yang dihunjam. Saat Hendro kembali mempertegas penglihatannya, dia mendapati kepala pria imigran itu telah terbelah setengah - secara vertikal - oleh sebuah pisau miliknya sendiri, membiarkan darah yang seperti lumpur menjijikan bercucuran. Kemudian dia ambruk dengan pisau yang masih tertanam di kepalanya; terkapar di atas tanah dengan tubuh kejang-kejang. Di belakang si pria imigran telah berdiri Bang Juned dengan nafas beratnya yang tidak beraturan. Dia baru saja membelah kepala salah seorang imigran yang sangat dibencinya, untuk pertama kali dalam seumur hidupnya.
 
"Aku telah berhutang nyawa denganmu. Kini aku sudah melunasinya." ujar Bang Juned.
 
Di waktu yang bersamaan, bala bantuan dari tim khusus polisi telah datang dengan jumlah yang banyak dan bersenjatakan lengkap dengan peluru kaliber yang lebih besar. Alhasil, kedatangan mereka berhasil membalikkan keadaan dan memukul mundur semua makhluk yang ada di katakomba. Mereka tidak sanggup menahan timah panas besar yang dimuntahkan oleh para polisi. Meskipun itu masih belum membunuhnya, tapi itu sudah memberikan luka berat yang membuat mereka sekarat. Walhasil, mereka lari berhamburan tidak keruan dan memasuki tiap lubang yang ada di katakomba dan menghilang di dalamnya, sembari membawa sesamanya yang sekarat. Sedangkan para polisi berusaha mengejar dan menangkap mereka dengan berbagai cara. Alhasil, para polisi berhasil menangkap sekitar lima imigran yang tertinggal.
 
****
 
Ketika keadaan tampak aman, para polisi mulai melepas ikatan para tawanan dan sekaligus mengobati yang terluka. Pricilla yang baru saja terlepas dari ikatannya, dia segera menghampiri Hendro dan memeluknya sambil menangis seperti anak kecil, sehingga membuat suasana menjadi emosional. Begitu juga dengan Bang Juned yang berhasil bertemu kembali dengan putrinya. Tampaknya dibalik wajah Bang Juned yang sangar, dia memiliki sisi hati yang lembut dan penyayang. Sayangnya reuni yang emosional itu terhenti, ketika para polisi meminta semua orang - terutama perempuan dan anak-anak - untuk segera dievakuasi ke permukaan. Walhasil, Pricilla dan putri Bang Juned harus meninggalkan katakomba terlebih dulu bersama para tawanan lainnya, meninggalkan Hendro yang sedang diobati oleh seorang anggota tim khusus polisi yang membawa peralatan medis dengan ditemani oleh Bang Juned.
 
Setelah polisi itu berhasil menghentikan pendarahan dan menutup luka di kaki Hendro; dia bersama Bang Juned segera merangkul dan mengevakuasinya. Akan tetapi - saat baru beberapa langkah - seketika polisi yang merangkul tubuh Hendro menjerit kesakitan dan roboh. Sontak semua orang yang ada di tempat itu - terutama Hendro dan Bang Juned - terkejut dan segera melihat polisi itu, serta mendapati punggungnya telah tertusuk oleh sebuah pisau. Lantas mereka segera melihat ke arah yang berlawanan dan mendapati si pria imigran sudah kembali bangkit dan berdiri tepat di belakang mereka berdua dengan kepala yang masih terbelah setengah. Dia tertawa dengan nada yang sangat menyeramkan, sembari melempar sebuah tatapan penuh kegilaan yang tidak manusiawi. Adegan itu kian membuktikan bahwa dia sama sekali bukan manusia. Walhasil, semua orang yang melihat kejadian itu jadi bergidik ngeri.
 
Lantas pria imigran itu segera mencekik leher Hendro dan Bang Juned, lalu menyeretnya ke atas tanah berukir - tempat penumbalan - yang masih memancarkan luminositas hijau, sambil berkata dengan nada aneh;
 
"Ritual ini... harus sempurna! Kalian berdua... akan menjadi tumbal... penutup dari ritual ini!"
 
Para polisi yang melihat itu segera berdatangan dan memukuli sekujur tubuh si pria imigran dengan senjata mereka. Namun dia tampak kuat dan tidak memberi reaksi apa-apa terhadap setiap serangan yang diberikan oleh para polisi itu. Bahkan si pria imigran berhasil menyapu bersih para polisi di sekitarnya dengan siku dan kedua tangan yang masih mencekik leher Hendro dan Bang Juned. Arkian, salah seorang polisi memberanikan diri untuk menembak kedua tangan pria imigran itu sampai putus, sehingga membebaskan mereka berdua dan segera menjauhkan dari hadapannya. Lantas para polisi segera menghujani peluru tajam ke tubuh si pria imigran hingga hancur. Namun - dalam keadaan tubuhnya yang berantakan - si pria imigran masih dapat berdiri dan bergumam tidak jelas, sehingga membuat semua orang menjadi takjub dan ngeri melihatnya.
 
"Kurang ajar... kalian... akan membayar... atas... perbuatan kalian!" ujarnya dengan nada sekarat.
 
"Ritual ini telah gagal, saudara malamku." ujar Pria Hitam yang muncul secara tiba-tiba di depan altar dan di tengah-tengah para tim khusus polisi, "Kamu telah menodai darah persembahan yang sakral untuk Raja Hijau. Apakah kamu tahu konsekuensinya?"
 
Lantas pria imigran itu menoleh ke tanah yang dia pijak, dan mendapati bahwa darahnya yang seperti lumpur telah bercucuran; menodai darah merah segar yang berada di dalam ukiran simbol pentagram dan tulisan mantra. Seketika dia mulai histeris setelah melihat itu.
 
"Tidak... tidak! Maafkan aku... maafkan aku!" teriak ketakutan si pria imigran, "Ampunilah hamba-Mu ini... Raja Hijau yang agung! Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi!"
 
Kemudian cahaya luminositas yang keluar dari dalam ukiran simbol itu mulai berubah warna menjadi lebih suram dan menakutkan.
 
"Phirethotep... tolong! Tolong aku Phirethotep!" teriak si pria imigran penuh keputusasaan ke Pria Hitam.
 
Tiba-tiba tubuh pria imigran itu mulai berputar dengan sendirinya; mematahkan tulang-tulangnya; merobek-robek tendon dan ototnya; hingga menjadi sebuah bentuk yang tidak keruan. Arkian, keluarlah sebuah tentakel besar dari dalam mulutnya dan memecahkan kepala pria imigran itu secara bertubi-tubi; lalu menghilang bersama cahaya luminositas - dari ukiran simbol - secara ganjil; meninggalkan tubuh si pria imigran yang hancur.
 
Semua orang yang menyaksikan peristiwa horor itu, hanya bisa berucap istighfar sambil bergidik ngeri. Setelah itu, pandangan mereka berpaling ke Pria Hitam yang sedang berdiri di depan altar. Para polisi itu tampaknya sangat terkejut dengan kehadirannya, karena dia menghilang selama huru-hara; lalu muncul secara tiba-tiba di tengah-tengah mereka. Lantas para polisi itu mengarahkan senapan dan memintanya untuk segera menyerahkan diri. Tetapi Pria Hitam langsung menyemburkan sebuah kekuatan magis yang tampak seperti sinar kosmik berwarna campuran dan butiran pasir kristal, sehingga melempar orang di sekitarnya dan diikuti oleh suara dentuman gemuruh seperti akan menghapus alam semesta. Sinar itu menciptakan sebuah bayangan phantasmagoria akan sosok raksasa tanpa rupa yang mengerikan - sangat mengerikan daripada apa yang dapat dibayangkan - dan abstrak. Semua orang yang melihat sosok itu menjadi bergidik ngeri; menjerit histeris; hingga membuat pingsan bagi yang tidak kuat mental. Kemudian sosok itu meraung murka dengan suara seperti trompet sangkakala yang merindingkan; lalu terbang ke atas langit dan menggeliang seperti ular; kalakian masuk ke dalam sebuah lobang di dinding katakomba dan menghilang tanpa jejak secara ganjil. Pada saat itu juga, seluruh fenomena horor memudar menjadi ketiadaan di mata Hendro. Dia pingsan di tengah kekacauan yang masih berlangsung.
 
****
 
Itulah yang dikenang Hendro. Dia masih memiliki nasib yang beruntung karena berhasil keluar dari neraka itu dengan selamat, dan tersadar dari pingsannya saat sudah berada di rumah sakit; dikelilingi oleh Pricilla bersama keluarganya dan Om Ho. Arkian, Hendro juga mendapatkan sebuah cerita menarik, bahwa dalang dari operasi penyelamatan oleh tim khusus polisi adalah Agus; salah seorang pengunjung café yang kehilangan istrinya; sekaligus anak dari seorang tokoh penting di tubuh pemerintah pusat. Dia sangat kecewa karena polisi yang tidak dapat bertindak, sehingga dia segera menghubungi orang tuanya. Alhasil, orang tua Agus segera menghubungi beberapa orang kenalannya di tubuh polda setempat untuk menerjunkan tim khusus demi melakukan pencarian dan penyelamatan besar-besaran. Selain itu, keberhasil para tim khusus polisi dalam menemukan keberadaan mereka di katakomba adalah berkat kesaksian dari para anak kecil yang mengantarkan Hendro, Bang Juned, dan Daus ke Gedung Merah. Para anak kecil itu merasakan atmosfer yang berbahaya dari dalam gedung, sehingga menciptakan kekhawatiran akan orang yang masuk ke dalam tidak dapat keluar lagi. Saat melihat para tim khusus polisi yang sedang konvoi, lantas mereka segera mencegat dan melapor, serta mengantarkannya ke Gedung Merah.
 
Peristiwa dahsyat itu tentu berhasil mencuri banyak perhatian. Dimulai dari kasus penculikan massal; para imigran gelap yang masuk secara ilegal; keberadaan kultus sesat dengan ritual menyeramkan yang memakan korban jiwa; operasi dari tim khusus polisi yang menuai dukungan dan kecaman; banyaknya korban luka, sekarat, hingga gangguan mental dari pihak polisi dalam operasi tersebut; hingga kesaksian aneh selama penyelamatan para korban penculikan yang sangat mencuri perhatian publik. Banyak pihak yang menanggapi peristiwa tersebut; dari tokoh masyarakat, para cendekiawan, para ahli dan pengamat, hingga tokoh-tokoh politik; mereka semua berlomba-lomba mengeluarkan pernyataannya masing-masing. Suasana kian memburuk sewaktu semua imigran yang berhasil ditangkap oleh tim khusus polisi telah melakukan aksi bunuh diri massal, dengan menghancurkan kepala mereka ke dinding dan lantai penjara, tepat sebelum dilakukan interogasi. Walhasil, pihak polisi tidak dapat menggali informasi lebih dalam mengenai asal-usulnya, keberadaan sesamanya, aktivitasnya, dan sebagainya.
 
Semenjak peristiwa di Gedung Merah, para imigran sudah tidak lagi menunjukkan eksistensi mereka di Kota Tua, seakan menghilang begitu saja tanpa jejak. Namun begitu, pihak polisi masih tetap melakukan pengejaran terhadap para imigran dan Pria Hitam yang masih bebas. Sedangkan para warga setempat mulai beraktivitas seperti semula; seperti sebelum kedatangan para imigran. Bang Juned kembali melakukan aktivitas kesehariannya sebagai penjual sirup di Jalan Pintu Kecil bersama putrinya. Agus kembali menjalani kehidupan rumah tangga bersama istrinya, dan dia sempat mengirimkan buah-buahan ke Hendro sebagai ungkapan terima kasihnya. Bu Fatima juga sama; dia kembali menjalankan keseharian bersama putranya. Namun berbeda dengan adik perempuan Daus yang berada di dalam keadaan tidak baik; mentalnya terguncang setelah mengetahui kematian kakaknya, meskipun dia tidak menyaksikan secara langsung proses eksekusinya yang mengerikan. Begitu juga dengan Pricilla; dia mengalami trauma akan penculikan yang dialaminya; tapi akan terlihat lebih stabil jika dibandingkan dengan trauma yang dialami Hendro. Sebab Pricilla telah melewati banyak momen horor dan teror yang telah disaksikan oleh Hendro, sehingga itu sangat menjaga kestabilan mentalnya. Tampaknya aksi heroik Hendro tidak membuat dirinya tampil sebagai seorang pahlawan, melainkan seorang penyintas dari kegilaan kosmis yang frontal. Kini Hendro harus hidup dengan penuh ketakutan; takut akan bangunan tua dan kosong; takut akan ruang bawah tanah; takut terhadap orang asing; serta takut akan sebuah misteri alam semesta yang belum dipahami oleh manusia.
 
Begitu-pun dengan Gedung Merah yang selalu sama; para iblis kegelapan masih berdiam di dalam bangunan itu; teror sering muncul dan hilang secara tak terduga. Cerita-cerita horor seputar Gedung Merah masih berlangsung dan terus berkembang; meskipun sekarang tempat itu sudah ditutup dari aktivitas umum. Banyak orang yang sering melihat wajah-wajah aneh dan mengerikan dari dalam Gedung Merah setiap malamnya. Salah satu peristiwa segar telah terjadi pada Bang Juned. Dia mendapati seorang pejalan kaki yang mengalami kecelakaan, akibat tidak sengaja melihat sebuah penampakan wajah mengerikan yang mengintip dari balik jendela Gedung Merah, sehingga membuatnya berlari tanpa memerhatikan keadaan sekitar. Apabila si pejalan mendeskripsikan wajah yang dilihatnya; Bang Juned dapat mengambil gambaran bahwa itu adalah Lugat. Tampaknya para Lugat telah keluar dari lubang persembunyiannya di katakomba, dan mengintai setiap orang yang melintasi Gedung Merah, serta menanti mereka lengah untuk diculik dan dimangsa.
 
****

Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
12 September 2021
LAPORKAN KONTEN
Alasan