Mohon tunggu...
Elly Suryani
Elly Suryani Mohon Tunggu... Human Resources - Dulu Pekerja Kantoran, sekarang manusia bebas yang terus berkaya

Membaca, menulis hasil merenung sambil ngopi itu makjleb, apalagi sambil menikmati sunrise dan sunset

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Mengenang Sapardi pada Sebuah Pertemuan tentang Pempek

20 Juli 2020   10:19 Diperbarui: 20 Juli 2020   11:51 211
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Foto: Dok.Posma S | Pertemuan Kompal

Kalau boleh, saya ingin berkata kepada mereka yang katanya membenci senja, secangkir kopi dan hujan pada sebuah karya sastra, betapa lucu kalian. Sebab senja, secangkir kopi dan hujan bukan simbol kelemahan manusia, bukan pula simbol kelemahan sebuah karya sastra.

Semua tergantung pada kedalaman, juga pengolahan rasa. Kalian yang tak pandai mengunyah dan merasai sense itu. Mungkin mereka sedang bosan saja. Entahlah.

Senja, secangkir kopi dan hujan tak melulu tentang cinta dan remeh-temeh seputarnya. Kadang dan bahkan sering tentang Tuhan, perjuangan, patriotisme bahkan humanisme terdalam seorang manusia.

Adalah Sapardi Djoko Damono sastrawan yang mempunyai rasa yang "dalam" itu. Seorang yang bisa mengubah senja, secangkir kopi dan hujan yang kata banyak orang meallow dan sendu itu jadi  kesenduan dan rasa menggelegar. 

Maka kemarin, ketika hujan sedang mengucur deras di bulan Juli ini, saya mengenang Sapardi di perjalanan menuju sebuah pertemuan kearaban kami.

Pertemuan tentang meramu, mengolah daging ikan lokal di Palembang... menjadi penganan yang kau kenal sebagai pempek.

Ya Agenda Kompal yang sekaligus menjadi agenda Kompasiana dengan judul "Membuat Pempek Palembang dengan Ikan Gabus". 

Sumber Foto: Dokpri
Sumber Foto: Dokpri
Sumber Foto : Dokpri
Sumber Foto : Dokpri
Sumber Foto: Dokpri
Sumber Foto: Dokpri
Sumber Foto: Dokpri
Sumber Foto: Dokpri
Sumber Foto: Dokpri
Sumber Foto: Dokpri
Maka pempek di bulan Juli ini makin syahdu sambil mengenang Sapardi. Bagi kami, dengan momen apapun, selalu ada ruang untuk pempek. 

Sumber Foto : Dokpri
Sumber Foto : Dokpri
Sumber Foto : Dokpri
Sumber Foto : Dokpri
Sumber Foto: Dokpri
Sumber Foto: Dokpri
Selamat jalan maestro sastra hujan, hujan dan secangkir kopi. Yang abadi adalah Dia. Yang fana adalah kita dan sang waktu.

Termasuk kopi, pempek yang kemarin kami buat dan kami nikmati bersama. 

Pempek fana Kompal yang lezat. Tambah lezat karena obrolan dan aneka makan minuman lain. Secangkir kopi hitam dalam wadah batok kelapa buatan bu Dues juga sedapnya bukan main. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun